Wiranto vs Pigai Lempar-lemparan “Ular”

Wiranto vs Pigai Lempar-lemparan “Ular”
Natalius Pigai kritik Wiranto terkait komentarnya terhadap simpang siur aksi pelemparan ular di asrama mahasiswa Papua di Surabaya (Foto: istimewa)
3 minute read

“Jangan menghindari ketidakmampuan pemimpin melindungi dan menghadirkan rasa aman bagi warga negara”. – Natalius Pigai, mantan Komisioner Komnas HAM


PinterPolitik.com

Persoalan konflik Papua yang beberapa waktu lalu berawal dari aksi rasisme di Surabaya memang telah mereda. Namun, bara-baranya seolah tak mau juga padam. Ibaratnya api dalam sekam, nggak kelihatan tapi panasnya tetap ada euy.

Yang terbaru, kritikan datang dari mantan Komisioner Komnas HAM sekaligus putra asli Papua, Natalius Pigai. Pria yang sering wara-wiri di stasiun-stasiun televisi ini mengkritik Menko Polhukam Wiranto yang disebutnya sedang mempertontonkan ketidakmampuannya melindungi dan menghadirkan rasa aman bagi warga negara.

Pasalnya, Wiranto sebelumnya mengomentari kabar pelemparan ular ke asrama mahasiswa di Papua dengan menyebutnya sebagai isu yang dibuat-buat agar kembali melahirkan keributan. Wiranto bahkan menyebutkan bahwa isu tersebut “tak perlu didengarkan”.

Apa yang diungkapkan oleh Wiranto emang sesuai dengan keterangan pihak kepolisian. Bahkan, lebih parahnya lagi, polisi menyebut kabar itu sebagai hoaks.


Beh, seriusan nih pak? Soalnya di beberapa media, ada loh keterangan dari mahasiswa yang menyebutkan bahwa asrama mereka dilemparkan ular oleh beberapa orang tak dikenal. Bahkan foto-foto dan videonya telah beredar di media sosial.

Makanya nggak heran kalau Bang Natalius sampai melempar balik “ular” komentar ke Wiranto.

Soalnya nih, taktik melemparkan ular ke lawan itu jadi salah satu strategi perang yang cukup kuno loh. Ular Javelin Sand Boa misalnya, sudah digunakan oleh orang-orang di era Yunani Kuno untuk melawan musuh-musuhnya.

Strategi ini umumnya digunakan saat pertempuran di laut, para prajurit Yunani akan melemparkan ular jenis boa yang tidak berbisa tersebut ke dalam kapal musuh. Tujuannya adalah untuk menciptakan kepanikan dan kebingungan musuh, sehingga secara psikologis lebih mudah dikalahkan.

Jadi, ya bisa juga ular-ular itu – kalau benar-benar ada – dilepas untuk kembali menimbulkan kepanikan dan keributan.

Tapi, kalau hal ini hanya provokasi dari pihak-pihak tertentu saja, Wiranto juga tetap nggak bisa asal bilang bahwa persoalan ini nggak usah didengarkan. Kalau ngomong gitu, sama aja Wiranto justru memanas-manasin lagi loh.

Lagian, Pak Wiranto juga loh yang karena komentar-komentar kerasnya bikin masyarakat Papua jadi tambah marah waktu itu.

Kalau kayak gini kan kita jadi bingung, mau melucu di bagian mana. Hehehe. Ngutip kata-katanya komedian Mamat Alkatiri yang berasal dari Papua aja deh:

“Pak Jokowi punya niat baik untuk Papua, dan orang Papua sudah membalas hal itu dengan memilih beliau. Sembilan puluh persen memilih beliau. Tapi kan yang di sekelilingnya ini adalah orang-orang lama yang menggunakan cara-cara lama, pendekatan-pendekatan militer dengan kami orang Papua”.

Hmm, Pak Wiranto harus hati-hati deh kalau gitu. Udah mau akhir jabatan kan Pak? Upppss. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.