Wakil Presiden ‘Berat Sebelah’?

Jusuf Kalla ‘Korban’ Pemaksaan
HM. Jusuf Kalla. (Foto: Istimewa)
2 minute read

“Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang dia lakukan, karena kamu juga harus tau alasan mengapa dia melakukannya.”


PinterPolitik.com

Di tengah menguatnya isu reshuffle Kabinet Kerja, tentunya mengiringi adanya aroma tak sedap yang mengarah pada nasib Menteri Perindustrian dan Menteri Sosial RI.

Pasalnya, kedua Menteri itu yang disebut-sebut akan menjadi incaran reshuffle. Alasannya jelas, akibat keduanya memiliki kesibukan politik lain di luar agenda Kementeriannya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto misalnya, ia juga memiliki kesibukan lain sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Sedangkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa tengah mencoba peruntungannya di Pilgub Jawa Timur.

Kalau dicopotpun, Airlangga sih masih punya jabatan sebagai Ketua Partai Golkar. Tapi kalau Khofifah kalah di Pilgub Jatim, ia akan menerima dua pil pahit: dicopot dari posisi Menteri dan tak jadi Gubernur.

Sedih ga kalau gitu, pastilah, weleeeeh weleeeeh.

Bila melihat dari kedua Menteri yang sedang sibuk berpolitik ini, ternyata kemungkinan adanya reshuffle bagi keduanya itu gagal. Kenapa ya? Hmmm.

Karena ada sikap ‘pilih kasih’ dari Wakil Presiden Republik Indonesia. HM Jusuf Kalla kabarnya lebih memilih Airlangga untuk tetap bertahan di dalam Kabinet Jokowi.

Berarti Opa JK setuju sama rangkap jabatan nih? Weeeleeeeeh weleeeh.

Tapi sikapnya ini berbanding terbalik dengan posisi Khofifah. JK malah mewajibkan Khofifah untuk segera mundur sebagai Menteri Sosial. Hmmm, sadis bener sih, weleeeh weleeh.

Tapi kok Wakil Presiden jadi pilih kasih gitu sih? Kalau pertimbangannya karena adanya rangkap jabatan, tentu seharusnya Airlangga yang direkomendasikan untuk diganti, karena Khofifah belum tentu terpilih jadi Gubernur Jawa Timur. Hmmm.

Memangnya pertimbangan apalagi sih, sampai ada pembedaan begitu? Kalau dalam perspektif politik praktis, keduanya kan bisa tersangkut. Airlangga sebagai Ketua Partai dan Khofifah calon kepala daerah, jadi apa gitu alasan yang membedakannya Opa? Weleeeeh weleeeeh.

Jangan-jangan sikap ‘berat sebelah’ Opa ini akibat dirinya dan Airlangga punya kesamaan, yaitu sama – sama pernah jabat sebagai Ketua Partai Golkar. Duh, repot dong kalau pilih kasih gara-gara itu, weleeeh weleeeh.

Tapi Opa menyangkalnya, katanya sih, pernyataannya itu bukan karena pilih kasih.

Menurut Opa, ia mengatakan begitu karena Airlangga sebagai Ketua Partai Golkar akan tetap berdomisili di Jakarta, sementara kalau Khofifah akan lebih sering ke Jawa Timur jadi ga bisa fokus kerja di Jakarta. Ooh, jadi begitu ya.

Hmmm, karena faktor domisilinya ternyata. Weleeeeh weleeeeeh.

Tapi kalau Airlangga sebagai Ketua Partai ikut ‘turun gunung’ jadi jurkam Pilkada di daerah, gimana tuh Opa? Weleeeh weleeeh. (Z19)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here