Wajah di Balik Politik Meme

Wajah di Balik Politik Meme
Gambar yang diedit menampilkan Prabowo bersama Nurhadi-Aldo (Foto: Instagram @nurhadi_aldo)
7 minute read

Berbagai meme yang mengajak para pemilih untuk mendatangi kegiatan Kampanye Akbar Joko Widodo-Ma’ruf Amin viral di media sosial. Beberapa meme lain yang memelintir aksi gebrak meja Prabowo Subianto juga turut meramaikan linimasa warganet.


PinterPolitik.com

“I worry about people’s negative energies. I’m anxious about barbershop talk and internet memes,” – Iggy Azalea, penyanyi rap asal Australia

Dalam berbagai meme yang diunggah oleh akun Instagram @erickthohir milik Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Erick Thohir, disebutkan berbagai nama-nama komunitas unik yang dituliskan bahwa mereka telah siap untuk bergabung dan mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Dengan dilengkapi berbagai tagar di linimasa media sosial, seperti #putihkanGBK dan #barengJokowi, meme-meme tersebut juga mengajak warganet untuk turut meramaikan Kampanye Akbar paslon nomor urut 01 itu.

Berbagai respons dari warganet pun beragam. Salah satu respons misalnya datang dari presenter Becky Tumewu yang turut berkomentar melalui unggahan di akun Instagramnya @becktum. Becky menyebutkan bahwa meme-meme tersebut sangat kreatif dan membuatnya tertawa.

Salah satu meme yang beredar di media sosial pun turut menyindir paslon nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno, dengan menyebutkan aksi gebrak-gebrak meja. Meme yang diunggah akun Instagram @teplete misalnya mengatakan bahwa gabungan cewekcewek manis yang gak suka cowok gebrak-gebrak meja segera gabung 01.

Aksi gebrak meja Prabowo memang ramai digunakan oleh warganet sebagai bahan lelucon. Salah satu meme video yang diunggah oleh akun Twitter @aimrod menyelaraskan gerakan tangan Prabowo dengan lagu Eye of the Tiger milik band Survivor yang menjadi lagu tema di film Rocky.

Selain dengan lagu, beredar juga meme video Prabowo yang menggambarkan suara mainan sebagai hasil gebrakan tersebut. Video yang diunggah akun Twitter @seterahdeh tersebut telah dilihat sebanyak 440 ribu kali.

Pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi pun tidak terlalu menganggap penting meme-meme yang beredar tersebut. Juru Bicara BPN Habiburokhman mengatakan bahwa meme-meme tersebut hanya memengaruhi warganet yang tidak suka terhadap Prabowo dan tidak akan memengaruhi publik secara luas.

Baca juga :
Misteri Pemilu Hotel Borobudur

Walaupun demikian, meme sebagai bahan bercanda nyatanya juga dapat memiliki dampak tertentu, katakanlah dalam konteks pembentukan citra seseorang. Jika demikian, seperti apa meme dalam konteks politik ini dimaknai?

Meme Politik

Istilah “meme” sendiri pertama kali dicetuskan oleh profesor dari University of Oxford, Richard Dawkins, dalam bukunya yang berjudul The Selfish Gene. Istilah tersebut pun didefinisikan sebagai suatu gagasan, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam suatu kebudayaan.

Istilah yang awalnya digunakan untuk menjelaskan mimikri dan imitasi dalam biologi tersebut pun akhirnya digunakan untuk menjelaskan penyebaran gagasan-gagasan di internet. Olivia Solon dalam artikelnya yang berjudul Richard Dawkins on the internet’s hijacking of the word ‘meme’ menjelaskan bahwa istilah itu digunakan oleh warganet untuk menggambarkan fenomena-fenomena seperti Grumpy Cat – seekor kucing yang memiliki wajah seperti orang sedang marah – yang menyebar secara viral dengan melompat dari satu alamat internet protocol (IP) ke alamat IP lainnya (dan dari satu otak ke otak lainnya).

Pada umumnya, meme yang disebarkan secara daring memiliki sensasi-sensasi humor tersendiri. Istilah meme sendiri didefinisikan oleh Oxford Dictionary sebagai sebuah gambar, video, tulisan, dan bentuk-bentuk lainnya yang bersifat humor yang disalin dan disebarkan secara pesat oleh pengguna-pengguna internet dengan sedikit tambahan variasi.

Dari yang awalnya hanya sebagai wadah untuk menyalurkan candaan, meme pun akhirnya juga digunakan dalam politik. Chris Tenove dari Univeristy of British Columbia dalam artikelnya yang berjudul The Meme-ification of Politics menjelaskan bahwa sebuah meme politik adalah meme yang memunculkan perasaan atas keanggotaan terhadap kelompok tertentu dan menciptakan pernyataan normatif mengenai tokoh dan isu politik tertentu.

Baca juga :
Golput Pengacau Apa, Pak Wiranto?

Tenove pun menjelaskan bahwa meme politik memiliki dua karakteristik, yaitu berbentuk sebagai candaan dan mampu menimbulkan reaksi emosi tertentu. Kemudahan meme untuk dibuat, disebarkan, dan diubah juga menjadi alasan politisi untuk menggunakannya sebagai instrumen komunikasi politik untuk menarik reaksi emosi tertentu dari warganet.

Salah satu politisi terkenal yang menggunakan meme di media sosial adalah Barack Obama. Presiden Amerika Serikat (AS) pertama yang berasal dari kelompok Afrika-Amerika tersebut pun menggunakan meme untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada wakilnya, Joe Biden.

Meme memunculkan perasaan atas keanggotaan terhadap kelompok tertentu dan menciptakan pernyataan normatif mengenai tokoh dan isu politik tertentu. Click To Tweet

Lalu, bagaimana dampak meme tersebut terhadap warganet?

Meme Obama tersebut pun memanen berbagai reaksi emosional dari masyarakat AS. Dengan gambaran kedekatan bromance di antara keduanya dalam meme tersebut, pengguna-pengguna Twitter pun turut merasakan dan mengunggah ulang kedekatan emosional tersebut.

Selain itu, candaan-candaan yang terkandung dalam meme politik juga dapat digunakan untuk menyerang lawan politik. Thomas E. Cronin dalam tulisannya yang berjudul Laughing at Leaders menjelaskan bahwa candaan yang disasarkan pada politisi memiliki fungsi tertentu. Cronin pun melanjutkan bahwa candaan digunakan untuk menyerang kehormatan politisi, untuk merasakan keanggotaan dalam kelompok (in-group), dan untuk menjelekkan politisi dan ideologi yang tidak disukai.

Jika meme politik sebelumnya dapat menarik reaksi positif, apakah meme yang menyerang juga berdampak tertentu?

Tentunya, penyerangan melalui meme politik juga berdampak. Dampak ini pun dapat dilihat dalam kasus kegagalan Ted Cruz dalam pencalonannya sebagai capres dalam Pemilu AS 2016. Politisi Partai Republik tersebut misalnya disebut-sebut sebagai Zodiac Killer – sebutan untuk pembunuh berantai.

Sebuah artikel milik Leigh Alexander di The Guardian menjelaskan bahwa meme dan satir politik yang menyerang Cruz melalui daring turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap persona politisi Republik tersebut. Survei pun menunjukkan bahwa 38 persen pemilih di Florida mungkin mempercayai meme Zodiac tersebut.

Baca juga :
Jokowi Setara Dilan?

Lantas, jika berkaca pada fenomena-fenomena meme politik di AS, apakah meme-meme yang beredar dalam diskursus Pilpres 2019 juga turut memengaruhi persepsi masyarakat Indonesia?

Tentunya, meme-meme yang beredar memiliki dampak tertentu. Penyebaran meme yang dilakukan kubu Jokowi-Ma’ruf misalnya, memicu berbagai reaksi tertentu di media sosial. Banyak warganet mengunggah ulang dan mengaitkan meme tersebut dengan kelompok-kelompok tertentu.

Selain meme positif Jokowi-Ma’ruf, meme yang mengolah aksi gebrak meja Prabowo pun bisa saja memengaruhi warganet. Bisa jadi, meme-meme tersebut turut menyerang citra Prabowo dengan mengurangi martabat mantan Danjen Kopassus tersebut melalui candaan.

Efek Buruk?

Namun, meme politik nyatanya juga memiliki dampak negatif tertentu bagi politisi pengguna meme dan masyarakat. Meme pun disebut-sebut dapat mengalihkan masyarakat dari fokus utama terkait kebijakan tertentu.

Hillary Clinton misalnya, dikritik setelah mengunggah cuitan di media sosial yang menanyakan perasaan warganet terkait kebijakan pinjaman untuk bersekolah dengan menggunakan tiga emoji. Cuitan tersebut pun dianggap tidak berfokus pada kebijakan aktual yang diperlukan.

Selain itu, seperti yang dijelaskan oleh Tenove, meme pun hanya menguatkan narasi dalam kelompok tertentu. Akibatnya, ketidaksepakatan antara gagasan politik pun dapat melebar. Senada dengan Tenove, Cronin menjelaskan bahwa candaan dalam politik dapat menyebabkan prasangka, streotip, dan sinisme di masyarakat.

Dampak lanjutannya pun berkaitan pada informasi yang tersebar di internet. Douglas Haddow dalam tulisannya yang berjudul Meme Warfare di The Guardian menjelaskan bahwa meme pun menjadi kontraproduktif terhadap demokrasi karena dapat menciptakan kondisi di mana kebohongan dan konflik virtual mudah tersebar dan terjadi.

Terkait dengan sinisme yang disebabkan oleh meme politik, kepercayaan masyarakat terhadap politisi pun dapat menurun sebagai akibatnya. Claes H. de Vreese dalam tulisannya yang berjudul Political Cynicism menjelaskan bahwa sinisme politik akan berdampak buruk dalam jangka panjang, seperti menurunnya partisipasi masyarakat dalam demokrasi dan apatisme masyarakat terhadap politik.

Intinya, meme politik sebagai bahan candaan pun memang mampu menghibur warganet. Namun, secara tidak sadar, warganet pun menjadi semakin terbelah serta meningkatkan sinisme terhadap politisi dan pemerintahan. Dalam jangka panjang, hal ini pun akan merugikan warganet karena sinsime itu sendiri akan mendorong apatisme kita dalam berdemokrasi.

Dalam konteks tersebut, kubu Jokowi yang menggunakan meme sebagai alat untuk membentuk komunikasi emosional, mungkin saja telah mendapatkan efek positifnya, katakanlah dengan kampanye akbar yang dihadiri begitu banyak massa pendukung.

Namun, jangan sampai konteks meme mengaburkan intisari program yang ditawarkan kepada masyarakat. Sebab, apa pun bentuk meme yang digunakan dengan istilah tertentu sebagai asosiasinya – Dilan, Dewi, Dedi, ten years challenge, dan yang lainnya – jika pada akhirnya tak jelas program yang ditawarkan, maka justru hal sebaliknyalah yang bisa terjadi.

Pada akhirnya, mungkin benar apa yang dikatakan oleh rapper Iggy Azalea di awal tulisan. Meme-meme pun merupakan energi negatif bagi pihak yang dijadikan bahan candaan, termasuk juga bagi masyarakat. Lagi pula, bercanda juga perlu ada batasnya. Bukan begitu? (A43)

Facebook Comments