Ulama Boleh Berpolitik Asal…

Nasihat MUI dan Muhamadiyah untuk ulama
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin. (Foto: Liputan Islam)
3 minute read

“Menjadi baik itu mudah, dengan hanya diam maka yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit adalah menjadi bermanfaat, karena itu butuh perjuangan” ~KH. MA. Sahal Mahfud


PinterPolitik.com

Setelah kemarin ada beberapa kelompok ulama yang secara terang-terangan mendukung politisi tertentu, akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi buka suara.

MUI mengumumkan hasil dari rapat pleno ke-29 MUI yang isinya mengimbau para partai politik agar tidak memonopoli klaim atau nama umat Islam. MUI menganggap bahwa di Indonesia ada banyak umat Islam yang menyebar di semua partai politik, bukan hanya satu-dua partai.

Tuh dengerin apa kata MUI! Masih mau bikin klaim?Jangan belaga menjadi perwakilan deh kalau sebenarnya nggak mewakili-mewakili amat. Ups, pedes ya omongan eike…Wkwkwk.

Tidak hanya MUI, organisasi Muhammadiyah juga memberikan imbauan kepada kalangan ulama serta agamawan agar tak terlalu terlibat politik praktis menjelang Pemilu 2019, sehingga tidak menjurus kepada tindakan politisasi agama.


Eike pikir sih nggak apa-apa menggunakan politik identitas, asal nggak dimanipulasi dan dieksploitasi demi mendapatkan kekuasaan. Jangan gila-gila banget gitu jadi politisi. Nanti kalau kalah bisa jadi gila beneran loh. Hehe.

Dateng ke ulama boleh, tapi ya cuma buat minta nasihat aja. Siapa tahu kan bisa dapat wejangan dan semangat yang positif. Jadi bukan sekadar minta dukungan ulama hanya untuk menaikkan elektabilitas.

Duh…duh..duh… kayaknya politisi kita pada lupa nih apa fungsi ulama. Soalnya kerjaannya manfaatin ulama buat jadi alat politik sih. Ckckckck.

Logikanya, kalau emang politikus-politikus itu emang nurut sama ulama, harusnya takut juga sama Tuhan. Kalau takut sama Tuhan, mana berani korupsi, mana berani mengadu domba? Betul nggak gengss? Ahh kita mah udah pinter. Hehe.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan, kalau boleh Muhammadiyah mengajak seluruh institusi agama dan keulamaan agar tetap menjadi basis bagi kekuatan moral yang mengharapkan bangsa ini lebih luhur.

Wahh, boleh banget dongs. Eike dukung 100 %! Biar pejabat-pejabat yang lahir nantinya punya integritas yang baik.

Kalau menurut kalian, perlu nggak sih tokoh agama masuk dunia politik? Menurut eike sih yes, untuk meluruskan kehidupan politik. Memperbaiki mental-mental politisi yang gila kekuasaan. Ehh, tapi bukan berarti bisa menciptakan political blocking ya, kalau kata Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin bahaya. Yang ada malah bikin ketegangan dan konflik, kayak yang sekarang lagi kita rasain gengs. Hehe

Coba deh kalian renungkan perkataan guru besar dan cendekiawan muslim dari Universitas Islam Negeri Jakarta Azyumardi Azra ini: “Sikap netral ulama itu sesuai dengan hadis, yaitu al ulama warasatul anbiya atau ulama adalah pewaris para nabi. Sebagai pewaris para nabi, ulama bersifat di atas semua kelompok dan golongan, baik itu etnis, suku, maupun agama yang berbeda-beda. (E36)

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]