Uang Jajan Si Bungsu

Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Rahardjo. (Foto: Tirto)
3 minute read

“Mendingan kasih kami saja uangnya, alihkan saja ,” begitu kira-kira perkataan KPK.


PinterPolitik.com

Kisah perang saudara antara lembaga penegak hukum ini sempat merajai perhatian masyarakat Indonesia. Bahkan, dianalogikan dengan pertarungan binatang, seperti cicak dan buaya. Tak hanya satu lagi, bahkan berkali – kali.

Namun, kini dua kakak beradik ini membangun romantisme bersama untuk membumihanguskan para tikus pemakan uang rakyat.

Bagi sebagian orang, kabar ini tak menyenangkan. Bahkan, ada pihak yang menari bahagia mendengar kabar ini. Si bungsu, Densus Antikorupsi tak diterima.


Menakar respon tentang baik buruknya lembaga antirasuah. Sebagai lembaga yang masih di tataran wacana, Densus Antikorupsi masih belum diterima keberadaannya oleh Pemerintah.

Ibarat kelahiran anak yang belum diterima ibu dan ayahnya. Tapi, karena sang ibu yang melahirkannya, ia berencana memberikan uang jajan kepada si bungsu, Densus Antikorupsi. Tapi, lagi dan lagi ayahnya dengan mata melotot masih belum mengizinkan si bungsu mendapatkan uang jajan.

Selain karena uang jajan yang fantastis Rp 2,6 triliun, keberadaannya si bungsu pun masih belum dianggap. Jadi wajar masih belum dikasih uang jajan.

Sempat berhembus angin segar bagi si bungsu dari berbagai pihak yang menyambut baik kehadirannya di muka bumi. Karena dapat membantu membersihkan rumah dari tikus laknat penggerogot harta benda.

Namun, jangan lupa. Si bungsu, Densus Antikorupsi memiliki kakak yaitu KPK yang sudah jadi anak kesayangan orangtuanya. Segala tata pola langkah kakaknya itu dibiayai oleh orangtuanya.

Tapi, kakaknya agak sedikit ‘nakal’ sehingga banyak koruptor yang tidak menyukainya. Koruptor loh yang pada ga suka sama KPK. Jadi yang pada sibuk angket KPK itu pihak yang tidak suka kali ya? Baru kali loh belom tambah kurangi bagi apalagi sama dengan. Hahaha

Namun, muncul lagi kenakalan baru KPK yang sesumbar meminta ‘jatah lebih’ kepada orangtuanya. Terlebih, KPK meminta jatah tambahan itu diambil dari rencana pemberian uang jajan untuk adiknya, Densus Antikorupsi. Uang jajannya Rp 2,6 triliun loh jumlahnya, emang KPK mau jajan apaan sih? Gedung kan udah baru. Hadeuhhh.

“Mendingan kasih kami saja uangnya, alihkan saja ,” begitu kira-kira perkataan KPK.

Entah memang kebutuhan kakak yang banyak sehingga memberanikan diri meminta uang lebih atau untuk berkelakar saja.

Si bungsu hanya bisa tertegun saja. Ketika ia meminta uang jajan Rp 2,6 triliun, tapi ia belum bisa menerima jajan karena ayahnya belum memberikan izin.

Dilema ini diperparah dengan keinginan kakaknya, KPK yang meminta uang jajan Densus Antikorupsi dialihkan kepadanya. Alamak!

(Z19)