Trump: Kawan atau Lawan?

Foto: businessinsider.com
5 minute read

Pasca kemenangan Trump, banyak negara yang terkena dampak, khususnya negara-negara yang menjadi rekanan bisnis Trump. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beberapa basis bisnis Trump, khususnya di bidang perhotelan.


pinterpolitik.comKamis, 5 Januari 2017.

23 Mei 2014, 5.27 pagi, itulah waktu ketika Donald Trump nge-tweet: “Sometimes by losing a battle you find a new way to win the war”. Cuitan dari presiden terpilih Amerika Serikat ini seolah menjadi prediksi tidak langsung bagi kemenangannya dalam pemilu AS beberapa waktu kemudian. Kita masih ingat saat debat ‘pertempuran’ pertama Donald Trump sempat ‘dibantai’ oleh Hillary Clinton, namun balik ‘menyerang’ di debat-debat berikutnya. Pada akhirnya Donald memenangkan ‘peperangan’ untuk menjadi presiden di AS. Kemenangan itu seolah membuktikan apa yang ia tulis: kadang ketika kalah dalam sebuah pertempuran, kamu akan menemukan cara untuk memenangkan peperangan.

Hary Tanoe (Foto: todayonline.com)

Pasca kemenangan Trump, banyak negara yang terkena dampak, khususnya negara-negara yang menjadi rekanan bisnis Trump. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beberapa basis bisnis Trump, khususnya di bidang perhotelan. Oleh karena itu, tentu saja ada dampak yang secara langsung maupun tidak langsung dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Salah satu yang terbaru adalah ketika The Guardian menurunkan tajuk berisi keinginan rekan bisnis Trump di Indonesia, Hary Tanoesoedibjo, yang berkeinginan maju dan mencalonkan diri menjadi presiden Indonesia pada pemilu 2019. Kepada Australian Broadcasting Company, Hary Tanoe mengatakan bahwa jika ia tidak menemukan orang yang ia yakini mampu memperbaiki negeri ini, maka ia akan maju dan mencalonkan diri pada pemilu 2019. Kemenangan Trump yang adalah seorang pebisnis tentu saja menjadi dorongan bagi rekanan bisnis-nya untuk memanfaatkan momentum tersebut.

Baca juga :
Wiranto dan Gagalnya Strategi Papua

Di Indonesia sendiri, Trump memiliki 2 usaha besar yang dibangun bekerja sama dengan Hary Tanoe. Yang pertama adalah Trump International Hotel & Tower di Bali. Trump Hotel bekerjasama dengan MNC Group pada Agustus 2015 membangun resort di Bali, tepatnya di pinggir pantai dekat Tanah Lot. Resort mewah bintang enam itu menjadi resort pertama Trump Hotel Collection di Asia. Diperkirakan total anggaran yang dihabiskan untuk pembangunan resort ini mencapai Rp 20 triliun. Bisnis kedua Trump adalah Trump International Hotel & Tower Lido. Trump Hotel kembali bekerjasama dengan MNC Group untuk mengelola sebuah resort bintang enam di Lido, Bogor, Jawa Barat. Ini menjadi resort kedua Trump Hotel di Asia, yang dilengkapi lapangan golf yang terintegrasi dengan fasilitas hiburan dan rekreasi. Selain itu, nantinya akan dibangun sebuah taman rekreasi bertaraf internasional, yang diekspektasikan setingkat DisneyLand. Dua bisnis ini saja sudah bernilai puluhan triliun rupiah. Kita tentu masih ingat kasus ketika Setya Novanto dan Fadli Zon yang ikut hadir dalam deklarasi Trump sebagai calon presiden Amerika Serikat.

Trump dalam banyak kesempatan mendeklarasikan dirinya sebagai pribadi yang anti terhadap pekerja migran, anti Islam, dan anti terhadap kompetisi bisnis. Presiden Joko Widodo (Jokowi) boleh saja mengapresiasi kemenangan Trump dan melihat secara positif hubungan lebih jauh dan baik yang bisa dibina dengan presiden terpilih tersebut. Namun, pernyataan-pernyataan Trump yang anti-Islam mendatangkan sikap yang berbeda di beberapa kalangan politisi Indonesia. Sebut saja wakil Presiden Jusuf Kalla yang secara terang-terangan mengatakan bahwa Donald Trump adalah ‘ancaman’ bagi perdamaian dunia. Jokowi memang memberikan ucapan selamat, namun perlu diingat bahwa Jokowi juga adalah presiden yang populis: seringkali ia lebih mendengarkan dan mengikuti suara-suara rakyat dan opini publik. Suatu saat bisa jadi sikapnya bisa berbalik terhadap Trump. Jika hal tersebut terjadi, maka tentu saja banyak perusahaan Amerika Serikat di Indonesia yang juga akan terkena imbasnya. Sebut saja perusahan-perusahan minyak besar semacam Exxon Mobile, Chevron, ConocoPhilips, atau bahkan juga perusahaan tambang macam Freeport. Banyak analis ekonomi yang mengatakan bahwa jika sikap pemerintah Indonesia tersebut terbukti berbalik, maka bisa jadi perusahan-perusahan tersebut tidak lagi ‘nyaman’ menjalankan bisnis di Indonesia. Who knows, business is business, tapi kalau menyangkut hal-hal prinsipil (agama misalnya), hal yang berbeda bisa terjadi di Indonesia.


Baca juga :
Perang Rebutan Kursi Menkominfo

Keinginan Hary Tanoe untuk maju pada pemilu 2019 bisa juga menjadi jalan Hary Tanoe untuk mengamankan bisnis dan investasi yang telah dijalankannya. Misalkan saja sikap pemerintah Indonesia akhirnya berbalik terhadap pemerintahan Trump, Hary Tanoe bisa jadi akan menjadi salah satu konglomerat di Indonesia yang merugi. Investasi yang dilakukannya dengan Donald Trump tentu saja menelan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, aset-aset tersebut harus diselamatkan. Menjadi presiden tentu saja adalah salah satu cara mengamankan aset. Hal yang sama juga akan terjadi pada rekanan-rekanan bisnis perusahaan-perusahaan AS. Jika hal tersebut terjadi, maka kita boleh saja bilang bahwa The Trumpism – paham yang merujuk pada sikap Trump yang anti terhadap imigran dan anti Islam ini – memang sedang mendatangkan akibat di Indonesia, negara rekanan bisnis AS.

Kemenangan Trump pada pemilu AS juga menjadi indikator bagi kalkulasi bisnis konglomerat-konglomerat di Indonesia. Ada konglomerat yang masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes mengatakan bahwa ia akan mengubah strategi bisnisnya di Indoanesia sebagai kelanjutan kemengan Trump ini. Strategi seperti apa? Hanya dia yang tahu. Agama dalam banyak kesempatan telah masuk ke dalam ranah publik di Indonesia. Oleh karena itu, bisa jadi pernyataan-pernyataan Trump akan berakibat buruk bagi bisnisnya dan bisnis Amerika Serikat di Indonesia. Perlu menjadi catatan pula bahwa pemerintahan di Indonesia saat ini dikuasai oleh Jokowi, seorang presiden yang kadang tidak segan-segan mengambil kebijakan. Jika tidak ingin hal-hal demikian terjadi, maka Trump harus memperbaiki situasi ini. Jika tidak, akan ada the next JPMorgan. Bagaimana kelanjutan kisah ini? Menarik untuk ditunggu. (S13)

Baca juga :
Formula E, Anies Siap Mengebut?

Related Posts

Facebook Comments