Town Hall Meeting, Prabowo Unggul

town hall meeting prabowo unggul
Foto: Antara
7 minute read

KPU membatalkan rencana pemaparan visi-misi dan program kerja capres-cawapres. Namun, kubu Prabowo-Sandi tetap melangsungkan pemaparan dengan konsep town hall meeting, di mana publik dapat bertanya atau mengritik secara langsung terhadap pemaparan visi-misi tersebut.


PinterPolitik.com 

Banyak yang berharap dapat menyaksikan pemaparan visi-misi oleh dua kandidat yang bertarung pada Pilpres 2019. Visi-misi merupakan sesuatu yang penting sebagai ukuran untuk menentukan pilihan.

Sayangnya, rencana pemaparan visi-misi yang awalnya akan difasilitasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) urung dilaksanakan. Alasannya karena menurut KPU dua belah kubu tidak sejalan dengan konsep penjabaran visi-misi yang akan dilangsungkan.

Kubu Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin mengingingkan agar penjabaran visi-misi cukup dilakukan tim dari masing-masing kubu tanpa harus melibatkan pasangan calon (paslon). Sementara kubu Prabowo-Sandi menilai pemaparan tersebut wajib dilakukan oleh paslon masing-masing.

Atas dasar pembatalan itulah, KPU membebaskan masing-masing kubu untuk melakukan pemaparan visi-misi. Kubu Prabowo-Sandi pun berinisiatif untuk melakukan penjabaran visi-misi serupa dengan yang dilakukan di Amerika Serikat (AS). Konsep itu biasa disebut dengan town hall meeting (THM).

Istilah THM biasa digunakan oleh pemimpin di AS dalam acara pertemuan umum dan bersifat informal, terbuka untuk komunitas dan dilakukan di balai pertemuan – tempat yang bisa menampung banyak orang.

Istilah tersebut pertama kali digunakan oleh orang-orang AS yang tinggal di koloni New England, kemudian populer diterapkan pada semua pertemuan umum baik yang dilakukan oleh pemerintahan kepada rakyatnya maupun perusahaan kepada karyawannya.

Tentu saja pertanyaannya kemudian adalah seberapa efektif duplikasi THM yang dilakukan oleh kubu Prabowo-Sandi terhadap tingkat elektabilitas mereka menjelang pencoblosan?

Town hall meeting prabowo unggul

Keuntungan Town Hall Meeting

Secara historis, THM adalah unsur pokok dalam representasi pemerintahan di AS sejak pertama kali dikenal pada tahun 1933. Konsep ini pertama terjadi di Dorchester, Massachusetts. Pertemuan ini merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk datang dan mendiskusikan isu-isu penting dengan calon pemimpin mereka.

Baca juga :
‘Perang Halal’ Ma’ruf vs Sandi

Hal ini memberikan hak kepada semua orang untuk bersuara dan mengemukakan pendapat. Metode komunikasi dua arah diharapkan akan membangun intimasi antara kandidat dan konstituen.

THM adalah pertemuan publik terbatas yang dihadiri oleh orang-orang yang diundang. Konsep ini biasanya dihadiri oleh pendukungnya dan juga undangan dari kelompok-kelompok masyarakat yang dianggap bisa meningkatkan elektabilitas dari kandidat tersebut.

Meski begitu, idealnya THM dilaksanakan dengan target audiens masyarakat umum seluas-luasnya untuk mengetahui paslon tersebut.

Konsep ini cukup menarik sebab Prabowo-Sandi dapat memberikan pidato politik di hadapan publik secara umum, baik itu massa pendukungnya maupun yang bukan pendukungnya. Pemaparan visi-misi lebih leluasa dijabarkan secara mendalam dan komprehensif.

THM memberikan kesempatan kepada rakyat untuk bertemu secara langsung dengan Prabowo dan Sandi. Selain itu, keterlibatan rakyat terhadap pemaparan visi-misi juga bisa meningkatkan keterlibatan rakyat.

Dalam Taking Democracy to Scale: Creating a Town Hall Meeting for the Twnty-First Century, Carolyn Lukensmeyer dan Steve Birghman menulis bahwa konsep THM memiliki beberapa keuntungan, di antaranya terkait adanya informasi terkini, kepemimpinan yang bisa ditunjukkan, memperkuat nilai dan budaya demokrasi, serta publik atau rakyat merasa terlibat.

Dengan melibatkan berbagai macam kelompok masyarakat secara luas, maka pemilih akan mendapatkan informasi penting langsung dari Prabowo-Sandi. Hal ini meminimalisir kesalahpahaman atas informasi terkait visi-misi dan program kerja sang kandidat. Selain itu, dengan THM maka Prabowo dan Sandi tidak perlu blusukan untuk kampanye ke daerah-daerah yang kerap kurang efektif.

Tampilnya capres-cawapres ke muka publik untuk menyampaikan pandangannya terkait visi-misi sangat penting sebab masyarakat akan mengetahui lebih dalam mengenai apa yang akan dilakukan oleh paslon jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden (visible leadership).

Baca juga :
Jokowi-Prabowo, Belajarlah Womenomics Abe

Dalam konteks demokrasi, THM bisa menjadi sesuatu tradisi yang positif karena melibatkan masyarakat ke dalam proses demokrasi itu sendiri. Seperti diketahui, selama ini demokrasi kerap dikritik akibat hanya menghasilkan pemilihan langsung yang artinya hanya melibatkan rakyat di bilik suara tanpa ada partisipasi yang lebih jauh.

Dengan adanya THM ini, maka rakyat diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan merasa terlibat dalam proses Pemilu itu sendiri.

Pada Pilpres AS tahun 1992, Bill Clinton sebagai kandidat yang bertarung kala itu menggelar beberapa THM yang diliput oleh televisi, termasuk oleh salah satu saluran populer saat itu di kalangan pemilih muda, yaitu MTV. Hal tersebut berdampak positif terhadap citranya di hadapan pemilih muda.

Dalam debatnya yang kedua dengan George H. W. Bush (Bush senior) dan Ross Perot, Clinton tetap menggunakan gaya saat THM. Sehingga, pada debat tersebut ia dapat memaksimalkan kekuatannya, yakni berbicara secara spontan, menunjukkan rasa empati dan terkoneksi dengan konstituen.

Bahkan seperti yang diberitakan oleh The Huffington Post, Clinton dapat mencuri perhatian ketika ditanya oleh seorang wanita perihal utang AS kala itu. Dengan kemampuan retorikanya itu Clinton mendapat simpati luas dari publik AS.

Kemampuan menyentuh perasaan publik itulah yang sedikit banyak membawa Clinton ke jalur kemenangan. Apalagi, posisinya sebagai oposisi saat itu memudahkannya untuk mengolah bahan kampanye.

Sementara itu, di Indonesia konsep THM pernah digunakan oleh pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sylviana Murni saat menjadi kandidat Pilkada DKI Jakarta 2017. Meski keduanya tidak memenangkan kontestasi tersebut, namun sebagai “orang baru” dalam politik, aksi tersebut telah berhasil membuat keduanya mendapatkan jumlah suara yang cukup besar untuk ukuran poltiisi baru dengan 17,5 persen.

Town hall meeting Prabowo baik untuk demokrasi dan cara yang tepat sampaikan visi-misi Click To Tweet

Prabowo Lebih Siap?

Memang sejak awal kubu Prabowo-Sandi lebih “ngotot” untuk meminta agar penjabaran visi-misi dilakukan secara langsung oleh capres dan cawapres. Hal ini seperti disampaikan oleh Sandiaga Uno yang menyebutkan bahwa konsep sosialisasi visi-misi ini diperlukan untuk menjangkau seluruh masyarakat.

Baca juga :
Elektabilitas Jokowi Di Titik Rawan

Oleh karena itu, meski KPU membatalkan rencana pemaparan visi-misi kedua paslon, Prabowo-Sandi tetap gigih untuk melakukannya. Dalam titik tertentu, upaya Prabowo dan timnya ini bisa dimaknai sebagai kesiapan terhadap kontestasi Pilpres saat ini.

Terkait hal tersebut, menurut Richard B. Slatcher (dkk), personalitas dan psikologis memainkan peran penting untuk membentuk persepsi publik. Menurutnya, pembentukan citra dan personalitas itu dapat dilaukan lewat kata-kata, termasuk lewat debat politik.

Karakteristik personal maupun kamampuan beretorika ini diasosiasikan dengan kemampuan kognitif, kemampuan menjadi presiden (presidentiality) serta kejujuran (honesty). Hal ini relevan dengan konteks politik Indonesia karena personalitas  dianggap sebagai instrumen penting untuk menentukan pilihan.

Oleh karenanya, penyampaian visi-misi erat kaitannya dengan kemampuan retorika dan dengan sendirinya akan menampilkan personalitas yang terbentuk di hadapan publik. Dalam konteks ini, jika melihat kemampuan beretorika kedua kandidat, terdapat kondisi yang cukup kontras antara Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi.

Banyak pihak yang menyebut bahwa Jokowi bukanlah sosok yang pandai dalam beretorika sebab dirinya cenderung lebih kepada sosok eksekutor ketimbang orator.   Semantara, Ma’ruf Amin – dengan kondisinya yang juga telah berumur – adalah politisi-ulama yang masih diragukan kemampuan retorikanya. Sebab, ada anggapan bahwa ketika Ma’ruf berkampanye – dengan memberikan gagasan dan pidato – justru pasangan ini malah turun elektabilitasnya.

Di pihak yang lain, Prabowo bisa jadi lebih unggul dalam konteks kemampuan retorika sebab secara verbal, sang jenderal mampu menghasilkan pernyataan-pernyataan yang lugas dengan gestur yang tegas – sekalipun pada beberapa kesempatan memang dinilai “berlebihan” oleh lawan politiknya.

Baca juga :
Panen Iklan Debat Capres-Cawapres

Sementara pasangannya, Sandiaga Uno, juga dinilai sebagai sosok yang juga pandai beretorika sejak maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017, sekalipun juga tidak jarang menyulut kontroversi lewat pernyataan-pernyataannya itu.

Terkait hal tersebut, Kenneth Burke dalam A Rhetoric of Motives menyebut bahwa persuasivitas adalah jantung dari retorika dan karenanya barang siapa mampu memaksimalkan gerakan, nada suara, ide dan sikap untuk memengaruhi konstituen akan memenangkan debat publik.

Burke juga menilai bahwa persuasif itu dapat berupa pernyataan-pernyataan yang mengandung unsur kontroversi karena hal itu akan menimbulkan pertanyaan bagi publik.

Memang belum diketahui secara jelas bagaimana konsep THM ini akan benar-benar dilaksanakan oleh kubu Prabowo-Sandi. Namun, konsep ini direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 14 Januari mendatang.

Oleh karena itu, selain memang konsep THM merupakan sesuatu yang positif dalam demokrasi, dalam konteks pemaparan visi-misi kandidat ini bisa dilihat bahwa Prabowo-Sandi lebih siap terhadap apa yang akan mereka kerjakan lima tahun ke depan.

Selain itu, sangat mungkin kubu Jokowi-Ma’ruf Amin menghindari visi-misinya dikonfrontasikan saat debat. Bagaimanapun juga, Prabowo-Sandi akan lebih mudah melihat pencapaian kinerja Jokowi sebagai petahana dan menyerangnya jika banyak janjinya yang tidak tercapai. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (A37)

Facebook Comments