Tolak Kolonialisme, Bukan Risetnya

    Rushdy Hoesein (foto: istimewa)
    3 minute read

    Bukannya takut dengan riset, namun proyek penelitian dari tiga lembaga Belanda tersebut bias pandangan kolonial.


    PinterPolitik.com 

    Ketika Indonesia masih terbata-bata dan berada di ruang gelap sejarah negeri sendiri, tahu-tahu ada tiga lembaga penelitian asal Belanda ingin mengorek kekerasan perang di masa kemerdekaan Indonesia. Proyek penelitian Belanda itu bertajuk ‘Dekolonialisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia 1945 – 1950’.

    Lembaga yang menaungi penelitian ini tak main-main, mereka adalah Lembaga Penelitian Belanda untuk Sejarah Militer (NIMH), Lembaga Ilmu Bahasa, Negara, dan Antropologi Kerajaan Belanda (KITLV) dari Universitas Leiden, dan Lembaga Belanda untuk Penelitian Perang, Holocaust, dan Genosida (NIOD). Fantastis, pihak Kerajaan Belanda rela menggelontorkan dana sebesar 4,1 juta Euro atau sebesar Rp. 64 milyar untuk proyek ini.

    Menariknya, sekaligus yang menyebalkan, para peneliti itu ingin mengulik sisi psikologis orang Indonesia sekaligus mencari angka kematian serdadu Belanda dan indo-Belanda yang dibantai oleh orang Indonesia pada periode tersebut. Duh, apa tidak terbalik, ya? Justru sepanjang perjalanan sejarah tahun 1945 – 1950, pembantaian yang dilakukan kolonial Belanda, dipimpin Westerling di daerah Sulawesi marak dilakukan, memakan ribuan korban.

    Tolak Kolonialisme
    FOTO: ISTIMEWA

    Sudah menguras sumber daya, mencabut nyawa warganya dan mengacak-acak Indonesia, kok masih saja dicari-cari kesalahannya? Situ sehat?

    Ditolak Sejarawan dan Sesama Peneliti

    Rushdy Hoesein, sejarawan Universitas Indonesia sekaligus ketua Pembina Komunitas Historia Indonesia (KHI), langsung saja menolak. “Saya dan teman-teman angkatan ’45, menolak. Karena borok itu mestinya dikompres biar adem, bukan malah dicutik pakai lidi. Nanti bisa jadi bengkak.” Memang bukan alasan yang bagus, namun Bapak berusia 70 ini, sudah mencium bias pandangan kolonial dalam tujuan para peneliti Belanda.

    Marjolein Van Pagee (kebaya putih) foto: istimewa

    Apa itu bias pandangan kolonial? Nah, peneliti asal Belanda dari yayasan Histori Bersama, Marjolein Van Pagee menunjukannya. Menurutnya, ketimbang meneliti dampak psikologis peperangan, lebih baik melakukan penelitian soal pengaruh propaganda Belanda terhadap cara pikir masyarakat Belanda sendiri dalam memandang kolonialisme di Indonesia. “Yang mendasari riset itu serasa konyol,” ujarnya.

    Bias pandangan kolonial yang gagal ditangkap para peneliti Belanda itulah, yang patut kita kritisi dan tolak. Sebab, menurut Rushdy dan Marjolein, mereka hanya akan sampai pada premis ‘Indonesia bersalah’, tapi abai pada kesengsaraan dan penderitaan yang telah diciptakannya selama berabad-abad. Nah, jika sudah sampai pada kesimpulan itu, lantas Belanda mau apa?

    Nah, di sinilah pentingnya kita mempelajari sejarah, jadi kita bisa lihat kekosongan pada bangunan pemikiran orang lain untuk dikritisi dengan baik. Nah lho, tapi gimana mau pintar kalau seminar dan diskusi sejarah di sini dibubarkan terus? Waduh, malu dong sama perpustakaan tertinggi di dunia yang baru dibangun itu. (Berbagai Sumber/ A27)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here