TKN Jokowi: Ada Tukang Ngadu

jokowi maruf amin
Arsul Sani. (Foto: KOMPAS0
2 minute read

“Aku bagai benih di bawah tanah, Aku menanti tanda musim semi.” ~Jalaludin Rumi


PinterPolitik.com

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Arsul Sani, menyebut ada pihak yang memang bekerja untuk mencari-cari kesalahan untuk diadukan ke Bawaslu sebagai strategi politiknya. Pihak manakah yang doi maksud?

Entahlah… yang aku tahu, selama ini kedua belah pihak memang kerap terlihat saling mengadu berbagai dugaan pelanggaran kampanye ke Bawaslu. Perang gugatan gitu deh. Jadi, Bapaknya ini sebenarnya lagi ngomongin pihaknya sendiri juga nggak sih? Kan di sini baik kubu petahana maupun oposisi sama-sama tukang lapor? Eaaa

Ya, seperti yang Pak Arsul katakan, ini kan tahun politik, sedang dekat pemilu, jadi strategi tersebut memang wajar ditemukan. Sebenarnya hal tersebut bagus ya, jadi pada saling mengawasi gitu. Tapi yang nyebelinnya adalah kalau hal yang dilaporkan itu masalah sepele, yang bahkan tidak melanggar kode etik pemilu.

Bayangin gaes, nunjuk dikit lapor, gaya dikit lapor. Ealah, macam anak kecil ribut aja. Mainnya ngadu-ngaduan. Bener nggak gaes?

Dalam urusan pemilu, hanya pada Tuhan dan Bawaslulah tempat mengadu sebaik-baiknya. Click To Tweet

Eike juga jadi bingung nih kalau tiba-tiba Pak Arsul curhat soal pihaknya yang sering kena sasaran pengaduan. Doi curhat waktu Ma’ruf dilaporkan karena menjanjikan sesuatu. Padahal menurutnya, para calon kepala daerah banyak yang menjanjikan sesuatu kepada masyarakat.

Jadi maksudnya emang politisi itu tukang umbar janji gitu ya Pak? Ehhh

Bingung ya, kenapa kubu petahana jadi baper sendiri. Nggak punya kaca atau gimana? Kubu oposisi juga punya curhatan yang sama keleuuuss… Hehehe.

Lagian Kyai Ma’ruf juga ada-ada aja sih. Masa janji mau bagi-bagi tanah negara kepada petani Banyuwangi. Pantes aja oposisi bertanya-tanya, gimana bisa janji macam begitu, emang yang punya tanah Jokowi-Ma’ruf? Ckckckck…

Yaudahlah, katanya lapor-melaporkan hal yang lumrah, bagian konsekuensi dari hak berdemokrasi, konsekuensi sistem pemilu yang terbuka dan massa kampanya yang panjang, jadi ya legowo aja. Kan emang begitu cara persaingannya bukan? (E36)