Tiru Mahathir, Prabowo Tumbangkan Jokowi?

Tiru Mahathir, Prabowo Tumbangkan Jokowi?
Istimewa
3 minute read

“Oposisi Malaysia menang karena kemerosotan ekonomi dan isu investasi Tiongkok, persis seperti di Indonesia. Pak Prabowo insyaallah akan menang pada 2019, mengalahkan Pak Jokowi,” ~ Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade.


PinterPolitik.com

Kemenangan Mahathir Mohamad atas Najib Razak dalam Pemilihan Umum Malaysia bulan Mei 2018 ini sedikit banyak menginspirasi partai oposisi di Indonesia. Kemenangan Mahathir memberikan rasa optimis bagi Gerindra untuk mendukung penuh Prabowo Subianto mengalahkan Presiden Petahana Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Dasar pemikirannya sih karena isu yang diangkat partai oposisi Pakatan Harapan (PH) untuk menumbangkan Perdana Menteri Najib Razak relatif sama dengan isu yang ada di Indonesia. Ngeklaimnya sih Mahathir bisa memenangkan pemilu karena udah berhasil memainkan isu ekonomi, utang dan tenaga kerja asing. Lah bisa samaan ya.

Kalau isu ini berhasil numbangin pemimpin di negara tetangga, di Indonesia pasti bisa juga lah ya. Gitu deh pikiran politisi Gerindra. Eits tunggu dulu, apa iya cuma karena persamaan isu yang diangkat bisa numbangin Presiden Jokowi? Coba deh intip, emangnya kondisi kepemimpinan Jokowi sama Najib serupa ya? Eike rasa beda deh.

Nih ya eike kasi tau, sebagai seorang pemimpin, dibanding Jokowi, Najib itu punya banyak track record negatif. Misalnya aja isu kudeta Abdullah Badawi pada 2009. Lalu, ada kasus pembunuhan model Mongolia Altantuya Shaariibuu pada 2006 dan kasus korupsi 1 Malaysia Development Berhad (MDB) yang diselidiki Amerika Serikat, Swiss, dan Singapura.

Baca juga :  Jagoan Gerindra di Jatim Moreno Soeprapto

Waduh, klo track record-nya kayak gitu ya wajar aja bisa tumbang. Eike rasa tanpa partai oposisi ngangkat isu ekonomi, utang dan tenaga kerja asing, Najib dengan sendirinya juga bisa dilengserkan kok. Ya mungkin masyarakat Malaysia udah gerah dengan kepemimpinan Najib, dan mengidamkan pemimpin baru. Dan Mahathir Mohamad adalah sosok ideal.

Sejauh ini sih Jokowi relatif bersih, gak ada skandal kasus besar yang menjeratnya. Kalau cuma modal isu aja, itu sih nanti juga ilang dengan sendirinya. Gimanapun juga isu tanpa didukung fakta data yang kuat sama aja hoax keles. Mau numbangin Jokowi modal hoax? Jiah, cape deh. Yang ada nanti rakyat malah gak respect dengan poltisi yang melulu menggunakan hoax sebagai amunisi politik.

Jadi selain faktor track record negatif Najib, kemenangan Mahathir itu juga karena Mahathir sendiri punya rekam jejak prestasi selama ia menjadi Perdana Menteri antara tahun 1981 sampai 2003. Jadi ada rasa rindu masyarakat Malaysia akan kepemimpinan Mahathir yang dianggap lebh baik semasa menjabat dahulu. Terus Prabowo punya apa untuk dibandingkan dengan Jokowi? Hadeuh.

Jadi dibagian mana Gerindra optimis kalau Prabowo juga bisa menumbangkan Jokowi hanya karena melihat kesamaan isu dengan Pemilu Malaysia? Ini mah namanya optimis buta. Rasa optimis ini sebenarnya tidak lebih hanya sekedar untuk menghibur diri sendiri yang sedang mengalami keterpurukan. Ya seperti perkataan filsuf Voltaire (1694-1778): “Optimism is the madness of insisting that all is well when we are miserable.” (K16)

Share On

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here