Terpisah oleh Satu Samudera (Bagian II)

Oleh: Omar Rasya Joenoes, dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid

Terpisah oleh Satu Samudera (Bagian II)
5 minute read

Sikap keras Indonesia terhadap China dapat dimaklumi mengingat dalam beberapa tahun terakhir ini banyak negara di Asia Tenggara, terutama Filipina yang saat ini dipimpin oleh Presiden Rodrigo Duterte, sepertinya sudah pasrah menghadapi usaha China untuk mendominasi Laut China Selatan.


PinterPolitik.com

China, Amerika dan Indonesia di Laut China Selatan

Semenjak kekuatannya mendunia, China sudah berusaha untuk menguasai wilayah Laut China Selatan dan membuat banyak negara khawatir. Masuknya wilayah perairan Indonesia ke dalam Nine Dash Line yang dibuat oleh China terkait klaim mereka di Laut China Selatan terbukti hanya memperburuk keadaan.

Berdasarkan laporan The New York Times, terhitung hingga hari ini sudah terjadi sengketa sebanyak tiga kali di atas Laut China Selatan antara China dan Indonesia karena klaim China bertabrakan dengan kebijakan pemerintah Indonesia dimana pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang dimulai sejak Oktober 2014, memang tidak segan untuk menenggelamkan kapal-kapal asing yang melakukan illegal fishing di perairan Indonesia.

Sikap keras Indonesia terhadap China dapat dimaklumi mengingat dalam beberapa tahun terakhir ini banyak negara di Asia Tenggara, terutama Filipina yang saat ini dipimpin oleh Presiden Rodrigo Duterte, sepertinya sudah pasrah menghadapi usaha China untuk mendominasi Laut China Selatan.

Karena alasan inilah Indonesia memilih untuk mempertajam strategi di laut China Selatan yang tidak hanya sekedar jargon untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia di  wilayah tersebut, tapi juga memperkuat tujuan Indonesia untuk melindungi kebebasan berlayar, mencari ikan dan hak-hak lainnya di atas laut itu.

Beberapa contoh bukti kesungguhan Indonesia disebutkan oleh Reuters yang melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo, selain sudah melakukan beberapa kali latihan miiter di laut Cina Selatan semenjak awal tahun 2016, di bulan Juli 2017 juga berusaha untuk menahan pengaruh China di laut China Selatan dengan menyebut wilayah yang disengeketakan tersebut sebagai Laut Natuna Utara.

Baca juga :
Ijtima Ulama Berani Lawan Ma’ruf?

Sementara itu, wujud nyata dari usaha Amerika Serikat untuk membendung pengaruh China di wilayah tersebut dapat dilihat di tahun 2017, ketika The Diplomat melaporkan bahwa Amerika melakukan latihan militer bersama kapal perang terbesar milik pemerintah Jepang, yang bernama Izumo, di Laut China Selatan.

Reuters menjelaskan bahwa ini adalah pertama kalinya semenjak perang dunia kedua Jepang menunjukkan kepada dunia kekuatan angkatan laut mereka dan sebagai akibatnya pemerintah China berjanji akan bereaksi keras bila Jepang terus-terusan berbuat salah di mata China .

Jalur Sutra dan Poros Maritim Global

Sangat penting bagi Amerika Serikat untuk bertindak secara cepat dan tepat karena tidak hanya amat penting bagi fokus dan komitmen pertahanan Amerika Serikat di wilayah Laut China Selatan selaras dengan prioritas luar negeri Indonesia untuk tahun 2018, di mana pembentukan perencanaan kebijakan regional dengan membina kerjasama strategis dan dialog merupakan bagian dari tujuan Indonesia.

Namun, terlepas dari sengketa antara Indonesia dengan China di laut Cina Selatan, China memandang Indonesia sebagai mitra yang potensial di bidang maritim dan bekerjasama dengan Indonesia di bidang maritim akan menguntungkan China lebih banyak lagi di bidang perdagangan.

Xinhua News Agency, yang merupakan kantor berita resmi China melaporkan di tahun 2015 bahwa Jakarta dan Beijing memandang jalur sutra maritimnya China di abad ke 21 dan rencana poros maritim globalnya Indonesia memiliki potensi menguntungkan bagi kedua negara apabila dan sinkronisasi antar kedua negara. Untuk itu Indoensia dan China sudah berkomitmen untuk membangun kerjasama maritim demi memajukan dan menguntungkan kedua negara.

Presiden Xi Jinping berjanji bahwa China memiliki dedikasi untuk membantu usaha-usaha Indonesia dalam percepatan pembangunan infrastruktur maritim dengan bantuan dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan Silkroad fund. Sebagai gantinya, Presiden Joko Widodo menyambut partisipasi China untuk membantu pembangunan infrastruktur di Indonesia dengan tangan terbuka.

Baca juga :
Kartini dan Ancaman Anti-Feminisme

Tidak butuh waktu lama bagi kerjasama antara China dan Indonesia untuk terbentuk. Sebagai contoh, pada tahun 2017 koran Jakarta Post meliput sebuah konferensi di Manado untuk mengembangkan sektor kelautan antara Indonesia dan China.

Konferensi ini bernama Manado International Conference on Tourism, dan meskipun acara ini melibatkan banyak negara termasuk Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Australia, dan Korea Selatan, nampak jelas bahwa acara tersebut merupakan panggung bagi Indonesia dan China untuk mempererat hubungan mereka, apalagi acara tersebut menghasilkan investasi sebesar $200 juta dimana China dapat membangun pusat pelatihan penyelaman, pusat perbelanjaan, hotel dan apartemen di Manado Selatan.

Sebuah perjanjian turut dibuat antara Dalian Maritime University, yang merupakan salah satu institusi maritim penting di bawah naungan Departemen Perhubungan di China, dan lima perguruan tinggi dari Indonesia: Institut Teknologi Bandung, Universitas Sam Ratulangi, Politeknik Negeri Manado, Universitas Negeri Manado, dan Universitas Hasanuddin.

Contoh kerjasama dalam bidang kemaritiman antara Jakarta dan Beijing dilaporkan oleh Dalian Maritime University, di mana pada tanggal 30 Mei 2018 mereka mengirim kapal yang mereka gunakan untuk berlatih, yang bernama Yu Kun, ke Tanjung Priok untuk menandatangani MoU dengan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, dan pada tanggal 5 Juni 2018 ke Tanjung Perak untuk menandatangni MoU dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya.

Buah dari hubungan dagang antara Jakarta dan Beijing dapat dilihat dari artikel yang dipublikasikan oleh Jakarta Post pada tanggal 5 Mei 2018, yang ditulis langsung oleh Perdana Menteri China Li Keqianq, di mana dalam artikel tersebut Perdana Menteri Li Keqiang menyebutkan bahwa China merupakan bukan hanya sumber investasi asing terbesar bagi Indonesia namun sekaligus juga kongsi dagang terbesar bagi Indonesia selama 7 tahun berturut-turut.

Baca juga :
India vs Taliban di KPK?

Pada tahun 2017 perdagangan antar kedua negara mencapai $ 63,3 milyar dan ada kenaikan sebesar 18% pada tahun berjalan.  Sang Perdana Menteri juga beranggapan bahwa pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung berjalan lancar.  Tidak lupa juga, ia menambahkan bahwa China merupakan pemasok wisatawan asing terbesar ke Indonesia dan negara tujuan belajar terbesar kedua bagi warga negara Indonesia.

Bersambung…

*****

Omar Rasya Joenoes merupakan lulusan dari Departemen Kajian Wilayah Amerika Serikat. Ia memiliki ketertarikan terhadap hubungan internasional. Saat ini, ia menjabat sebagai dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid.


“Disclaimer: Opini ini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.”

Facebook Comments