Di Pilpres nanti, kabarnya duet Cak Imin dengan AHY bisa jadi akan membahayakan posisi Jokowi dan Prabowo. Benarkah?
PinterPolitik.com
“AHY – Muhaimin atau Muhaimin – AHY suatu hal yang bisa disintesa untuk membuat sebuah poros ketiga.”
[dropcap]U[/dropcap]tak atik calon presiden yang akan maju di Pilpres 2019 nanti itu, seperti mengisi teka teki silang tanpa pertanyaan yang pasti. Pokoknya kalau kelihatan pas dan berhasil memenuhi kotak kosong, ya sah-sah saja untuk diajukan.
Seperti juga yang dilakukan oleh Pengamat Politik Ari Nurcahyo dari Para Syndicate yang mengatakan, jika Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) berkoalisi di 2019 nanti, dinilai akan mampu menjadi penantang yang tangguh untuk berhadapan dengan poros Jokowi maupun Prabowo.
Mengapa membahayakan? Ari menilai, kedua tokoh muda ini akan mampu menyelaraskan poros nasionalis-agamis. Sebagai ketua umum PKB, Cak Imin memiliki pendukung dari massa Nahdlatul Ulama (NU) yang jumlah terbesar di Indonesia. Sementara AHY, memiliki dukungan Demokrat, partai dengan suara terbesar keempat.
Walau elektabilitas keduanya tidak setinggi Jokowi maupun Prabowo, mungkin Ari menilai kalau masyarakat Indonesia membutuhkan alternatif calon presiden yang lebih segar. Atau juga yang mampu memberikan harapan atau janji baru bagi masyarakat, selain dua calon presiden dari ‘stok lama’ tersebut.
Kalo bener terjadi kolaborasi Cak Imin – AHY ini akan jadi poros baru yang kuat. Rakyat Indonesia diberi pilihan yang lain yg apik
— Gigih Prayitno (@gigihprytn) October 29, 2017
Kalau dipikir-pikir, banyaknya pengamat yang mengajukan pasangan poros baru untuk Pilpres nanti, mungkin karena dalam kenyataannya, masyarakat memang sudah jenuh dengan pilihan yang sudah ada. Pemerintahan Jokowi yang kurang mampu menyentuh kelas bawah dan masa lalu serta strategi kampanye Prabowo yang kurang mengena, bisa jadi salah satu penyebabnya.
Lihat saja hasil polling Polmark lalu, bisa dibilang hampir setengah dari jumlah masyarakat Indonesia masih belum bisa menentukan siapa pilihannya. Apakah Jokowi? Tapi kondisi perekonomian negara masih morat marit begitu, atau Prabowo? Apa jadinya pemerintahan dengan kekuasaan dipengaruhi oleh segelintir kelompok tertentu yang selalu merasa superior akan mayoritas keagamaannya?
Lalu bagaimana dengan AHY? Apakah negara ini akan mampu ditangani oleh pemuda yang belum banyak memiliki pengalaman cukup di politik? Atau Cak Imin yang peranannya selalu terganjal dengan jumlah suara dan elektabilitas? Apakah benar keduanya akan mampu menghadang kemegahan nama Jokowi dan Prabowo? (R24)