Telur Ayam Coreng Kredibilitas Jokowi?

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke pasar tradisional. Foto: Istimewa.
6 minute read

Bagaimana para kapitalis berupaya memainkan harga di pasaran hingga menyebabkan masyarakat tidak percaya pada sebuah rezim pemerintahan? 


PinterPolitik.com

Harga telur ayam di pasaran beberapa waktu lalu sempat naik tajam, sebentar lagi masyarakat mungkin bakal mendengar dalih-dalih pemerintah yang mengatakan: rakyat jangan panik, kondisi ekonomi kita berjalan baik. Sudah barang tentu, para elit politik yang berkuasa akan mengatakan demikian, jika tidak, kredibilitas politik akan tercoreng. Apalagi ini musim politik. Perkara ekonomi adalah isu yang sensitif, bukan begitu?

Sebelumnya, dalam beberapa bulan terakhir ini, Anda dapat mengamati beberapa fenomena ekonomi yang sebenaranya tidak pro terhadap rakyat, misalnya kenaikan harga bensin jenis Pertamax, melonjaknya komoditas impor dan serangan produk-produk Tiongkok ke pasar Indonesia akibat perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok.

Fenomena lainnya adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, dan membengkaknya nilai utang negara terhadap bank-bank pendonor. Soal hutang, memang tidak masalah, sejauh pemerintah kita memiliki kemampuan untuk melunasinya dalam tempo waktu yang ditentukan. Tapi sejauh mana Indonesia punya kemampuan untuk membayar? Tentu perlu untuk didiskusikan lebih lanjut.


Tapi yang jelas, kali ini ada kabar buruk yang berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat yakni kenaikan harga telur ayam di pasaran. Padahal, telur termasuk bahan pangan favorit karena tergolong murah dan mudah didapatkan. Harga telur sempat melonjak di pasar Jakarta dari 22.000 per kilogram menjadi 28.000 beberapa waktu lalu.

Kenaikan itu pun telah memicu respons beragam di media massa. Ada yang bilang, kenaikan harga telur tidak terlepas dari faktor tingkat produktivitas yang menurun.

Sementara menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, kenaikan harga telur bisa saja dipicu oleh adanya aksi spekulan di pasaran. Aksi spekulan yang dimaksud adalah terdapat kemungkinan para distributor atau pihak perantara mengambil keuntungan secara tidak wajar sehingga menyebabkan harga menjadi mahal.

Kenaikan harga telur ayam ini memang sedikit mengganjal, jika alasannya kelangkaan (scarcity) tentu tidak, faktanya Menteri Pertanian Andi Arman Sulaiman berpendapat bahwa stok telur di Indonesia hingga Desember 2018 mengalami surplus sebesar 2.402 ton dengan rincian perkiraan kebutuhan produksi sebanyak 1.732.952 ton, sementara perkiraan kebutuhan  1.730.550 ton.

Jika terjadi surplus, lantas apa faktor pendorong kenaikan harga telur ayam?

Tampak, ada tiga kemungkinan, pertama akibat meroketnya nilai dolar sehingga cost impor terhadap bahan baku pakan ternak mengalami kenaikan. Sejauh ini Indonesia memang masih tergantung pada impor bahan baku pakan ayam sekitar 35 persen, bahan baku tersebut ialah bungkil kedelai, tepung, daging dan tulang, kompenen impor ini mencapai 75 persen dari total cost.

Kedua, perkataan menteri perdagangan ada benarnya, yakni kemungkinan adanya permainan spekulan yang sengaja ingin mendapatkan keuntungan lebih. Sementara, kemungkinan ketiga mungkin ada sekelompok orang yang tidak suka terhadap Jokowi dan ingin mencoreng nama baiknya melalui upaya-upaya spekulasi seperti ini.

Untuk lebih jauh berbicara terkait spekulan, perlu untuk diketahui ada tiga korporasi besar internasional yang memproduksi bahan baku pakan ternak untuk Indonesia. Pertama adalah PT Japfa Comfeed. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan pakan ternak terbesar di Indonesia, pertama kali beroperasi  pada 1971 dengan nama PT Java Pelletizing Factory. CEO perusahan ini bernama Handojo, pada 2014 dia memiliki kekayaan senilai 555 juta dolar AS, dan merupakan orang terkaya ke-49 di Indonesia menurut majalah Forbes.

Kedua adalah Charoen Pokphand, merupakan perusahaan pakan ternak terbesar di dunia. CEO perusahaan ini adalah Dhanin Chearavanont. Ia merupakan orang pertama terkaya di Thailand dan menempati posisi ke-81 daftar orang terkaya  di dunia pada 2015 menurut majalah Forbes.

Ketiga adalah perusahaan PT Cargill yang didirikan pada 1974 di Bogor, Jawa Barat. Ini merupakan perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yang memproduksi lebih dari 100 macam produk pakan ternak dan unggas. CEO dari perusahaan ini adalah Dave MacLenana, seorang pebisnis asal Amerika.

Tapi apakah dapat dibilang perusahaan ini melakuan praktek kartel sehingga harga telur ayam di pasar meroket? Melihat dari jaringan bisnisnya yang besar kemungkinan tersebut selalu ada, meskipun perlu dibuktikan lebih lanjut.

Dalam dunia perternakan Indonesia, praktek kartel memang pernah terjadi pada 2016 silam, ketika 12 perusahaan dinyatakan terbukti melakukan kartel oleh Komisi Pengawas Persaiangan Usaha (KPPU). Dua di antara 12 perusahaan tersebut adalah PT Japfa Comfeed dan Charoen Pokphand. 12 perusahaan tersebut diputus bersalah karena terbukti bersepakat melakukan afkir dini induk ayam (parent stock) atau pembunuhan massal terhadap ayam dengan tujuan mengurangi stock agar harga ayam di pasaran menjadi mahal.

Kredibilitas Politik

Lantas dengan melihat fenomena ini siapakah yang harus disalahkan? Tentu adalah para menteri kabinet kerja Jokowi, terutama Menteri Pertanian Andi Arman Sulaiman dan Perdagangan Enggartiasto Lukita. Jika dilihat secara khusus, Enggar merupakan politisi Golkar yang hijrah ke Nasdem.

Fenomena kartel di atas dan kenaikan harga telur ayam di pasaran saat ini dapat menjadi inidikasi bahwa kementerian tersebut tidak cukup piawai dalam mengantisipasi lonjakan harga serta aksi para spekulan di pasaran. Tentu fenomena ini sekaligus merupakan pukulan bagi kredibilitas politik Jokowi. Berdasarkan kondisi tersebut, kinerja kedua menteri tersebut menjadi dalam tanda tanya besar.

Presiden Jokowi tampak tak bisa bersembunyi dari fenomena ini, meski secara politik Jokowi memang kuat, tapi gejolak ekonomi saat ini telah memicu perhatian rakyat untuk melihat kinerja bapak yang pernah terkenal dengan gaya blusukan ini.

Gejolak ekonomi yang bertubi-tubi juga tampak seperti sebuah kesengajaan. Tidak heran oposisi selalu menyerangnya dengan problem-problem ekonomi.

Kondisi ekonomi saat ini memang memicu kecurigaan. Dolar yang tak kunjung turun juga patut membuat kita bertanya-tanya apakah ini betul-betul merupakan sebuah upaya dari sekelompok orang untuk menurunkan elektabilitas Jokowi? Atau bahkan ingin menjatuhkannya dari kursi kekuasaan.

Fenomena seperti ini setidaknya pernah ditulis ole David DeGraw dalam “The Financial Coup d’Etat: Consolidation of America’s Economic Elite . Maksud dari tulisan ini disebutkan bahwa sebuah rezim berkuasa dapat saja dilengserkan secara finansial, atau yang lebih dikenal dengan nama kudeta finansial.

Kudeta finansial selama ini erat kaitannya dengan operasi intelijen untuk menjatuhkan rezim yang sedang berkuasa. Kudeta jenis ini, konon pernah terjadi Indonesia terhadap Presiden Soeharto. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh penasehat ekonomi Soeharto bahwa IMF berada di di balik kejatuhan Soeharto. Hal ini juga dibenarkan oleh Michael Camdemsus yang kala itu menjabat sebagai direktur IMF.

Memang, sejauh ini tidak ada bukti atau indikasi bahwa isu telur ini akan dibawa jauh ke kudeta. Akan tetapi, isu finansial dalam butir-butir telur ini bisa mencederai kredibilitas Jokowi jelang Pilpres 2019.

Melihat sekelumit problem ekonomi saat ini, bukan tidak mungkin jika terdapat kemungkinan adanya konspirasi politik untuk menjatuhkan Jokowi. Dalam politik orang-orang selalu mencari cara untuk menjatuhkan lawan politiknya. Apalagi, mengingat posisi Jokowi yang kuat sebagai kandidat Pilpres 2019 tentu para rival politiknya bakal mencari segala cara.

Isu spekulan yang dihembuskan oleh Mendag bisa saja benar. Bukan sembarang spekulan, tetapi bisa saja ada orang yang memang tidak suka dengan kebijakan Jokowi. Apalagi, melihat praktik politik Jokowi yang kekiri-kirian tentu membuat ketakutan banyak pihak, terutama korporasi besar.

Dan, mungkin saja salah satu upaya kudeta tersebut dilakukan dengan membuat harga barang-barang di pasaran naik, sehingga rakyat mulai merasa tidak lagi percaya dengan sang Presiden. Tentu, menarik untuk ditunggu, apa yang terjadi dikemudian hari. (A34)