Tarung Efek Rhoma vs Slank

Tarung Efek Rhoma vs Slank
Rhoma Irama dan Sandiaga Uno menyanyikan lagu dangdut bersama saat kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017. (Foto: Istimewa)
8 minute read

Berbagai kegiatan kampanye politik selalu dimeriahkan dengan penampilan-penampilan musik dari musisi terkenal. Musisi-musisi ini pun tak jarang turut terlibat dengan menyuarakan dukungannya untuk masing-masing paslon dalam Pilpres 2019.


PinterPolitik.com

“One good thing about music, when it hits, you feel no pain,” – Bob Marley, penyanyi reggae asal Jamaika

Dimeriahkannya kampanye-kampanye politik dengan penampilan musik turut menarik perhatian para pendukung. Musisi-musisi ini pun tentunya dapat “membius” audiens yang datang untuk mendukung kandidat tertentu.

Paslon nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin misalnya, mendapatkan sumbangan suara dari musisi-musisi yang menggelar konser “Putih adalah Kita” beberapa hari lalu. Konser tersebut pun disebut-sebut menampilkan berbagai musisi papan atas Indonesia.

Dalam konser yang digelar di Kemang tersebut, pengisi-pengisi acara berasal dari berbagai aliran musik, seperti penyanyi jazz Dira Sugandi, penyanyi rap Iwa K, penyanyi rock Andi Rif, penyanyi pop Yuni Shara, dan sebagainya. Musisi-musisi yang tampil dalam konser tersebut juga mendeklarasikan dukungannya terhadap Jokowi-Ma’ruf.

Selain konser tersebut, beberapa produk musik pun diciptakan guna mendukung Jokowi-Ma’ruf. Grup band Slank misalnya, membuat sebuah lagu dan klip video bertajuk #BarengJokowi bersama banyak seniman, olahragawan, dan budayawan. Slank sendiri pernah mendeklarasikan diri untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf dan akan tampil dalam Kampanye Akbar paslon tersebut pada 13 April 2019 mendatang.

Tidak hanya kubu Jokowi-Ma’ruf, penampilan musik dari berbagai musisi pun turut mewarnai kegiatan-kegiatan kampanye paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Musisi muda seperti Nissa Sabyan misalnya, turut menyumbangkan suaranya untuk paslon tersebut dalam berbagai kegiatan kampanye.

Dukungan musisi untuk Prabowo-Sandi juga datang dari keluarga Ahmad Dhani. Mulan Jameela dan Al Ghazali turut tampil dalam kegiatan kampanye Prabowo-Sandi dan mendukung paslon tersebut.

Selain itu, sang Raja Dangdut Rhoma Irama yang secara aktif mendukung Prabowo-Sandi juga beberapa kali tampil dalam berbagai kegiatan kampanye paslon tersebut. Rhoma memang diketahui sudah sejak Pilkada DKI Jakarta 2017 mendukung Sandi.

Baca juga :
Prabowo Siap Berperang?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengenai peran musik itu sendiri dalam politik. Mengapa musik menjadi penting dalam kampanye? Lalu, apa dampaknya terhadap Pilpres 2019?

Politik Musik

Hubungan antara musik dan politik memang memiliki sejarah yang sangat panjang. Persinggungan di antara keduanya pun juga bukan merupakan hal yang asing bagi masyarakat, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

John Street dalam tulisannya yang berjudul Music as Political Communication menjelaskan bahwa konten lirik dalam lagu ditujukan untuk menyampaikan pesan-pesan politik tertentu. Selain itu, ritme dan melodi musik juga dianggap mampu menggerakkan orang-orang secara langsung dan spontan dalam gerakan politik.

Street pun juga menjelaskan bahwa musik dalam fungsinya sebagai propaganda juga sering kali digunakan dalam kampanye-kampanye politik dalam Pemilu. Branding yang dilakukan kandidat dianggap dapat terbantu dengan penampilan musik dalam kampanye.

Terbantunya branding kandidat ini terjadi karena resonansi visi dan nilai yang diajukannya dengan pesan musik itu sendiri. Asumsi bahwa musik memiliki kaitan dengan pesan dan nilai yang diajukan oleh politisi ini turut dikuatkan dengan koneksi musik dengan identitas. Kaitan musik dengan identitas ini nyatanya memang dapat memengaruhi pilihan politik seseorang. Simon Frith dari University of Edinburgh dalam tulisannya yang berjudul Music and Identity menjelaskan bahwa politik identitas juga dipengaruhi oleh musik, terutama dalam esensi kultural suatu kelompok.

Frith pun melanjutkan bahwa musik merupakan salah satu wadah aktualisasi diri. Bagi pencipta dan pendengarnya, musik merupakan cara memposisikan diri dalam dunia ini, yaitu bagaimana orang tersebut melihat cara dunia ini bekerja, seperti perasaan, kebenaran, dan identitas itu sendiri.

Identitas ini pada tahap selanjutnya dapat ditranslasikan menjadi suara dan dukungan pada paslon tertentu.

Kaitan musik dan politik ini bisa dilihat dalam Pemilu 2016 di Amerika Serikat (AS). Dalam Pemilu yang diikuti oleh Hillary Clinton dan Donald Trump tersebut, musisi-musisi populer pun turut menyuarakan dukungannya dan tampil di beberapa kegiatan kampanye.

Beyoncé dan Jay Z misalnya, secara aktif mendukung Clinton dalam berbagai kegiatan kampanyenya. Pasangan selebriti tersebut turut mempromosikan Clinton dengan disertai penampilan musik. Dukungan untuk Clinton pun juga datang dari musisi-musisi rap lainnya, seperti Chance the Rapper, J. Cole dan Big Sean.

Baca juga :
JK: Dana Pensiun Koruptor Pecah

Di kubu lawan, Trump memang tidak mendapatkan dukungan musisi sebesar Clinton. Namun, jika Clinton banyak didukung oleh musisi rap, Trump pun berhasil menarik banyak dukungan dari musisi-musisi aliran lain, seperti country dan rock.

Musisi-musisi seperti Kid Rock, Loretta Lynn, Gene Simmons, dan Ted Nugent secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap Trump. Ted Nugent sendiri pun menyajikan permainan musiknya dalam beberapa kegiatan kampanye Trump.

Jika kita memperhatikan pola dukungan musisi di antara keduanya, pengaruh identitas dan musik pun cukup nampak jelas di dalamnya. Musik country sendiri sering kali dianggap sangat dekat dengan kelompok Kaukasia-Amerika. Di sisi lain, musik rap dan hip-hop lahir dari dan didominasi oleh kelompok Afrika-Amerika dan Latin-Amerika.

Politik identitas juga dipengaruhi oleh musik, terutama dalam esensi kultural suatu kelompok Click To Tweet

Selain itu, perbedaan nilai antara musisi dan kandidat juga turut mewarnai Pemilu AS 2016. Penyanyi asal Inggris, Adele misalnya, menyatakan komplainnya kepada Trump ketika lagunya digunakan dalam kegiatan kampanye. Beberapa bulan kemudian, Adele pun menyatakan bahwa dirinya mendukung Clinton dengan banyaknya ketidaksepakatan dirinya terhadap visi Trump.

Lalu, bagaimana dengan konteks yang terjadi di Indonesia jelang Pilpres 2019?

Jika kita berkaca pada apa yang terjadi di AS, musik tentunya memiliki kaitan dengan identitas dan politik. Konten dan irama yang berbeda-beda dalam musik Indonesia juga dapat memengaruhi pilihan politik pun narasi identitas yang ada di belakangnya.

Slank vs Rhoma Irama

Dalam Pilpres kali ini, masing-masing kubu pun didukung oleh nama-nama besar dalam industri musik Indonesia. Seperti sudah disebutkan di awal tulisan, kubu Jokowi-Ma’ruf didukung oleh salah satu band terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu Slank. Di sisi lain, penyanyi dangdut legendaris, Rhoma Irama, mendukung Prabowo-Sandi.

Slank sendiri merupakan band beraliran rock yang populer di kalangan muda. Michael Bodden dalam tulisannya yang berjudul Rap in Indonesian Youth Music of the 1990s menjelaskan bahwa Slank menyajikan musik underground yang dianggap dekat dengan kehidupan sehari-hari kelompok muda progresif dengan narasi protes terhadap isu-isu sosial.

Kehadiran band yang awalnya merupakan musisi alternatif ini mungkin dapat membantu Jokowi dalam menarik suara kelompok muda yang kontradiktif dengan nilai-nilai kemapanan. Emma Baulch dalam tulisannya yang bejudul Alternative Music and Mediation in Late New Order Indonesia menjelaskan bahwa Slank sendiri pada dasarnya merupakan bentuk perlawanan terhadap kemapanan yang ditanamkan pada era Orde Baru.

Baca juga :
Di Balik Surat SBY

Lalu, bagaimana dengan musik dan musisi di kubu Prabowo?

Pelibatan Rhoma dalam berbagai kegiatan kampanye Prabowo-Sandi juga dapat membantu perolehan suaranya. Dangdut sendiri merupakan aliran musik yang banyak disukai di Indonesia. Roos Sekewael dari Leiden University dalam tesisnya yang berjudul Indonesian Popular Music and Identity Expression menjelaskan bahwa dangdut menjadi musik “rakyat” sejak tahun 1990an.

Sekewael pun melanjutkan bahwa anggapan dangdut sebagai musik kelas bawah pun sangat kental di Indonesia. Dangdut pun dianggap merupakan bentuk ekspresi masyarakat lapisan bawah guna melawan standar-standar perilaku yang ditentukan oleh kelompok menengah ke atas.

Uniknya lagi, dangdut yang sebelumnya bernilai sekuler – disertai dengan tarian dan pakaian erotis – juga mendapatkan perlawanan oleh bentuk dangdut lain, yaitu dangdutnya Rhoma Irama. Sang Raja Dangdut tersebut pun disebut-sebut sebagai penyanyi dangdut yang menanamkan nilai-nilai Islam lewat musiknya.

Hal tersebut pun dijelaskan oleh Andrew N. Weintraub dalam bukunya yang berjudul Dangdut Stories. Menurut Weintraub, lagu-lagu sang Raja Dangdut tersebut kerap digunakan oleh kelompok masyarakat lapisan bawah untuk menyuarakan aspirasinya, sekaligus menjadi instrumen Rhoma untuk mempromosikan nilai-nilai Islam.

Lagu-lagu Rhoma sendiri juga membawa nilai-nilai Islam dalam konten-konten liriknya, misalnya terhadap nilai-nilai hedonisme – miras atau narkoba – dan lain sebagainya. Penggunaan nilai-nilai Islam dalam lagu Rhoma ini pun juga dijelaskan oleh Sekewael dalam tulisannya.

Selain itu, promosi nilai-nilai Islam Rhoma ini juga tampak secara jelas ketika penyanyi dangdut populer lainnya, Inul Daratista, dikritik oleh sang Raja Dangdut. Perseteruan itu pun disebabkan oleh asumsi Rhoma yang melihat penampilan musik Inul yang menurutnya menabrak nilai-nilai moral.

Penggubah Irama Prabowo?

Melihat panasnya kontestasi Pilpres 2019 ini, satu pertanyaan lain pun timbul. Jika kedua kubu menggunakan musik dalam menarik suara, manakah yang lebih unggul?

Jawabannya memang relatif. Slank punya pendukung garis keras, Rhoma pun demikian.

Namun, dalam konteks kondisi politik saat ini, kehadiran Rhoma bisa saja menjadi keunggulan lebih bagi Prabowo-Sandi. Dangdut yang identik dengan masyarakat lapisan bawah juga memiliki resonansi dengan pesan-pesan Prabowo yang mengkritik kelompok elite di Indonesia.

Selain itu, narasi Islam yang disajikan oleh Rhoma juga dapat memberikan keuntungan bagi Prabowo-Sandi. Ariel Heryanto dalam tulisannya yang berjudul Upgraded Piety and Pleasure menjelaskan bahwa kelompok lapisan menengah di masyarakat Indonesia mulai mengadopsi nilai-nilai Islam sebagai tren dan budaya populer.

Penggunaan narasi-narasi Islam oleh Rhoma dan Nissa Sabyan dalam musiknya pun bukan tidak mungkin juga dapat menarik suara dari kelompok lapisan menengah di Indonesia. Resonansi antara Rhoma dan Nissa Sabyan dengan tren populer Islam di Indonesia dapat membantu Prabowo-Sandi berada pada posisi yang lebih menguntungkan dalam Pilpres 2019.

Intinya, berbagai penggunaan musik dalam kampanye politik membawa pengaruh tersendiri dalam Pilpres 2019. Keterkaitan identitas di dalamnya juga dapat membantu masing-masing paslon dalam menarik suara. Bila dikaitkan dengan situasi dan kondisi saat ini, tentunya musik dapat turut menguntungkan salah satu paslon.

Namun, pada akhirnya, semua itu pun bergantung juga pada selera musik masing-masing pemilih. Yang jelas, banyak dari kita akan tetap menyayangi playlist musik kita masing-masing karena, sesuai kata Bob Marley di awal tulisan, musik tidak akan menyakiti diri kita. Bukan begitu? (A43)

Facebook Comments