Takut Cadar Pasca Ledakan

6 minute read

Ledakan bom yang terjadi di Surabaya, berimbas pada makin terpojoknya para pengguna cadar. Apa yang harus dilakukan?


PinterPolitik.com

Menteri Agama Lukman Ali Saifuddin, memang tak main-main saat “meramal” bahwa pasca ledakan bom di Surabaya, akan meningkatkan kecurigaan masyarakat terhadap pengguna cadar. Pernyataannya itu langsung saja terbukti dengan beberapa kejadian diskriminatif yang menimpa pengguna cadar.

Seorang santri belia berusia 14 tahun di daerah Tulungagung, Jawa Timur, harus kena apes karena dipaksa turun oleh kondektur dan penumpang akibat memakai cadar. Kejadian tersebut sempat divideokan dan viral di media sosial. Kejadian tak mengenakkan lainnya juga terjadi pada pengguna cadar yang tiba-tiba saja mendapat makian dari seorang preman di daerah Bogor.

Dari dua peristiwa yang terekam tersebut, tak mengherankan apabila komunitas pemakai cadar lantas mengadakan aksi damai bertajuk “Peluk Aku” dalam kesempatan Car Free Day pada Minggu (20/5) lalu. Untuk melepaskan penilaian cadar dengan terorisme, ekstremisme, dan radikalisme, komunitas ini mendekati masyarakat dengan pelukan.

Salah satu pelaku terorisme Surabaya memang mengenakan cadar dalam aksinya. Hal ini lantas menjadi sebuah penanda yang melahirkan stigma dari masyarakat kepada pengguna cadar.

Stigma yang lahir tersebut, merupakan sebuah “pola” yang tak hanya terjadi pada kasus teror bom Surabaya, tetapi teror bom keseluruhan yang membawa simbol Islam. Hal ini pernah dijelaskan oleh Dreirdre Ruth Hayes dalam karyanya berjudul Framing the Veil: From the Familiar to the Feared.

Hayes berkata bahwa pasca serangan atau teror yang membawa afiliasi agama Islam di dalamnya, akan mengubah makna penutup kepada dan wajah (cadar) menjadi sebuah ilusi, halusinasi, depresi, ketakutan, kesucian, hingga kematian. Dari sini, stigma terhadap cadar lantas dilahirkan.

Oleh Erving Goffman, stigma disebutkan sebagai fenomena saat sebuah atribut atau individual atau kelompok, didiskreditkan sebagai proses dan reaksi yang dianggap tidak normal. Goffman melanjutkan, korban stigma ini secara mental lantas akan merasa diklasifikasi dan tak diinginkan. Ini pula yang terjadi pada beberapa pengguna cadar yang mengaku ketakutan keluar rumah sebab akan disudutkan masyarakat.

Lantas bagaimana cara yang bisa ditempuh supaya masyarakat memahami terorisme tanpa melihat cadar sebagai “seragam” khas teroris? Siapa tokoh yang pernah bersikap sangat anti terhadap Islam dan menyebarkan kebencian soal cadar?

Anti Islam Ala Pauline Hanson

Bila berbicara tentang stigma cadar, maka perlu membahas aksi yang pernah dilakukan Pauline Hanson, politisi berusia 63 tahun asal Australia. Hanson saat ini menjabat sebagai Ketua Partai One Nation (Satu Bangsa), sekaligus pendirinya.

Hanson pernah membuat dunia terbelalak karena memakai burqa ke dalam gedung senat. Aksi yang direspon lirih Jaksa Utama, dengan “apa-apaan ini? (what on earth?)”, menjadi perbincangan di berbagai media. Setelah masuk dan duduk di bangkunya, Hanson lantas membuka burqa yang dikenakannya sambil berkata, “Saya bahagia bisa melepaskan benda ini (burqa), sebab benda ini memang harus dihilangkan dari parlemen dan dari negara kita, seperti yang terjadi di negara lain.”

Pauline Hanson masuk ke gedung parlemen dengan burqa (sumber: The Guardian)

Aksi Hanson tersebut, alih-alih mengundang tepuk tangan, secara nyata memicu kemarahan rekan politisi di dalam ruangan. Jaksa Utama, George Bandis menengahi dan lantang berkata bahwa Australia tidak akan mengeluarkan pelarangan burqa atau cadar.

Lelaki berusia 60 tahun itu, seperti yang terlihat dalam video, bergetar dan berkata bahwa apa dilakukan Hanson bisa menyerang sensitifitas warga Australia dan membuat lelucon dengan simbol agama itu adalah perbuatan yang tak bisa dibenarkan. Bandis menutup pernyataan agar Hanson melakukan refleksi atas aksi yang dilakukannya tersebut.

Kericuhan di dalam parlemen karena pernyataan islamofobik Pauline Hanson, tak hanya terjadi sekali itu saja. Sebelumnya, di tahun 2016, Hanson membawakan pidato berisi anjuran pemerintah harus mengambil langkah tegas menahan ajaran Islam, melarang penggunaan burqa, dan melarang imigran Muslim lebih banyak datang. Ia berkata jika hal tersebut terus dilakukan, Australia akan berubah menjadi negara syariah.

Sepanjang melakukan pidato itu, satu persatu politisi beranjak keluar (walkout) hingga ruangan parlemen lengang. Salah satu politisi dari Green Party, Richard Dinatale dengan emosi mengatakan kalau walkout yang dilakukannya adalah respon atau bentuk penolakan terhadap bentuk-bentuk kebencian, rasisme, dan fanatisme (bigotry) yang dikeluarkan Hanson.

Sepak terjang Hanson di dunia politik Australia memang berliku. Ia maju di tahun 1994 sebagai anggota dewan untuk daerah Oxley bersama Partai Liberal Amerika. Saat dirinya terpilih, ia harus menahan pahit karena ditendang oleh pendukung Les Scott dari partai Buruh. Isu rasisme dan anti multikulturalisme Hanson, konon menjadi penyebab dirinya terpeleset dari kursi dewan.

Akhirnya ia mendirikan sendiri partainya di tahun 1997, Partai One Nation yang beraliran kanan jauh alias konservatif. Ternyata, penerimaan publik terhadap Hanson pun masih sangatlah kecil. Saat ia hendak mengadakan kampanye One Nation, Hanson didatangi oleh berbagai komunitas, yakni komunitas Asia (Greater Dandenong City) dari Vietnam, Tiongkok, Timor-Timur, dan Sri Lanka, kelompok gereja, komunitas LGBT, hingga organisasi sosialis.

Keberadaan mereka memang punya satu tujuan, yakni hendak “mencemooh” Hanson dan ideologi partai yang kerap menyudutkan kelompok-kelompok di atas. Semua itu berawal dari pernyataan Hanson, yang dengan percaya diri berkata di hadapan majelis parlemen, bahwa orang-orang Asia akan memenuhi Australia dan mengambil pekerjaan orang Australia.

Hanson memang mengingatkan pada sosok Donald Trump di Amerika Serikat. Namun siapa sangka bila Hanson sudah konsisten mengeluarkan pernyataan diskriminatif, rasis, dan islamophobik ala Trump sejak awal tahun 1990-an? Bahkan sejak Trump masih asyik berbisnis.

Tetapi sejak itu pula, kelompok minoritas yang diserang oleh Hanson, berjibaku mengkonfrontasi politisi asal Kota Ipswich tersebut. Dengan demikian, kekuatan tak hanya datang dari pihak politisi yang menunjukan kontra pada Hanson, tetapi juga kemampuan warga minoritas bergabung dengan masyarakat untuk menahan stigma yang ada.

Hal tersebut terbukti dengan tak berkembangnya One Nation menjadi partai besar. Saat ini One Nation hanya menempati angka 9% di parlemen, sebab ideologi yang dibawa tak mampu mengubah cadar menjadi sebuah ketakutan bagi warga, sebaliknya menjadi kekuatan.

Bagaimana Jaga Keseimbangan?

Bila politisi semacam Hanson bercokol di dalam pemerintahan dalam negeri, dapat dipastikan umur karier politiknya tak akan lama. Walau saat ini masyarakat masih berada dalam bayang-bayang ketakutan akan cadar, pernyataan melarang cadar pasti akan menimbulkan polemik dan protes panjang.

Hal tersebut juga pernah terjadi beberapa bulan lalu saat beberapa perguruan tinggi negeri mengeluarkan kebijakan pelarangan cadar sebab mengganggu proses belajar mengajar. Pada akhirnya, kebijakan itu dibatalkan.

Menteri Agama pada akhirnya juga telah mengambil langkah bijak dengan mengajak masyarakat tidak mendiskriminasi kelompok bercadar serta mengingatkan bahwa radikalisme dan ekstrimisme tidak terafiliasi dengan cadar.

Niqab Squad mengadakan gerakan “I am not a Terrorist” (sumber: Kaskus)

Tak lupa, Lukman mengingatkan pada pengguna cadar untuk tidak eksklusif dan bergaul dengan masyarakat setempat. Hal ini, masih menurut Lukman, bertujuan memangkas kecurigaan masyarakat.

Muhammad Syafiq dari Universitas Indonesia pernah meneliti bahwa untuk bisa bertahan dan menangkal stigma, para pengguna cadar tak hanya harus bertahan dengan strategi internal, yakni memaklumi atau mengabaikan stigma dan diskriminasi yang ada. Pengguna cadar, di masa-masa pasca tragedi bom saat ini, perlu melakukan strategi eksternal yakni ikut melibatkan diri dalam masyarakat, berkegiatan bersama, dan tidak eksklusif. Seperti yang terjadi di Australia, kelompok minoritas yang menjadi sasaran Hanson, pada akhirnya kuat karena bergabung dengan masyarakat lainnya.

Dengan demikian, mewaspadai terorisme tak bisa dilakukan dengan memberi tanda dan stigma pada “seragam” atau atribut pakaian seperti cadar, tetapi bersama-sama mewaspadai ideologi yang melatarbelakangi tindakan terorisme itu sendiri.

Dari sini, petuah Christopher Hitchens mau tak mau perlu diingat kembali, bahwa kebencian atau ketakutan terhadap atribut keagamaan hanya dibuat oleh kelompok fasis untuk memanipulasi orang-orang terbelakang. Nah, sekarang siapa yang mau menjadi bagian dari orang-orang terbelakang?(A27)

Share On
Baca juga :  Cadar di Simpang Budaya