Tak Mungkin Mahfud Pendingin Politik

Tak Mungkin Mahfud Pendingin Politik
Mahfud MD (Foto: Tribunnews)
3 minute read

“Marilah kita tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan mari kita saling menghargai pada perkara yang kita perselisihkan”.- Friedrich Nitezche


PinterPolitik.com

Politik di Indonesia saat ini semakin lama makin panas dan tidak ada habisnya. Tidak hanya sebelum hari pemungutan suara, hingga sekarang suhunya pun tidak turun cuy. Kok jadi kayak kompor ya, semakin lama api menyala, semakin panas jadinya.

Jika kita bandingkan, di Pemilu kali ini penggunaan isu SARA juga lebih kental daripada sebelumnya. Banyak yang ngomong hal ini terjadi karena efek Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Iya sih, tapi kan itu sudah selesai, lantas kenapa ya masih saja diteruskan?

Seharusnya yang sudah lalu, biarlah berlalu. Kan kayak orang yang pacaran, kalau putus, ya biarlah berlalu. Makanya move on dong biar tidak terjebak masa lalu. Hehe.

Coba direnungkan, apa sih sebenarnya manfaat yang diperoleh dari tensi politik yang terus tinggi? Di media sosial misalnya, perdebatan antarpendukung sering sekali muncul. Bahasa yang digunakan pun udah isinya kebun binatang semua.

Seharusnya pasca Pemilu, hal yang perlu dipikirkan oleh para elite politik dan tokoh lainnya adalah menyuguhkan iklim yang bikin adem. Sehingga, tali persaudaraan yang sempat terputus itu dapat terajut kembali. Click To Tweet

Munculnya saling klaim kemenangan, bukannya menghadirkan iklim politik yang adem, justru memunculkan perdebatan sengit antarpendukung paslon. Untungnya nggak sampai bunuh-bunuhan. Ngeri cuy.

Jika kondisinya seperti ini, sebenarnya apa sih yang dibutuhkan masyarakat Indonesia? Saya jadi teringat dengan pepatah Jawa yang berbunyi: Menang tanpo ngasorake”. Artinya “menang tanpa merendahkan”.

Masalnya, kita nggak punya lagi tokoh yang bisa menghadirikan keadaan seperti itu. Biasanya, tokoh seperti Mahfud MD selalu menjadi angin penyejuk yang memberikan pandangan segar dan dapat mencerahkan, bahkan memberikan jalan keluar bagi kalangan yang sedang bertikai. Doi juga selalu bisa berdiri di tengah. Tetapi apa boleh buat, pada tahun politik kali ini kelihatannya Pak Mahfud lebih dekat dengan salah satu pihak.

Baca juga :
PSI Apresiasi Anies, Batal Oposisi?

Begitupun dengan tokoh agama yang juga sudah tidak mampu membendung amarah dari masing-masing pendukung paslon. Mungkinkah karena langkah itu telat untuk diambil? Jika memang demikian, lantas bagaimana nasib Indonesia 5 tahun yang akan datang ya?

Para tokoh agama dan akademisi saat ini memang dinilai kewalahan serta tidak mampu untuk menenangkan kondisi yang ada. Lalu, kita bisa berharap pada siapa?

Indonesia bukan kayak Jepang atau Inggris yang masih punya Kaisar dan Ratu yang bisa menjadi penengah kekisruhan politik. Yang kita punya hanya Ebiet G. Ade dan rumput yang bergoyang. Hehehe. Lagu-lagunya emang bikin adem. (F46)

Facebook Comments