Strategi NasDem “Amankan” Jokowi

Strategi NasDem “Amankan” Jokowi
Istimewa
6 minute read

Klaim kemenangan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, disebut kemenangan semu oleh para pengamat politik. Benarkah kemenangan NasDem hanya bersifat semu?


PinterPolitik.com

“Dalam politik, kita menganggap orang yang mampu mendapatkan suara adalah orang yang dapat memerintah kota atau negara. Tapi jika sakit, kita tidak berobat ke dokter yang gagah maupun pintar berbicara.” ~ Plato

Sebagai Bapak Demokrasi, sudah tentu Filsuf yang meninggal diusia 80 tahun tersebut, menyarankan untuk memilih pemimpin bukan karena penampilannya yang kharismatik dan pandai bicara, tapi juga yang bijak dan mumpuni. Hanya saja pada praktiknya, kharisma dan retorika memang lebih sering membuat masyarakat terpesona.

Apa yang ditakutkan Plato tersebut, bisa saja telah terjadi pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak lalu. Namun terlepas dari kualitas kepala daerah yang terpilih, perlu diakui kalau kemenangan partai NasDem, PAN, dan Hanura yang lebih besar dibanding PDIP dan Golkar, cukup mencengangkan.

Jadi wajar kalau Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, tak mampu menahan kegembiraan dan langsung mengklaim partainya sebagai pemenang pesta demokrasi yang diselenggarakan di 171 wilayah kota/kabupaten lalu. Apalagi dari 17 Pemilihan Gubernur (Pilgub), 11 diantaranya dimenangkan oleh calon yang diusung NasDem.

Namun, klaim kemenangan Surya Paloh tersebut ternyata dibantah oleh beberapa pengamat politik. Salah satunya dari Direktur Eksekutif Segitiga Institute, M. Sukron, yang mengatakan kalau seharusnya kemenangan Pilkada dilihat dari berapa banyak kader partainya yang berhasil menang, bukan dari jumlah dukungan calon yang diusung.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, bahkan mengatakan kalau klaim sepihak Surya Paloh tersebut sebenarnya merupakan upayanya untuk mendongkrak citra partai. Sebab dari berbagai survei, NasDem diperkirakan menjadi salah satu yang akan terdepak dari gedung legislatif.

Di sisi lain, strategi NasDem dengan cenderung memilih kader lain yang lebih populis dan memiliki faktor kemenangan besar, juga menimbulkan pertanyaan, apakah partai ini memang sengaja berupaya memperbesar peluang peraihan suara demi mempertahankan partainya atau untuk mengamankan suara Jokowi?

Sengaja “Mengambil Semua” Kesempatan

“Argumen terbaik menghadapi demokrasi adalah lima menit perbincangan dengan rata-rata pemilih.” ~ Winston Churchill

Pernyataan Perdana Menteri Inggris paling berpengaruh dalam sejarah dunia ini, merupakan pengalamannya saat menghadapi serangan lawan politik. Setelah lima menit berbincang dengan para penumpang kereta bawah tanah, ia mampu membuat keputusan yang tak hanya didukung masyarakat, namun juga para senator lainnya.

Walau berasal dari keluarga bangsawan, namun sikap Churchill yang bersedia terjun langsung mendengarkan aspirasi masyarakat bawah ini, terbukti membuatnya mampu menjabat sebagai Perdana Menteri selama dua periode. Meski sempat ditumbangkan lawan pada tahun 1945, buktinya ia mampu kembali terpilih lima tahun kemudian.

Di tanah air, tokoh-tokoh yang bersedia terjun langsung dan mendengarkan sendiri aspirasi serta harapan masyarakat, sebenarnya telah banyak bermunculan. Sayangnya, tak semua dari tokoh peduli rakyat ini yang mendapatkan kesempatan dari partai politik untuk diusung sebagai calon kepala daerah pada Pilkada.

Sebagai parpol yang baru berdiri 6,5 tahun, NasDem menggunakan peluang ini, terutama karena juga mengalami kesulitan mencari kader internal dengan figur kuat. Akibatnya, partai ini pun memilih menggunakan metode “mengambil semua” atau Catch-all Party dari Richard Gunther dan Larry Diamond di bukunya, Political Parties and Democracy.

Metode ini merupakan salah satu kriteria dari tipologi partai menurut Gunther dan Diamond, yaitu tipe partai yang hanya mengejar elektoral atau suara pemilih semata. Sehingga pemilihan kandidat dilakukan dengan mengambil semua kandidat yang populer atau dikenal dekat dengan rakyat, sehingga kecenderungan terpilihnya tinggi.

Dengan mendukung tokoh populis tersebut, NasDem juga berusaha memaksimalkan dukungan melalui pengakomodasian kepentingan masyarakat luas. Strategi ini diakui sendiri oleh Surya Paloh yang mengatakan kalau kemenangan di Pilkada ini, merupakan modal tambahan bagi partainya menghadapi Pemilu tahun depan.

Keputusan NasDem yang cenderung pragmatis ini, juga dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya. Menurutnya, strategi ini dilakukan NasDem untuk mengimbangi kekuatan elektoral PDIP dan Golkar. Tak jarang, NasDem bahkan rela “membajak” kader partai lain untuk mendapatkan kemenangan.

Apa yang dilakukan NasDem ini, bagi Yunarto sendiri, merupakan langkah yang tepat dalam menjaring kandidat berkualitas. Tanpa harus menjalani proses sosialisasi yang lama, tokoh yang namanya telah familiar dengan para pemilih dan memiliki jaringan atau basis massa yang tepat, terbukti membantu NasDem dalam mendulang suara.

“Mengamankan” Suara Di Pilpres

“Suara pemilih itu ibarat senapan laras panjang, kegunaannya tergantung dari karakter si penggunanya.” ~ Theodore Roosevelt

Presiden Amerika Serikat ke-26 yang akrab disapa T.R. atau Teddy ini, juga merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah dunia. Begitu juga di negaranya sendiri, penggemar berburu tapi menolak membunuh anak beruang ini, bahkan dikenal sebagai “pemimpin rakyat” karena semua kebijakannya dilakukan demi kepentingan rakyat.

Merujuk perkataannya di atas, kalau suara pemilih dapat menjadi senjata yang tak hanya mampu mematikan tapi juga menolong di saat terjepit, sangat tepat ditujukan pada NasDem. Sebagai partai pendukung, tentu NasDem punya kesempatan untuk ‘membawa’ nama kepala daerah yang didukungnya dalam setiap kampanye dan sosialisasi partai.

Melalui citra kepala daerah yang didukungnya, NasDem tentu akan menggunakannya demi meningkatkan elektoral partai. Mengapa? Karena partai yang sudah sejak awal mendeklarasikan diri mendukung Jokowi dua periode ini, sebenarnya tengah dalam kondisi kritis dan terancam akan terdepak akibat tingginya ambang batas parlemen.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh LSI Denny JA, Mei lalu, NasDem merupakan salah satu partai yang diperkirakan akan berada di posisi partai bawah karena hanya mampu meraih 2,3 persen suara saja. Peraihan ini tentu akan membuatnya keluar dari Senayan, sebab ambang batas parlemen telah ditetapkan sebesar empat persen.

Sehingga tudingan Pangi kalau NasDem menggunakan kemenangan semunya di Pilkada demi menaikkan citra partai, bisa jadi benar. Klaim kemenangan Surya Paloh ini, menurut Josepth Schumpeter, merupakan upayanya untuk memberikan kesan pada masyarakat kalau partainya mampu melampaui kekuatan massa PDIP dan Golkar.

Padahal dari kemenangan 11 cagub yang diusung Nasdem, sebenarnya hanya 4 cagub saja yang memang merupakan kader internal partainya. Itupun, sebagiannya merupakan ‘hasil bajakan’ dari partai lain, seperti kader dari Golkar dan Demokrat. Berbeda dengan Golkar yang kader internalnya menang di 9 provinsi dan PDIP menang di 6 provinsi.

Sebagai seorang ketua umum partai, klaim Surya Paloh ini – berdasarkan model otoritas dari demokrasi elitisme – mampu memberi pengaruh di mata para pemilihnya. Apalagi klaim ini juga diperkuat dengan dukungan data yang disebarkan oleh media-media, sehingga kesan NasDem sebagai partai pemenang Pilkada pun ikut diakui masyarakat.

Menurut Schumpeter, apa yang dilakukan NasDem ini merupakan strategi yang kerap digunakan partai demi mempertahankan petahana (incumbent). Dalam hal ini, sebagai partai pengusung Jokowi, Surya Paloh sebenarnya hanya ingin memperlihatkan peta kekuatan yang dimiliki partainya dalam mengamankan suara di Pilpres mendatang. (R24)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here