Sindir Jokowi, Anies Salah Peluru

Sindir Jokowi, Anies Salah Peluru
Anies Baswedan dan Jokowi (Foto: Tempo)
3 minute read

“Bahasa adalah kekuatan, nyawa dari sebuah budaya, instrumen dari dominasi dan kebebasan.” – Angela Carter, penulis Inggris


PinterPolitik.com

Ibaratnya kayak induk kucing yang baru melahirkan dan sangat defensif saat anaknya disentuh manusia, begitu juga sikap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang terlihat defensif waktu Jokowi bilang kunjungan kerja (kunker) atau studi banding ke luar negeri bisa dilakukan melalui smartphone.

Soalnya dalam sidang bersama DPD-DPR RI, Jokowi bilang bahwa kegiatan kunker ke luar negeri gitu tuh dapat dilakukan melalui gadget atau smartphone masing-masing, sehingga para anggota DPR bisa lebih efisien dalam bekerja.

Hmm. Ada benernya juga sih ya imbauan Jokowi ini. Kalau studi bandingnya dilakuin lewat smartphone kan jadi lebih menghemat anggaran dan banyak waktu untuk bisa “kerja, kerja, kerja”. Hehehe.

Sebenernya sih Jokowi nggak ada sebut nama Anies loh dalam ucapannya itu. Cuma kayaknya Anies-nya merasa tersindir nih. Mungkin karena beberapa bulan terakhir ini beliau rutin kunker ke luar negeri kali yak. Upss.


Makanya deh Anies Baswedan tiba-tiba langsung banting stir dengan bilang bahwa sebagai pemimpin, seseorang harus bisa berbahasa asing. Jadi kalau pergi kunker bisa mempromosikan Indonesia ke negara-negara lain deh.

Hayoo. Ini tuh Anies lagi balas nyindir Jokowi yak? Kan ada yang bilang kalau Jokowi tuh nggak bisa bahasa Inggris dengan bagus, makanya selalu ajak penerjemah setiap pergi ke luar negeri.

Padahal kalau dipikir-pikir sih bahasa itu sendiri nggak cuma punya fungsi praktis sebagai sarana komunikasi aja loh gengs. Makanya kalau kalian sadar, banyak juga pemimpin negara yang sebenernya sangat fasih berbahasa asing, tapi tetap kukuh menggunakan bahasa asli mereka masing-masing loh.

Soalnya, yang namanya bahasa itu selalu menyangkut dengan relasi kekuasaan simbolik juga gengs. Ini katanya Pierre Bourdieu loh ya. Contohnya tuh kayak Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Fyi, aja nih, saat Narendra Modi dan Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa melakukan pertemuan bilateral dalam bahasa Inggris, Modi pun dengan sengaja tidak membawa penerjemah. Dia tetap berbicara dalam bahasa Hindi loh. Ketebak banget kan kalau Modi ini mau menjunjukkan dominasinya atas Sri Lanka yang mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Sinhala – walaupun dua bahasa itu berasal dari satu rumpun.

Wah-Wah. Berarti Anies salah bawa peluru nih ke medan perang. Hehehe.

Hmm. Mungkin Pak Anies kudu belajar lagi nih tentang menggunakan bahasa sebagai kekuasaan simbolik. Apalagi kalau nanti mau maju jadi Presiden RI di Pilpres 2024. Upss. (R50)

► Ingin video menarik lainnya? Klik di: http://bit.ly/PinterPolitik