Siapa Sosok di Belakang Eggi?

Siapa Sosok di Belakang Eggi
(foto: istimewa)
5 minute read

Beberapa hari lalu beredar rekaman video Eggi Sudjana yang diduga mendiskreditkan agama maupun aliran kepercayaan lain. Siapakah Eggi dan mengapa begitu berani? Siapa yang ada di belakangnya?


PinterPolitik.com

Dalam video tersebut, Eggi memberikan pernyataan bahwa, “tidak ada ajaran selain Islam ya, ingat ya, garis bawahi, selain Islam, yang seusai dengan Pancasila, selain Islam, bertentangan,”. Dia pun menyebutkan bahwa sejumlah agama yang memiliki konsep ketuhanan bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila.

“Kristen trinitas, Hindu trimurti, Buddha sepengetahuan saya tidak punya konsep Tuhan, kecuali dengan proses amitabha dan apa yang diajarkan Siddharta Gautama.” Karena itu, Eggi menuntut Perppu Ormas tidak diberlakukan karena akan memecah belah persatuan Indonesia.

Siapakah sosok Eggi dan mungkinkah ada sosok tertentu yang melindunginya dari belakang sehingga ia berani membuat banyak kontorversi sejauh ini?


Sosok Eggi Sudjana

Eggi Sudjana lahir di Jakarta, 3 Desember1959. Ia merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Jayabaya. Eggi kemudian berkarir sebagai pengacara dan menjadi aktivis pada masa mudanya.

Kiprahnya sebagai advokat terus melaju. Pada tahun 2015, ia berhasil memenangkan pra peradilan Budi Gunawan terkait kasus ‘rekening gendut’. Waktu itu, Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena memiliki rekening yang mencurigakan.

Di tahun ini, ia menjadi pengacara Habieb Rizieq dan kasus first travel, walau kemudian mundur. Namanya juga disebut-sebut kepolisian dalam kasus makar dan Saracen. Beberapa hari lalu, ia kembali menghebohkan publik karena menggugat Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas ke Mahkamah Konstitusi.

 

Akan tetapi, sepak terjangnya di dunia politik tak sementereng karir hukumnya. Pada tahun 2013, ia sempat maju di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat maupun Jawa Timur, tapi semuanya berujung gatot alias gagal total.

Hingga saat ini, ia masih menjabat sebagai presiden Partai Pemersatu Bangsa (PBB) yang diduga merupakan partai binaan Tommy Soeharto dan baru saja melakukan deklarasi dua tahun lalu. Partai yang berdiri pada tahun 2001 ini sudah mendaftarkan diri di KPU untuk mengikuti pemilu tahun depan.

Dari Pilpres Hingga Makar?

Eggi Sudjana disinyalir memiliki hubungan dengan kubu Prabowo atau Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Diduga relasi antara Eggi dengan kubu Prabowo mulai terlihat pada tahun 2014. Pada Pilpres 2014 lalu, ia merupakan salah satu tim sukses Prabowo-Hatta. Selain itu, dia juga tergabung dalam tim kuasa hukum di Mahkamah Konstitusi untuk menggugat kekalahan Prabowo atas Jokowi.

Nama Eggi dan Gerindra lalu dikaitkan dengan aksi makar 212 yang terjadi pada tanggal 2 Desember 2016. Saat kasus tersebut merebak, Eggi dituduh menjadi salah satu penyalur dana untuk makar. Tak berhenti sampai di situ, ia dan politikus Gerindra, Permadi juga turut dipanggil pihak kepolisian sebagai saksi. Akan tetapi, Eggi sendiri menyangkal dan mengaku tak memiliki keterlibatan apapun dalam kasus tersebut.

Sementara itu, anggota Dewan Penasihat Gerindra Martin Hutabarat seperti yang dilansir merdeka.com mengatakan bahwa kasus makar yang turut melibatkan Rachmawati Soekarno Putri, Eko Suryo Sandjojo dan Kivlan Zen ini merupakan perorangan, bukan bagian dari agenda partai. Sebagai catatan, Rachmawati merupakan Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, sedangkan Eko Suryo Sandjojo menjabat Ketua DPP Partai Gerindra Bidang Pengkajian Ideologi. Sementara, Kivlan Zen merupakan ketua tim pemenangan Prabowo-Hatta pada pilpres 2014 lalu.

Mengamati pernyataan Eggi maupun kubu Gerindra, terindikasi ada upaya untuk menyembunyikan kebenaran. Mengingat Eggi memiliki hubungan yang dekat dengan kubu Gerindra, maka tak mungkin bila ia tidak mengetahui aksi-aksi yang dilakukan oleh Rachmawati, Kivlan Zen dan yang lainnya, bukan begitu?

Selain itu, Rachmawati, Eko Suryo Sandjojo dan Kivlan Zen memiliki keterikatan dengan kubu Gerindra. Maka sangatlah tidak masuk akal bila aksi yang mereka lakukan tidak diketahui oleh Gerindra, bukan? Jika memang tak sesuai dengan agenda partai, sudah sepatutnya Gerindra melarang aksi maupun tindakan yang dilakukan oleh kader-kadernya, karena dapat berpotensi memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dari Saracen Menuju Penista Agama?

Sementara itu, mengenai kasus Saracen, nama Eggi kembali disebut. Ia diduga sebagai salah satu penyalur dana bagi kegiatan Saracen. Beredar pula foto Eggi, Mayor Jenderal (Mayjen) Ampi Nurkamal Tanudjiwa dan Rijal Kobar. Eggi dan Ampi yang dilaporkan oleh Rijal Kobar tergabung dalam dewan penasihat Saracen.

Mayjen Ampi Nurkamal Tanudjiwa (paling kanan), Eggi Sudjana (kedua dari kanan) dan Rizal Kobar (berdiri) (foto:rmol.co)

Menurut Eggi, foto itu tidak berkaitan dengan Saracen. Kepada detik.com, ia meluruskan bahwa foto itu diambil empat tahun lalu, menjelang pelaksanaan Pilpres 2014 lalu. Saat ia, Ampi dan Rijal mendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden RI.

Namun sayangnya, pengakuan Eggi ini ditanggapi berbeda oleh petinggi Partai Gerindra yaitu Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. Kepada detik.com, ia menampik pernyataan Eggi Sudjana karena menurutnya tim Solidaritas Menangkan Prabowo (SMP) tidak terdaftar dalam struktur pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa saat Pilpres 2014. Pernyataan Eggi dianggapnya tak sesuai dengan fakta.

Menanggapi pernyataan dari Eggi maupun kubu Gerindra nampaknya ada kejanggalan. Jika memang SMP tidak terdaftar dalam struktur pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa saat Pilpres 2014, maka dengan sendirinya menguatkan dugaan bahwa Eggi, Ampi dan Rizal Kobar memang terlibat Saracen. Sebaliknya, jika pernyataan Eggi benar, maka makin menguatkan indikasi bahwa ketiga orang ini memang memiliki hubungan yang dekat dengan Gerindra.

Melihat sosok Eggi dan kedekatannya dengan kubu Gerindra, termasuk dugaan keterlibatan atas kasus makar dan Saracen, mengingatkan kita pada teori politic of denial (politik penyangkalan). Mungkinkah ini merupakan penerapan dari teori tersebut? Selain itu, menilik kritik Eggi atas Perppu Ormas beberapa waktu lalu, mungkinkah ada kaitannya dengan kubu Prabowo atau memang atas inisiatif sendiri? Mungkinkah kedekatannya dengan Prabowo ini yang membuatnya  merasa kuat dan ‘tak tersentuh’? Berikan pendapatmu. (K-32)

 

 

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]