Seni Bertengkar Ala Golkar

Seni Bertengkar Ala Golkar
Foto: Istimewa
3 minute read

Menanggapi pertikaian di dalam tubuh partainya, Jusuf Kalla berkata enteng. “Ah, pertengkaran di Golkar itu biasa. Udah kayak pasutri aja…”


PinterPolitik.com

Papa sakit keras!

Kabarnya, menurut analisa mesin elektrokardiograf (ECG), Papa sudah tidak bernyawa. Semua orang di Perusahaan Beringin pun kalang kabut. Ada yang diam-diam menangis, namun tidak sedikit juga yang menyimpan tawa bahagia.

Di tengah kepanikan, kasak kusuk mulai terdengar, siapa yang pantas menjadi ahli waris? Bang Bewok tiba-tiba berteriak lantang mengagetkan semua orang, “Kita harus mencari pengganti Papa!”

Orang-orang yang berkumpul di aula pun tercengang semuanya, kok berani-beraninya Abang satu ini melupakan begitu saja jasa-jasa Papa. Seseorang lalu bersuara, “Jangan sekarang Bang, kita masih berduka.” (Baca juga: Golkar Berguncang?)


Suara pun terpecah, ada yang mendukung semangat move on Bang Bewok, namun ada pula yang masih tak yakin kalau Papa sudah pergi.

Namun tiba-tiba, brak! Pintu ruangan terbuka keras. Jantung semua yang hadir berdebar keras. Di sana, berdirilah Papa dengan gagah perkasa.

“Papa jadi hantu!” jerit seseorang, disambut teriakan histeris orang-orang.

Sementara itu, Papa sudah memasuki ruangan. Di depan mimbar, Papa tersenyum sumringah. “Halo semua,” sapanya, sambil dadah dadah, memperlihatkan jam tangan mewah.

Bang Bewok pun maju, memeriksa. Ia mencubit tangan Papa, menampar wajahnya, dan memeriksa matanya. “Ini benar Papa” desahnya, tak percaya kalau Papa bisa selamat dari kematian, macam pesulap profesional saja.

Papa yang pipinya masih merah dengan gambar telapak tangan Bang Bewok, tanpa pikir panjang langsung memecat dirinya. Papa juga meminta pengawal setianya yang berkacamata dan berkulit hitam, untuk mengawal Bang Bewok keluar ruangan.

Tentu saja Bang Bewok tidak terima. “Saya berkata begitu karena peduli dengan keadaan perusahaan ini!” tentangnya, membuat pengawal Papa jatuh terjengkang. Maklum, si Abang mantan preman. (Baca juga: Golkar Terperangkap Setnov?)

Pemecatan Bang Bewok secara tiba-tiba juga menimbulkan perdebatan baru. Tapi belum sampai saling jotos, tiba-tiba, brak! Pintu kembali menggebrak.

Opa muncul dan berjalan tertatih-tatih memasuki ruangan. “Ada apa ini?” tanyanya.

“Saya dipecat Papa, Opaaaa!” jerit Bang Bewok merana. Mendengar itu Opa malah tertawa-tawa saja.

“Ah, kalian ini bertengkar terus. Udah kayak pasangan suami istri (pasutri) aja,” lanjutnya sambil dengan santai mengeluarkan rokok klobot.

Namun baru saja hendak dinyalakan klobot-nya, brak! Pintu kembali terbanting terbuka. Kali ini sampai engselnya copot segala, membuat semua orang terbelalak matanya.

Di sana, berdirilah Oma. Wajahnya sangar, tangannya bertolak pinggang. Opa pun langsung ternganga, rokok klobot langsung ia selip disaku orang sebelahnya.

“Opa! Di sini kamu rupanya.” Oma berjalan cepat dan gagah, menggeret Opa keluar dari ruangan. Dengan tersuruk-suruk, Opa mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Ingat, kalian hanya tidak akan menang bertengkar melawan istri!” katanya sambil menghilang dibelokan. Semua orang yang memandang hanya bisa tercengang. (R24)