Semua Akan Papa Pada Waktunya

Semua Akan Papa Pada Waktunya
Foto: tengokberita.com
3 minute read

Papa the Series, Episode #4: “Papa sembuh, semua terancam!”


PinterPolitik.com

Di negara-negara yang menganut supremasi hukum, semua warga negara adalah sama di mata hukum dan harus tunduk pada ketentuan hukum. Jika salah, harus dihukum!

Namun, tersebutlah sebuah negeri zamrud di antah berantah, yang entah kenapa penegakan hukumnya masih pilih-pilih. Yang kuat, yang punya pengaruh, dan yang jago berpolitik selalu bisa menang di depan hukum.

Mungkin hal itu jugalah yang terjadi pada Papa, pendekar tua yang masih lincah itu. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, masalah memang menjadi semakin rumit. Apalagi saat Papa jatuh sakit, semuanya was-was. Jangan-jangan Papa akan lolos lagi. Begitu ribut orang-orang di tivi-tivi. Lolos? Emang belut? Hadehh. Bahkan bursa taruhan menjadi ramai dengan prediksi kasus ini.

Tapi, semuanya seolah terdiam ketika ketok palu tetua Cepi membebaskan Papa dari status tersangka. Semuanya terbelak! Gile!

Jadi teringat kata-kata Om Nazaruddin waktu itu. Om Nazar – bukan penyanyi dangdut ya – pernah bilang kalau Papa itu seperti Sinterklas. Ia kebal dan sakti!

Semua sakit akan tersembuhkan dengan sendirinya, dan semua hukuman akan dimentalkan dengan sendirinya. Bahkan penyakit-penyakit pada minta ampun karena kesaktian Papa! Luar biasa!

Kini, Papa telah sembuh dan bebas. Semua pun cemas! Apalagi mereka yang bermain-main saat Papa terbaring tak berdaya dengan EKG yang macet dan selang-selang Dragon Ball. Yang melawan Papa akan dipecat! Yang bikin manuver di partai juga siap-siaplah! This is Papa!

Lihat saja manuver Korbid Polhukam yang ingin menjatuhkan Papa kabarnya membuat ia dipecat dan digantikan oleh seorang mantan jenderal. Papa telah bangkit dan akan melawan!

Semuanya memang akan Papa pada waktunya.

Baca juga :
Fahri Paksa DPR Punya ‘Simpanan’

Bahkan lembaga anti rasuah yang harusnya ngotot jika kalah di sidang, terlihat mulai mengendurkan ikat pinggang.

“Kalau hukum, yang pasti tidak boleh dendam, tidak boleh sakit hati, tidak boleh marah. Karena hukum harus diimbangi dengan hukum. Memang hukum harus begitu. Percayalah bahwa kita digaji untuk melanjutkan kasus ini”, begitu katanya.

Sampai kapan, Om? Sampai kasusnya berlarut-larut dan hilang dari permukaan bumi?

Mungkin akan ada sebuah negara yang semuanya dipimpin oleh Papa. Presidennya Papa, Wakilnya juga Papa, Ketua Parlemen-nya Papa, Ketua Partainya juga Papa.

Semuanya akan Papa pada waktunya.

Maka, jangan heran jika supremasi hukum pun kalah karena yang berlaku hanyalah Hukum Papa. Kitab hukumnya namanya KUHP, alias Kitab Undang-Undang Hukum Papa. Jreng!

“Woi, Dul, lu ngoceh mulu. Mandi dulu sana, badan lu bau duit 1,5 ember. Yang katanya pembungkaman, ga taunya disuarakan sama yang dukung oposan. Mahasiswa kok gitu?”

Di tempat lain, ada yang selfie-selfie dengan pengusaha-pengusaha yang hampir pasti mendukungnya lagi di periode berikut.

Sementara yang lagi latihan main panahan bilang: “Kita harus lebih nakal lagi”. Hmm, ingat umur, Opa…

(S13)