SBY, “The Last Samurai” Prabowo-Sandi?

SBY The Last Samurai Prabowo-Sandi
Foto : Tribunnews
6 minute read

Rumor bahwa SBY menjadi the last samurai Prabowo-Sandi akan memberikan electoral effect yang menjanjikan


PinterPolitik.com

“Whatever the Way, the master of strategy does not appear fast. Really skillful people never get out of time, and are always deliberate, and never appear busy.” Miyamoto Musashi

Kharisma sosok presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seolah tak ada habisnya dalam politik. Ia digadang-gadang memiliki pesona yang masih berpengaruh kuat.

Menjelang Pilpres 2019, menilik langkah poltik SBY bersama Demokrat sungguh di luar dugaan. Setelah panas-dingin hubungan Demokrat dengan koalisi Indonesia Adil dan Makmur, akhirnya SBY menyatakan akan all out berkampanye untuk pasangan calon Presiden dan wakil presiden nomor urut 02 pada bulan Maret 2019.

Tentu seruan tersebut bagai semacam oase di tengah keringnya koalisi Adil Makmur yang selama ini dicitrakan tak solid dan tak serius memenangkan Prabowo-Sandi. Terlebih, Demokrat dan SBY selama ini adalah sosok yang sering diserang menyoal hal tersebut.

Menariknya, langkah SBY tersebut digadang-gadang akan menjadi langkah kejutan dan berpotensi memiliki efek yang cukup besar bagi peningkatan suara Prabowo-Sandi.

Jika memang demikian, bagaimana sesungguhnya dampak SBY effect bagi Prabowo-Sandi? Seberapa kuat dampak tersebut untuk pasangan nomor urut 02 tersebut?

SBY, The Last Samurai

Jika film The Last Samurai yang dibintangi aktor kenamaan Tom Cruise bercerita tentang heroisme Nathan Algren yang menjadi the last samurai saat  ia membela pemberotakan klan samurai terakhir di Jepang yang dipimpin oleh Katsumoto, maka kemunculan SBY juga disebut sebagai the last samurai bagi konstelasi politik menjelang Pilpres 2019.

Bukan tanpa alasan titel tersebut disematkan pada SBY. SBY effect dipercaya masih menjadi kunci kemenangan Prabowo-Sandi di 2019. Hal ini tidak terlepas dari sosoknya yang masih sangat berpengaruh secara elektoral.

Adagium dalam politik yang menyebut bahwa kemungkinan politik bisa berubah bahkan dalam satu detik terakhir yang nampaknya dilihat oleh SBY ketika menyatakan akan all out berkampanye di bulan Maret nanti. Meski tergolong terlampau berdekatan dengan hari pencoblosan, langkah politik di ujung pemilu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Keputusan langkah SBY untuk kampanye pada detik-detik terakhir ini dapat disebut sebagai tindakan last minutes campaign. Last minutes campaign pernah menjadi momentum yang mengantarkan presiden Amerika Serikat  Donald Trump melaju ke Gedung Putih.

Selain itu, kemunculan SBY di last minutes campaign pada bulan Maret nanti dapat dilihat dalam perspektif political endorsement.

Political endorsement sendiri adalah tindakan secara terbuka untuk menyatakan dukungan pribadi atau kelompok terhadap kandidat dalam sebuah pemilu. Dalam sistem multipartai, ketika kandidat tidak memiliki dukungan yang cukup untuk memenangkan kekuasaan, tepat sebelum pemilihan, perwakilan resmi dari partai dapat memberikan dukungan resmi dan memungkinkan perubahan konstelasi politik di detik-detik akhir.

Lalu seberapa efektif political endorsement ?

Untuk meningkatkan elektabilitas, political endorsement merupakan penentu. Hal ini disampaikan oleh profesor ilmu politik dari Cedarville University, Mark C. Smith. Ia juga menambahkan, political endorsement sedikit banyak tergantung pada konteks dan hubungan antara partai dan basis masanya.

Political endorsement ini pada kadar tertentu bisa jadi menjadi penentu di akhir masa kampanye, mengingat pendulum suara kini ada pada swing voters.

Potensi political endorsement masih bisa efektif ketika ditempatkan dengan hati-hati dan bekerja paling sering dengan partisan. Hal ini pernah terjadi di AS ketika lembaga Morning Consult merilis survei yang dilakukan 28 Februari hingga 2 Maret 2016, dari sampel 1.995 pemilih terdaftar, menguji pengaruh dukungan dari sejumlah politisi, interest group, pemimpin agama dan bisnis, pakar dan selebriti .

Berdasarkan survei tersebut, political endorsement mantan presiden Barack Obama dan Ibu Negara Michelle Obama berhasil mempengaruhi pemilih yang akan lebih cenderung memilih kandidat karena dukungan publik tokoh politik layaknya Obama.

Kekuatan political endorsement SBY itulah yang menjadi peluang bagi kubu Prabowo-Sandi untuk menambal kekurangan suara menjelang Pilpres nanti, terutama suara swing voters.

Jika merujuk pada survei Alvara, menjelang Pilpres 2019, sebanyak 11,2 persen pemilih adalah swing voters. Bahkan Alvara juga memperingatkan terkait potensi beralihnya dukungan dari 40 persen pendukung Jokowi.

Pentingnya swing voters ini diungkapkan misalnya oleh Ruy Teixeira. Ia mencoba menjawab apakah swing voters ini masih dianggap penting di era politik yang mengalami hyperpolarization atau polarisasi yang berlebihan.

Political endorsement SBY pada kadar tertentu bisa jadi menjadi penentu di akhir masa kampanye, mengingat pendulum suara kini ada pada swing voters Click To Tweet

Teixeira, sebagaimana dikutip Brooking Institute, menyebut bahwa swing voters ini dapat menjadi strategi kampanye sekaligus alat untuk mengantarkan pejabat terpilih. Jika kelompok pemilih ini tidak penting, maka kampanye akan fokus pada mobilisasi saja, yaitu menggiring pemilih yang sudah pasti memilih calon tertentu ke bilik suara. Padahal, dalam kampanye perlu ada unsur persuasi.

Bisa jadi peluang ini juga menjadi dewi fortuna bagi kubu Prabowo-Sandi jika SBY benar-benar turun gunung di Maret nanti. Rumor bahwa SBY menjadi the last samurai Prabowo-Sandi berpotensi memberikan electoral effect yang menjanjikan.

Sebagai sosok yang baru akan muncul di detik akhir, SBY dapat menjadi sosok yang merebut suara swing voters tersebut. SBY dapat menjadi sosok penyeimbang antara persuasi dan mobilisasi di kubu Prabowo. Pemilih yang sudah pasti memilih Prabowo-Sandi akan dimobilisasi oleh Gerindra, sementara swing voters bisa dipersuasi oleh Demokrat dan SBY.

Kekuatan Demokrat

Selain political endorsement sosok SBY, upaya politik Demokrat di bulan-bulan mendekati pemilu  juga patut diwaspadai oleh kubu petahana. Selain turun gunungnya SBY, kekuatan lain Partai Demokrat tidak terlepas dari kekuatan grass root.

Hal ini di buktikan pada Pilkada 2018 di mana kemenangan Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen di Jawa Tengah dan kemenangan pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak di Jawa Timur disebut-sebut tidak terlepas dari masifnya kinerja mesin politik Demokrat.

Di Jawa Timur, meskipun Khofifah digadang-gadang menang karena Jokowi effect– ia pernah menjadi Menteri Sosial Jokowi- tapi nyatanya dikabarkan mesin Partai Demokrat yang bekerja keras. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kekuatan politik Gubernur petahana Jawa Timur dua periode, Soekarwo, yang menjabat sebagai Ketua DPD Demokrat Jawa Timur.

Hal serupa disinyalir terjadi di Jawa Tengah. Meskipun Jawa Tengah menjadi basis suara PDIP, namun meningkatnya angka keterpilihan Sudirman Said di akhir-akhir menjelang hari pemilihan menunjukkan bahwa kerja koalisi pendukungnya tidak bisa dianggap remeh. Bahkan, perolehan suara Sudirman memiliki selisih hanya 8 persen dari perolehan Ganjar.

Jika pada waktu itu Demokrat memilih untuk mendukung  Sudirman Said, mungkin hasil yang berbeda akan terjadi, mengingat partai berlambang merci tersebut punya hampir 10 persen suara di Jateng.

Belajar dari dua kasus Pilkada ini, secara politik, dapat disimpulkan bahwa jika SBY dan Partai Demokrat sudah all out dalam kampanye, maka bisa jadi konstelasi pemilih dapat diubah.

Jika memang demikian, asumsi yang beredar selama ini bahwa Demokrat hanya berkampanye setengah hati bisa jadi akan terbantah. Tentu petahana tidak boleh memandang remeh kekuatan partai biru ini menjelang Pilpres 2019.

Dan tentu saja, keputusan SBY untuk turun gunung bukan berarti tanpa ada perhitungan politik secara matematis. Sebagai mantan jenderal dan ahli taktik serta strategi, pertimbangan politik jangka pendek dan jangka panjang pasti telah menjadi konsennya sejak awal memutuskan mendukung dan berusaha memenangkan pasangan Prabowo-Sandiaga. (M39)