PBB: Save Our Children

    PBB: Save Our Children
    Foto: hellenicleaders.com
    5 minute read

    “Banyak orang yang sekarat dan dunia harus mengambil langkah untuk menghentikan bencana ini.” Begitu ciutan Guterres melalui akun Twitter-nya setiba di Somalia.


    PinterPolitik.com

    Hentikan bencana kelaparan di Somalia. Begitu seruan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, ketika mengunjungi Somalia, Selasa (7/3/2017). Guterres mengunjungi Somalia setelah tersiar berita bahwa negara di Afrika itu tengah menghadapi bencana kelaparan hebat.

    Sejauh itu belum diperoleh respon dunia atas seruan Sekjen PBB. Sebelumnya diberitakan 110 warga Somalia tewas hanya dalam tempo 48 jam. Selain itu, 50 ribu anak-anak  di ambang kematian didera oleh kelaparan, yang terutama disebabkan musim kekeringan. Save Our Children, organisasi kemanusiaan dunia, juga menyerukan agar dunia membantu Somalia.

    Dalam kunjungan darurat itu, Sekjen PBB, mantan Perdana Menteri Portugal,  bertemu dengan presiden baru Somalia, Mohamed Abdullahi Mohamed, di ibu kota Mogadishu, beberapa saat setelah menginjakkan kaki di negara yang bertetangga dengan Ethiopia itu. Guterres mengingatkan Presiden Somalia bahwa kondisi yang kian memburuk  perlu ditanggapi dengan cepat.


    “Banyak orang yang sekarat dan dunia harus mengambil langkah untuk menghentikan bencana ini.” Begitu ciutan Guterres melalui akun Twitter-nya setiba di Somalia.

    Guterres juga mengingatkan bahwa saat ini dunia “melupakan” bencana kelaparan yang melanda rakyat Somalia. Guterres, yang tengah berada di Mogadishu dalam perjalanan pertamanya sejak menjadi Sekjen PBB awal Januari 2017,  mengatakan, krisis kelaparan di Somalia mulai dilupakan dunia, belakangan ini.

    Badan dunia itu memperkirakan, lebih dari enam juta jiwa (lebih dari setengah penduduk Somalia) sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

    “Orang-orang begitu terobsesi dengan krisis spektakuler seperti perang di Suriah, sehingga  situasi kronis (kelaparan) seperti ini cenderung diabaikan,” kata Guterres seperti dilansir CNN, Selasa.

    PBB telah menggelontorkan anggaran sebesar US$ 825 juta pada semester pertama tahun ini untuk program pra-kelaparan. Selain kekeringan dan kelaparan, wabah penyakit, seperti kolera dan campak, mulai menyerang penduduk Somalia.

    Menurut catatan World Health Organization (WHO), lebih dari 6.000 kasus penyakit kolera telah berjangkit sejak awal Januari lalu. Selain itu, penyebaran campak dilaporkan sebanyak 2.500 kasus.

    Organisasi Internasional untuk Migrasi mengingatkan, “jika aksi nyata tidak segera dilakukan, maka sinyal peringatan dini bencana kemanusiaan di Somalia sangat berpotensi terjadi.”

    Seperti dilaporkan media, konflik, kekeringan, perubahan iklim, dan penyakit,  merupakan kombinasi yang menjadi mimpi buruk masyarakat Somalia.

    Prioritas, Lepas dari Krisis

    Akhir pekan lalu, Somalia untuk pertama kalinya mengumumkan jumlah korban tewas sejak negara itu dinyatakan dalam keadaan darurat akibat kelaparan Di antaranya, 110 orang meninggal dalam waktu 48 jam di satu wilayah. Sementara itu, PBB mengestimasi, tak kurang dari lima juta warga Somalia membutuhkan bantuan.

    Menanggapi kunjungan Sekjen PBB, Presiden Somalia mengatakan, prioritasnya adalah lepas dari krisis pangan ini. Langkah yang akan dia lakukan, mengajukan permohonan bantuan dari komunitas internasional.

    Secara terpisah, Perdana Menteri Somalia, Hassan Khaire, Sabtu (4/3) waktu setempat, mengumumkan 110 orang meninggal akibat kelaparan selama dua hari di wilayah Bay. Kemarau panjang telah melanda hampir seluruh Somalia dan paling parah di bagian barat.

    Pemerintah Somalia mengumumkan bencana nasional itu, Selasa (28/2). Empat hari kemudian, Sabtu, Hassan Khaire menyampaikan kepada Komisi Nasional bahwa kekeringan telah menyebabkan bencana kelaparan.

    Sebelumnya, PBB telah mengumumkan, lima juta penduduk Somalia membutuhkan bantuan pangan darurat. Ribuan orang dari wilayah-wilayah lain di negara itu mencari pertolongan darurat ke Mogadishu. Sebanyak 7.000 orang di antaranya mengalir ke sebuah lumbung persediaan pangan, namun stok sangat tipis.

    Pada Februari lalu, Save the Children memperingatkan bahwa Somalia berada pada “titik kritis”.  Krisis pangan sedang berada pada kondisi “jauh lebih buruk” dari kelaparan tahun 2011. Ketika itu, setidaknya  260.000 jiwa menjadi korban kelaparan terburuk. LSM itu mengklaim, 12 juta penduduk mungkin terkena dampak kekeringan, dengan 50.000 anak-anak berada di ambang kematian.

    Krisis Pangan Sebelumnya

    Bencana kelaparan ini mengingatkan kita pada krisis pangan serupa di Somalia pada periode 2010 – 2012. Dalam laporannya, yang diberitakan media massa pada Mei 2013, PBB mengecam terlambatnya tanggapan internasional atas kelaparan di Somalia setelah terungkap lebih dari 260.000 orang meninggal dunia, jauh lebih besar dari perkiraan. Separuh dari jumlah itu  adalah anak-anak di bawah umur lima tahun.

    Wakil Kepala Organisasi Pangan dan Pertanian PBB di Somalia, Rudi Van Aaken, menekankan banyak di antara korban meninggal seharusnya bisa dihindari apabila dilakukan penanganan dini, sebelum bencana kelaparan diumumkan secara resmi.

    “Saya pikir pelajaran utama yang kita petik adalah komunitas kemanusiaan harus siap mengambil tindakan awal, memberikan tanggapan awal, ketika berbagai survei menyebutkan bahwa bila keadaan dibiarkan akan terjadi kelaparan,” kata Rudi Van Aaken kepada BBC, Kamis (02/05/2013).

    Ia juga mengatakan, tanggapan yang diberikan setelah bencana kelaparan diumumkan tidak efektif.

    Berdasarkan laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Jaringan Sistem Peringatan Dini Kelaparan, puluhan ribu orang meninggal dunia karena komunitas internasional lambat bertindak terhadap tanda-tanda kelaparan pada 2010.

    Salah seorang penyusun laporan, Dr. Francesco Checci, mengatakan, terdapat banyak faktor yang menyumbang terjadinya kelaparan. Di antaranya, epidemi nasional campak dan kolera. Banyak pengungsi di dalam negeri  dan luar negeri pada saat itu. Kondisi di pengungsian berisiko timbulnya penyakit menular.

    Pemerintah Inggris sebelumnya memperkirakan sebanyak 50.000 hingga 100.000 orang meninggal dunia dalam krisis pangan antara 2010 hingga 2012.

    Somalia yang terletak di Tanduk Afrika, berbatasan dengan Djibouti di barat laut, Kenya di barat daya, Teluk Aden dan Yaman di utara, Samudra Hindia di sebelah timur, dan Ethiopia di sebelah barat.

    Berdasarkan bahan kepustakaan, pada 1970-an, Somalia mengalami kesulitan ekonomi akibat kemarau panjang dan keberadaan ribuan pengungsi dari Ethiopia. Keadaan tanah yang tandus, curah hujan yang sedikit, sumber daya alam yang terbatas, dan cara-cara berproduksi yang masih tradisional, menyebabkan perekonomian Somalia tidak dapat berkembang dengan baik.

    Sektor pertanian khususnya peternakan merupakan tulang punggung ekonomi Somalia. Sektor ini menyerap 80 persen tenaga kerja. Ladang penggembalaan mencapai 65,2 persen dari seluruh luas Somalia. Daerah penggembalaan tersebar di lembah-lembah Sungai Giuba dan Sungai Shebela.

    Seruan Kemanusiaan

    Seruan Sekjen PBB agar dunia peduli pada Somalia adalah seruan kemanusiaan yang memerlukan respon sesegera mungkin. Jika bantuan tidak segera mengalir maka bertambahnya korban tidak dapat dihindari.

    Krisis pangan pada 2010 sampai 2012 di negara itu, yang tidak segera ditanggapi dunia, sebagaimana dilaporkan oleh PBB, mengakibatkan lebih banyak rakyat meninggal dari yang diperkirakan sebelumnya.

    Oleh karena itu, kita mengingatkan kembali akan bencana kelaparan lima tahun lalu itu dengan harapan kepedulian dunia lebih besar dan lebih cepat lagi untuk menolong lebih banyak rakyat Somalia yang kini lemah. Seruan Sekjen PBB semoga langsung ditanggapi. (Berbagai sumber/E19)