Sandiaga Jadi Ketum Gerindra?

Sandiaga Uno Ketum Gerindra
Sandiaga Uno (Foto Bloomberg)
7 minute read

Sandi berpeluang besar untuk menjadi Ketua Umum Gerindra pada periode yang akan datang. Peluang ini tercipta setelah melihat tingkat elektabilitas Prabowo-Sandi mencapai sekitar 45% berdasarkan hasil quick count pada Pemilu 2019.


Pinterpolitik.com

Partai Gerindra terbilang sukses dalam mendorong kadernya muncul di kancah politik nasional. Nama-nama antara lain Fadli Zon, Ahmad Muzani, Rachmawati Soekarnoputri, dan Djoko Santoso seperti sudah melekat di hati pendukung dan lawan politiknya.

Selain itu, ada pula nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mantan  Gerindra yang sukses mendapat perhatian masyarakat. Meski Ahok telah bergabung dengan PDIP, akan tetapi dia harus berterima kasih kepada Gerindra yang melambungkan namanya melalui Pilgub 2012.

Persoalan yang kini dihadapi oleh Gerindra bukan terkait mendorong kader mereka untuk bersinar di politik Indonesia, melainkan regenerasi kepemimpinan. Ketergantungan partai terhadap Prabowo Subianto terbilang sangat besar. Anggota partai seakan menilai Prabowo merupakan sosok yang tidak bisa tergantikan. Fakta lain menyebutkan belum ada pejabat partai yang berani menyatakan keinginan untuk menggantikan Prabowo.

Menurut catatan, sejak berdiri pada 2008, Gerindra tidak pernah mengadakan kongres atau musyawarah nasional dengan agenda pemilihan ketua umum. Oleh karena itu, Prabowo menjadi sosok yang tak tergantikan sejak menjabat sebagai ketua dewan pembina pada 2008 dan ketua umum pada 2014.

Lambat launketergantungan Gerindra dapat menjadi “bumerang” terhadap regenerasi partai. Simpatisan dapat berpindah haluan jika sosok tersebut mundur karena mereka terpaku kepada ketua umum bukan visi misi yang diperjuangkan partai.

Gerindra semestinya mencontoh seperti Golkar, PKS, PKB, Hanura, dan PPP yang tidak bergantung terhadap satu kepemimpinan. Contohnya, Golkar telah melakukan tiga kali pergantian ketua umum dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Kendati demikian, dilansirdari Tempo, estafet kepemimpinan Gerindra mungkin terjadi dalam waktu dekat. Indikasi tersebut pernah dikatakan langsung oleh Prabowo pada 2018. Dia menyatakan bila Gerindra sedang mempersiapkan kader-kader terbaik untuk calon pemimpin partai kelak.

Selain itu, perlu diingat posisi ketua umum sebenarnya pernah dipegang oleh Suhardi yang merupakan salah satu pendiri Gerindra. Prabowo menggantikan posisi ketua umum tersebut karena Suhardi berpulang pada 2014. Tidak menutup kemungkinan jika Prabowo menyerahkan posisi ketua umum kepada sosok yang berhak seperti yang dilakukannya kepada mendiang Suhardi.

Lebih lanjut, sosok yang dapat melunakkan pemikiran pejabat Gerindra terhadap ketergantungan tersebut datang dari Sandiaga Uno. Dia bisa menjadi pilihan alternatif terbaik karena kemampuannya untuk merangkul pihak kader internal dan koalisi. Pihak partai tentu memperhitungkan elektabilitas Sandi dan pengalamannya sebagaimantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra, dan ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Baca juga :
Jokowi Merapat ke Trump?

Momentum Terbaik Sandi

Meski hasil Pemilu 2019 belum resmi keluar dan Gerindra menolak hasil quick count, akan tetapi partai seharusnya menangkap peluang untuk menyatukan Prabowo-Sandi di internal mereka.

Hal tersebut menjadi momentum terbaik mengingat tingkat elektabilitas pasangan ini sekitar 45% pada hasil quick count sementara Pemilu 2019. Tingkat elektabilitasmenguntungkan Gerindra dan koalisi pada masa yang akan datang karena partai pesaing belum memiliki sosok potensial pengganti Joko Widodo.

Marcus Mietzner dalam buku berjudul Money, Power, and Ideology: Political Parties in Post-Authoritarian Indonesia menjelaskan bahwa posisi dewan pembina menjadi pusat kekuasaan bagi Gerindra. Dia menambahkan posisi ketua dewan pembina partai tersebut tetap memiliki otoritas penuh terhadap dewan pimpinan pusat.

Teori Mietzner tersebut menyiratkan bahwa kekuasaan Prabowo tidak akan berkurang walaupun melepas jabatan ketua umum kepada Sandi. Para simpatisan pun tidak akan merasa kehilangan sosok Prabowo karena dia masih menjadi bagian dari partai. Justru keputusan itu memberi efek positif kepada elektabilitas partai kelak.

Sementara itu, bila Gerindra menyadari peta politik 2024, Sandi akan menjadi pilihan yang paling tepat sebagai ketua umum. Pemilu 2024 diperkirakan adanya pergeseran mindset politik dan cara pendekatan yang berbeda kepada pemilih. Tahun itu generasi milenial menjadi lebih dominan dibandingkan dengan tahun ini.Padahal, pada 2019 jumlah pemilih milenial, yaitu berumur 17—35 tahun telah mencapai 40%.

Sosok Sandi yang energik dan dekat dengan anak muda tentu dapat mengamankan sebagian suara dari generasi milenial. Sejauh ini, sosok politikus muda dan energik ini yang belum terlihat di partai lain, kecuali di Demokrat dengan sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Seperti diketahui, narasi politik Sandi tidak hanya mendapatkan suara dari emak-emak, pengusaha mikro, kecil, dan menengah, serta golongan islam konservatif. Akan tetapi, dia kerap merangkul suara dari anak muda antara lain pekerja startup, influencer, dan entrepreneur. Strategi ini terbukti ampuh untuk mengangkat elektabilitas Prabowo-Sandi pada Pemilu 2019.

Baca juga :
Jokowi Abaikan Isu Pertahanan Udara?

Sementara itu, hubungan yang baik antara Sandi dengan petinggi Gerindra, PAN, dan PKS menjadi modal utama sebagai ketua umum. Sandi belum pernah memiliki konflik dengan petinggi-petinggi partai koalisi. Bahkan, ketika memutuskan menjadi Cawapres, dia mendapatkan dukungan penuh dari koalisi.

Modal Sandi yang tidak kalah penting untuk menjadi ketua umum, yaitu kekuatan finansial yang kuat. Sudah menjadi rahasia umum bila Pemilu membutuhkan biaya yang tinggi, Sandi menjadi orang yang paling siap dalam hal keuangan.

Sandiaga Uno berpeluang menjadi Ketua Umum Gerindra Click To Tweet

Kembali kepada Mietzner, dia mengatakan patron atau pola dari pemimpin partai bervariatif. Patron ini biasanya berdasar dari garis keturunan, karisma, popularitas, dan kekayaan. Dia mencontohkan bahwa Megawati Soekarnoputri memiliki patron keturunan dari Soekarno yang merupakan Presiden pertama.

Sandi hampir memiliki semua patron ini, dia merupakan keturunan dari tokoh terhormat Henk dan Mien Uno, popularitas sebagai politikus muda yang berhasil masuk bursa Cawapres, dan kekayaan yang melimpah.

Sorotan utama kekuatan Sandi berada pada sektor finansial. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) misalnya mencatat jumlah kekayaan Sandi pada 2018 mencapai Rp5,09 triliun. Daftar kekayaan Sandi terdiri atas harta tidak bergerak senilai Rp191,644 miliar, dua mobil senilai Rp325 juta, harta bergerak lainya senilai Rp3,2 miliar.

Selain itu, dia memiliki surat berharga senilai Rp4,707 triliun serta kas dan setara kas senilai Rp41,295 miliar. Akan tetapi, Sandi memiliki utang senilai Rp340,028 miliar.

Menurut majalah Forbes pada 2009 lalu, Sandi masuk ke dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia dengan memiliki aset senilai US$400 juta. Sedangkan, pada 2018 peringkatnya menurun menjadi di posisi ke-85 dengan taksiran kekayaan senilai US$300 juta.

Kendala Sandi Jadi Ketum

Kendati memiliki modal sebagai seorang pemimpin, tapi jalan Sandi untuk menjadi Ketua Umum Gerindra mungkin tidak bisa semulus itu. Ada beberapa persoalan yang harus diselesaikan untuk melanggengkan rencana itu.

Untuk diketahui, partai-partai lain sedang mendekati Sandi untuk menjadi kader mereka. Lobi tersebut terjadi karena saat ini Sandi belum memiliki partai politik. Sandi memilih mundur dari jabatan Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra untuk maju dalam Pemilu 2019.Keputusan ini diambil karena Sandi dan petinggi Gerindra menilai tidak etis bila Capres dan Cawapres berada dalam partai yang sama.

Baca juga :
The Saga of Two Sisters

Secara spesifik, PAN tampak menjadi partai yang terlihat paling ngebet menggaet Sandi. Partai berlogo matahari ini bahkan dikabarkan telah menyiapkan Kartu Tanda Anggota (KTA) untuk Sandi.

Sebenarnya, selain Sandi, Fadli Zon yang merupakan salah satu pendiri Gerindra memiliki kesempatan yang sama menjadi ketua umum. Bahkan, sejak 2014, Fadli Zon sudah terlebih dahulu menjadi kandidat terkuat ketua umum. Senioritas tersebut yang dapat membuat Sandi enggan menerima tawaran atau mengajukan sebagai ketua umum.

Walaupun memiliki kesempatan yang lebih kecil, Ahmad Muzani juga bisa menjadi sosok yang diperhitungkan. Jabatan dia sebagai Sekjen Gerindra melambungkan namanya karena seringmenjadi penyambung lidah ke media. Hal ini sedikitnya mendongkrak popularitasnya.

Pada akhirnya, semua kendala yang membuat Sandi sulit mendapatkan jabatan ketua umum sebenarnya dapat terselesaikan melalui proses lobi. Pendekatan seperti ini bukan menjadi barang yang baru di dunia politik. Hal tersebut lumrah terjadi setiap waktu dalam urusan internal partai dan koalisi.

Kunci utama Sandi menjadi ketua umum adalah dukungan dari petinggi partai, khususnyaPrabowo. Meski Sandi tidak pernah menyatakan diri berkeinginan untuk menjabat sebagai Ketua Umum Gerindra, tapi dia tidak mungkin menolak keputusan tersebut jika Prabowo yang memberikan restu.Adapun koalisi seperti PAN dan PKS diprediksi tidak akan terlalu lama berpolemik terkait permasalahan ini.

Namun, apakah Prabowo akan semudah itu memberikan restu kepada kadernya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan? Semua tinggal menunggu waktu. (R47)