Sandi Keblinger Tata Tanah Abang

Sandi Keblinger Tata Tanah Abang
Istimewa
2 minute read

“Alhamdulillah banyak yang datang ke Tanah Abang, semakin banyak berkahnya. Omzet penjual pun melonjak naik. Memang sih semrawut, tapi itu karena kurangnya lahan usaha di Tanah Abang.” ~ Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno.


PinterPolitik.com

Kawasan perbelanjaan Tanah Abang memang surganya konsumen berbelanja. Gak bisa dipungkiri, tempat ini kian ramai dikunjungi dari tahun ke tahun. Saking banyaknya konsumen yang berkunjung, suasananya pun menjadi serba semrawut. Ya mau gimana lagi, luas lahan gak bertambah, tapi orang yang berbelanja justru makin banyak. Bahkan terkadang, lapak para pedagang semakin menjalar ke trotoar dan jalan-jalan.

Dan uniknya, Pemprov DKI justru memfasilitasi para pedagang ini untuk secara legal berjualan di trotoar dan jalan-jalan sekitar Stasiun Tanah Abang. Ya maklumin aja, toh memang sedari awal masalah utama kesemrawutan Tanah Abang gegara kurangnya luas lahan.

Padahal eike dulu masih inget Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga bilang beda deh. Tahun lalu Sandi pernah bilang kalau biang kerok penyebab semrawutnya Tanah Abang karena pejalan kaki. Wedew. Dan kini dia lanjut melemparkan sumber masalah itu pada sempitnya lahan Tanah Abang. Wow, super sekali!

Kenapa setiap ada satu kendala di Tanah Abang, harus ada obyek yang perlu dipersalahkan sih? Sebagai pemimpin yang baik, dia harusnya menahan pernyataan yang unfaedah kayak gitu. Daripada membicarakan yang masih debatable, mendingan Sandi fokus pada langkah pembenahan Tanah Abang.

Emangnya kalau lahan udah kesempitan, terus Sandi mau melebarkan kawasan Perbelanjaan Tanah Abangnya? Apa perlu satu Kecamatan Tanah Abang nantinya dijadiin lokasi jual beli? Aya aya wae ah. Padahal Anies-Sandi punya Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) loh. Jumlah mereka kan ada 73 orang.

Baca juga :
The Economist, Hilangnya Legitimasi Prabowo

Masa gak ada satu pun yang bisa memberikan masukan lebih berfaedah, agar Tanah Abang lebih tertata dengan baik meski masyarakat banyak berkunjung untuk berbelanja? Hadeuh. Masa anggaran TGUPP doang sih yang digedein jadi Rp 28 miliar dari sebelumnya Rp2,3 miliar. Tapi sumbangsih kerjanya untuk pembangunan jakarta nol besar.

Jangan bilang, kalau alasan kurangnya luas lahan cuma dijadikan sebagai alibi untuk bisa menggelontorkan dana lebih untuk pembangunan gedung baru pusat perbelanjaan Tanah Abang? Jiah, ujung-ujungnya nyairin anggaran toh. Mau mark up anggaran ya? Ingat loh ya, menata itu gak mesti melulu harus membangun yang baru!

Pemimpin kok kebanyakan teori, tapi kerja nyatanya memble kayak gini. Segala kebijakan yang dikeluarkan malah justru membuat Tanah Abang kian semrawut. Sebagai Pemimpin Jakarta, sebaiknya Sandi merenungkan perkataan filsuf Voltaire (1694-1778): “Let us work without theorizing, this the only way to make life endurable.” (K16)

Facebook Comments