Sandi Bisa Tancap Gas 2024

Sandi Bisa Tancap Gas 2024
Sandiaga Uno (Foto: Tempo.co)
7 minute read

Banyak orang mempertanyakan karier Sandiaga Uno pasca kerusuhan 22 Mei. Meski banyak yang sangsi, sebenarnya masa depan politik Sandi masih cukup cerah menuju 2024.


Pinterpolitik.com

Sandiaga Uno menjadi legacy tunggal dari Pemilu 2019 yang berpotensi besar mengikuti Pilpres 2024. Kesimpulan ini mengingat Joko Widodo tidak bisa maju lagi karena terhalang Undang-undang dan Ma’ruf Amin terkendala usia. Meski tidak menampik kemungkinan Prabowo Subianto masih berpeluang ikut Pilpres kembali, tapi posisi tawar Sandi ketika itu dinilai lebih besar sehingga Prabowo akan lebih dominan berpolitik di belakang panggung.

Liam Gammon dalam tulisan On the 2024 campaign trail with Sandi Uno mengatakan bahwa Pilpres 2019 adalah masa kampanye Sandi demi mendulang suara pada 2024. Sandi tidak tanggung-tanggung berinvestasi demi 2024 nanti. Menurut Bloomberg, dia telah mengeluarkan sekitar Rp1,4 triliun untuk biaya kampanye.

Antonius Made Tony Supriatma kandidat PhD Cornell University, Amerika Serikat mengatakan dengan tidak terpilihnya Sandi pada 2019 bukan berarti investasi dia hangus begitu saja. Bersama Prabowo, Sandi juga akan berperan sebagai pembuat keputusan untuk memenangkan dirinya pada 2024. Sandi juga akan menggunakan jaringan lama dia di sektor perekonomian dan jaringan politik Prabowo untuk menguatkan dirinya hingga Pilpres nanti.

Namun, langkah taktis Sandi tersebut kini harus dihadapkan dengan aksi 22 Mei yang berujung dengan kerusuhan. Sampai 24 Mei 2019, tercatat perusuh yang tewas karena bentrokan sebanyak delapan orang, sekitar 700 orang luka-luka, dan tersangka provokator yang ditangkap sekitar 300 orang. Dilansir dari Bloomberg, kerusuhan yang terjadi pada aksi 22 Mei lalu merupakan yang terburuk dalam waktu 21 tahun terakhir di Indonesia atau sejak 1998.

Masyarakat yang melihat kejadian kerusuhan tersebut kini memiliki prasangka negatif terhadap kubu oposisi. Mereka berprasangka jika penyebab kerusuhan ini karena sikap penolakan hasil KPU oleh kubu 02. Hal ini tidak menguntungkan bagi Sandi yang memiliki rencana jauh ke depan.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (DPP PSI) Tsamara Amany yang merupakan pendukung petahana mengatakan bahwa terlepas dari dugaan kecurangan Pemilu, pasangan Prabowo-Sandi bertanggung jawab terhadap kerusuhan di Tanah Abang, Jakarta Pusat pada beberapa waktu lalu.

Baca juga :
Spiritual Capital, Senjata Rizieq?

Tsamara meminta kubu 02 untuk untuk membuka mata terkait dampak demonstrasi tersebut. Dia mempertanyakan apakah Sandi yakin ingin meninggalkan kenangan yang buruk dalam pemilu ini mengingat masa depan politik Sandi masih panjang.

Ketika demonstrasi itu berlangsung warganet di Twitter juga mengingatkan Sandi hal yang sama. Warganet sepakat agar Sandi menyelamatkan karier politik dia dengan mengakui kekalahan atau menginstruksikan langsung untuk menghentikan aksi demonstrasi.

Preseden Buruk Bisa Jegal Sandi?

Aksi 22 Mei membua tbanyak orang mulai menerawang karier politik Sandi. Kejadian ini bisa jadi akan terus mewarnai karier Sandi ke depan. Premis ini tidak mengalir begitu saja. Telah banyak tokoh yang menjadi korban dari peristiwa buruk dalam karirnya pada masa lalu. Hal ini karena kejadian itu terus membekas di pikiran rakyat sebagai trauma kolektif.

Charles R. Figley profesor dari Tulane University, Amerika Serikat mengatakan jika semua kejadian (kerusuhan) hanya fokus terhadap luka fisik dan kematian, akan tetapi mengabaikan terhadap trauma kolektif yang terdampak oleh peristiwa ini. Trauma koletif ini tidak hanya terjadi kepada orang yang selamat dari peristiwa ini, masyarakat luas juga ikut merasakan ketakutan dan berbagai perasaan lain ketika melihat dan mendengar kejadian ini.

Dia menambahkan berbagai teror seperti penembakan massa di masjid Christchurch, serangan teroris 2015 di Paris, pemboman Kota Oklahoma, 9/11 dan peristiwa traumatis skala besar lainnya ini memengaruhi kelompok-kelompok. Tidak seperti trauma individu, yang memengaruhi satu orang atau kelompok kecil, trauma kolektif dialami oleh populasi yang lebih besar.

Hal ini yang membuat proses penyembuhan trauma kolektif berbeda dengan individu. Jika trauma individu dapat didiagnosis dengan gangguan stres pasca-trauma, tetapi saat ini belum ada penyembuhan yang setara untuk trauma kolektif.

Dalam konteks Indonesia, negara ini terbangun oleh berbagai kejadian berdarah di masa lalu. Beberapa kejadian yang bisa membuat trauma kolektif seperti zaman penjajahan, era 1965 terkait PKI, krisis ekonomi dan kerusuhan pada 1998.

Seperti diketahui trauma kolektif yang ditinggalkan oleh zaman penjajahan seperti sentimen terhadap bangsa asing. Trauma pada 1965, yaitu sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa dan segala ideologi berbau komunis. Sementara itu, tumbangnya Orde Baru pada 1998 membawa trauma yang kompleks seperti sentimen etnis minoritas, kerusuhan yang menyebabkan banyak orang tewas, krisis ekonomi, dan lain-lain.

Baca juga :
Risma Menuju DKI-1?

MMeski ada preseden buruk terkait aksi 22 Mei, Sandi tetap berpeluang besar pada 2024. Kenapada demikian? Click To Tweet

Kemudian hubungan dengan Sandiaga?

Dalam setiap peristiwa kerusuhan di Indonesia selalu ada sosok yang naik panggung dan ada yang tumbang. Kerusuhan pada 1965 membuat Soeharto naik panggung karena dianggap berhasil mengendalikan keamanan nasional, sedangkan Soekarno turun. Kemudian pada 1998, Soeharto turun karena dianggap biang keladi krisis lalu negara ini mulai mengenal pelan-pelan sistem demokrasi seutuhnya.

Preseden buruk dari 1998 juga masih menyisakan trauma kolektif kepada orang yang dianggap bertanggung jawab. Trauma kolektif ini mengarah kepada sosok seperti Wiranto dan Prabowo. Hal ini yang membuat kedua orang tersebut selalu mengalami kesulitan menjadi presiden karena sebagian masyarakat masih mengalami trauma.

Seperti kata Figley masyarakat di Amerika Serikat juga merasakan trauma yang sama karena serangan 11 September. Sebagian mereka masih memendam trauma kepada kelompok teroris Muslim. Oleh karena itu, ketika Donald Trump berkampanye terkait anti teroris muslim sebagian besar orang memilihnya.

Contoh lainnya adalah George Walker Bush yang terpancing peristiwa 9/11 mendeklarasikan perang terhadap teroris. Pada mulanya dia didukung karena sebagian orang Amerika Serikat terdampak trauma kolektif. Tapi, trauma kolektif baru muncul akibat agresivitas Amerika Serikat selama perang. Sebagian masyarakat mereka menjadi benci terhadap perang dan menghujat Bush.

Sandiaga Tetap Berpeluang

Namun, tidak ada yang tidak mungkin dalam perjalanan karier politik seseorang. Contohnya Prabowo, tidak ada yang menyangka dia akan terus menjadi saingan paling kuat dalam Pilpres sejak 2009. Padahal semua orang menyangka karir politik dia akan tamat karena dugaan terlibat dengan kerusuhan pada 1998.

Wiranto juga pernah menjadi kandidat Capres pada 2004 meski tersingkir pada putaran pertama. Sedangkan, pada 2009 dia sempat menjadi Cawapres kendati gagal mengalahkan petahana SBY.

Sandi masih berpeluang besar karena pertama, dia tidak terlalu banyak bicara mengenai aksi 22 Mei. Bahkan, dia tidak berupaya untuk menggerakan aksi tersebut. Selain itu, walau dia menulis akan berjuang hingga akhir bersama Prabowo di akun Twitter-nya. Tapi dalam tulisan tersebut tidak secara langsung dia mendukung aksi demonstrasi.

Kedua, sikap diam dan tampak sedih Sandi ketika mendampingi Prabowo mendapatkan simpati dari masyarakat. Terhitung sudah dua kali Sandi bersikap seperti ini, yaitu ketika deklarasi kemenangan dan ketika konferensi pers pada 22 Mei sore hari. Dalam kedua momen tesebut ekspresi muka Sandi yang sedih mendapatkan perhatian yang luas. Banyak warga jadi mendukung Sandi karena ekspresi terrebut.

Baca juga :
Anies Semakin Mengekor Ahok

Ketiga, kritik berupa pernyataan bahwa 02 harus bertanggung jawab atas kerusuhan ini hanya ramai di media sosial. Belum ada tokoh besar secara langsung mengkritik 02.

Keempat, pada sore 22 Mei oposisi melalui konferensi pers menyampaikan agar aksi demonstrasi dihentikan. Mereka berencana akan menggunakan jalur hukum dan gerakan non-violence untuk menyikapi kecurangan Pemilu.

Kelima, Sandi masih berpeluang tinggi karena kelak dia bisa lebih banyak tampil di panggung untuk mewakili oposisi. Hal ini terutama jika ia mendapatkan posisi penting dalam lingkar partai oposisi.

Keenam, selain bisa masuk ke kedua massa pendukung, dia juga pandai berdiplomasi. Seperti beberapa waktu lalu setelah hari pencoblosan dia sempat memiliki keinginan untuk bertemu dengan Ma’ruf.

Ketujuh, dia memiliki hubungan yang baik dengan rakyat di sebagian besar Indonesia, terutama emak-emak. Hal ini dapat terlihat dari hubungan keduanya ketika kampanye politik Sandi di berbagai daerah. Seperti diketahui, Sandi menyebut bahwa dirinya telah berkampanye hingga 1.000 titik di seluruh Indonesia.

Selain itu, Sandi sebenarnya orang yang memiliki strategi. Dia akan melakukan segala cara, tapi dengan santun untuk mendapatkan suara.

Dalam tulisan Gammon di New Mandala menyebutkan demi mendapatkan kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandi rela meninggalkan gaya hidup yang liberal. Dia mulai mengadopsi penampilan sebagai politikus Muslim.

Sandiaga Uno berusaha menempatkan dirinya sebagai role model kaum muda Muslim. Dia sukses, kaya, berprestasi. Ini modal yang sangat baik untuk masa depan bila dia ingin serius menjadi presiden.

Namun, tidak seperti Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta, Sandi tidak pernah berusaha menemui Muhammad Rizieq Shihab, pemimpin FPI. Sandi juga berusaha menjauh dari acara-acara seperti Reuni 212. Hal ini juga mungkin sebagai rencana dia untuk tetap mendulang suara dari Islam moderat.

Lalu selamatkah karier politik dia?

Masih sangat mungkin. Dia adalah komplet dari calon pemimpin 2024. Dia merupakan role model kaum muda Muslim, bugar, sukses, kaya, dan berprestasi. Kita buktikan saja nanti. (R47)

Facebook Comments