Rocky Gerung, Pejuang Intelektual Demokrat?

Rocky Gerung, Pejuang Intelektual Demokrat
Foto : Istimewa
8 minute read

Kemampuan Rocky Gerung sebagai intelektual organis menjadi salah satu keunggulan tersendiri bagi Partai Demokrat jika ia memutuskan untuk bergabung dengan partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut. Mungkinkah ia merupakan investasi politik terbaik Demokrat untuk masa mendatang?


PinterPolitik.com

“All men are intellectuals, but not all men have in society the function of intellectuals” – Antonio Gramsci

Terjawab sudah haluan politik sang presiden Akal Sehat, Rocky Gerung, selama ini. Pasalnya, pada acara kampanye terbuka perdana pada hari Minggu kemarin, ia membelalak mata para penonton yang hadir, juga masyarakat luas, dengan mengenakan jaket bernomor punggung 14 berwarna biru, yang merupakan jaket resmi Partai Demokrat. Di pungguhn jaket itu bertuliskan kata-kata “Aku Demokrat”.

Meskipun belum secara terbuka menyatakan akan bergabung sebagai kader partai tersebut, tentu saja kita sudah bisa menebak ke mana kesetiaan politik Rocky selama ini berlabuh.

Dalam acara tersebut, ia secara terbuka memuji Partai Demokrat sebagai partai yang memiliki konsep kuat untuk memajukan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan ia juga mengaku rutin berdiskusi dengan SBY mengenai persoalan-persoalan di negeri ini.

No Rocky, no party! Click To Tweet

Sementara dari kubu Demokrat sendiri, sikap Rocky ini tentu saja disambut dengan nada positif. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tak memungkiri bahwa Rocky memang berniat bergabung dengan Partai Demokrat dan telah menganggap partai biru itu sebagai rumah keduanya.


Antusiasme serupa juga datang dari Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaeaen yang mengaku sangat senang jika sosok seperti Rocky bergabung dengan partai berlambang mercy tersebut. Sebab, menurutnya, Rocky dianggap sebagai tokoh yang fenomenal, meski sering kali pernyataannya dianggap kontroversial.

Pihak Partai Demokrat sendiri sesungguhnya tengah menanti status legal formal Rocky melalui pendaftarannya sebagai kader.

Meskipun mungkin saja banyak pihak yang kecewa dengan sikap politiknya selama ini yang lebih sering menyulut kontroversi menjelang Pilpres 2019, dan terkesan mulai meninggalkan dunia akademis yang menjadi identitasnya, nyatanya kehadiran Rocky di Demokrat di tengah hiruk-pikuk politik yang ada justru menjadi angin segar yang cukup menjanjikan ke depannya

Lalu, bagaimanakah publik seharusnya melihat sepak terjang Rocky Gerung ini dengan semakin dekatnya hari pencoblosan? Mungkinkah dukungan terbuka Rocky kepada Demokrat membawa konsekuensi-konsekuensi politik tersendiri?

Rocky Gerung, Pejuang Intelektual Demokrat

Intelektual Organik

Siapa yang tak kenal Rocky Gerung. Namanya cukup melambung ketika ia kerap kali vokal mengkritik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Berbagai jargon nyeleneh seperti “dungu”, “bong 200”, hingga “presiden akal sehat”, seolah-olah lekat menjadi suku kata favoritnya ketika ia tengah bersuara di media sosial.

Sebagai seorang aktivis HAM dan mantan pengajar Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia (UI), tentu kemampuan intelektualnya tak perlu diragukan lagi.

Berkat Twitter sebagai panggungnya, dan mungkin saja sedikit “sokongan” dari para politisi yang melihat potensi intelektual dan retorikanya, ia pada akhirnya berhasil mendulang popularitas.

Melalui akun Twitternya, samar-samar nama salah satu pendiri Setara Institute itu mulai naik daun ketika pertarungan Pilpres antara Jokowi dan Prabowo Subianto mulai memanas.

Sehinga, dari situlah ia seolah mendapat legitimasi sebagai salah satu tokoh yang cukup dikagumi dan diikuti secara retorika maupun logika berfikir – meskipun tak sedikit pula yang menganggapnya hanya “bising” saja.

Tentu menarik untuk mengupas sepak terjang Rocky Gerung baik dari sisi intelektualitas, maupun kemampuan retorika yang cukup untuk menyihir para pengikutnya. Kecanggihan olah kata-kata yang ia bawakan cukup menjadi salah satu modal sosial-politik yang potensial.

Dalam hal ini, sepak terjang Rocky Gerung seolah mengingatkan pada apa yang pernah disampaikan oleh  Antonio Gramsci tentang intellectual organic.

Bagi Gramsci, intellectual organic atau kaum intelektual organik adalah adalah mereka yang mampu menghubungkan ketidakpuasan individual ke dalam bentuk aktivisme sosial kolektif.

Dalam konteks ini, umumnya pelaku intelektual akan menguasai dua hal dalam wilayah kerjanya. Di antaranya adalah teori (intelektual tradisional) dan kemampuan menghubungkannya dengan realitas sosial (intelektual organik).

Intelektual organik dengan demikian adalah intelektual yang dengan sadar dan mampu menghubungkan teori dan realitas sosial yang ada, di mana ia akan bergabung dengan kelompok-kelompok revolusioner untuk mewujudkan sebuah transformasi yang direncanakan dan diharapkan.

Lalu, mungkinkah Rocky adalah sosok intellectual organic itu? Bisa saja sangat mungkin demikian. Kini, Rocky mampu menjadi martir intelektual bagi kubu Prabowo-Sandiaga Uno – yang punya posisi politik linear dengan Partai Demokrat – dan kerap kali mengkritik kubu petahana dengan cara-cara yang bisa dibilang menyentuh nalar dan terkesan akademik.

Adalah Thamrin Tomagola, dosen sosiologi UI yang juga mengakui bahwa sosok Rocky cukup menguasai conceptual tools klasik dan seseorang dengan intelektualitas tinggi. Meskipun ia hanya lulusan S1, nyatanya ia juga mampu mengajar mahasiswa S3.

Tanda-tanda “kenabian” intelektual organik itulah yang kini seolah membawanya ke puncak popularitas. Dan secara mengejutkan, ia berhasil mengumpulkan masa pendukung yang jumlahnya tak sedikit.

Meskipun dalam konteks teori, menurut Gramsci intelektual organik adalah mereka yang bergerak dalam konteks gerakan revolusioner. Sedangkan dalam konteks Rocky Gerung, ia menggunakan kapabilitasnya secara intelektual untuk mengorganisir pengikut dalam konteks politik jelang Pilpres 2019.

Bahkan akhir-akhir ini ia kerap kali diundang dalam forum-forum di beberapa universitas – yang nota bene merupakan wilayah di mana aktivitas intelektual terjadi – untuk memberikan ceramah-ceramah politik yang ia namai sebagai “politik akal sehat”, utamanya di beberapa titik di Jawa Timur.

Meskipun sempat mendapat pencekalan di beberapa daerah dan juga sempat diancam akan dipenjarakan oleh pihak berwajib karena ucapanya yang dianggap menista agama, nyatanya animo pendukung Rocky tak surut untuk membelanya.

Lalu, bagaimanakah keunggulan intelektual ini dapat menjadi keunggulan, khususnya bagi masa depan Demokrat?

The Next Party Icon of Demokrat?

Keputusan Rocky untuk mendeklarasikan diri menjadi bagian dari Partai Demokrat seolah menjawab pertanyaan kepada siapa kesetiaan politiknya selama ini berlabuh.

Dalam konteks ini, mungkin saja selama ini sikap politik Rocky cukup sejalan dengan gaya berpolitik SBY yang dikenal santun dan juga sebagai the Thinking General. Ya, SBY memang dikenal sebagai ahli strategi politik yang cukup mahir dan bahkan memiliki popularitas yang cukup konsisten.

Jika ditelusuri, kedekatan Rocky dengan Demokrat sesungguhnya telah tercium lama ketika pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, ia menjadi salah satu mentor debat pasangan AHY-Sylviana Murni. Rocky, kala itu, secara khusus melatih AHY dalam pemilihan kata dan bahasa tubuh yang harus digunakan dalam ajang debat.

Selain itu, Rocky juga diketahui terlibat dalam sebuah lembaga think tank yang dimiliki SBY, yakni The Yudhoyono Institute.

Oleh karenanya, dalam konteks sikap kritisnya dalam Pilpres 2019 kali ini, terlihat bahwa ternyata bukan hanya sosok SBY ataupun AHY yang menjadi the last samurai bagi Partai Demokrat secara khusus, dan bagi Prabowo-Sandi secara umum. Rocky juga mengambil peran itu dan seolah  menjadi hidden weapon yang muncul di akhir-akhir pertarungan politik ini.

Dalam konteks Demokrat, jika melihat sepak terjang Rocky, kehadirannya tentu saja menjadi hidden potential tersendiri bagi partai biru tersebut.

Hal ini juga penting, mengingat Demokrat kini harus berjuang meningkatkan pencapaian perolehan suara di Senayan demi mengamankan Pilpres 2024. Selain itu, dengan absennya sosok SBY yang harus merawat sang istri di Singapura, partai tersebut harus segera menemukan daya tarik lain.

Selama ini, Demokrat memang partai yang kerap kali menelurkan tokoh-tokoh yang cukup frontal dan progresif sebagai ikon partai.

Sebut saja sosok macam Ruhut Sitompul yang dulu kerap kali frontal dan vokal dalam setiap kesempatan di muka publik sebagai representasi Demokrat, meskipun kini sang politisi asal Medan tersebut telah berpaling dan bergabung dengan PDIP.

Atau belakangan ini nama sosok Andi Arief juga cukup frontal dalam mengkritik pemerintah. Secara intelektual, Andi Arief juga memiliki kemampuan yang mumpuni berkat pengalamannya sebagai aktivis sewaktu menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Ada juga sosok Anas Urbaningrum yang juga disebut-sebut memiliki kemampuan intelektual yang cukup mumpuni dan sempat menjadi ikon bagi Partai Demokrat. Sayangnya, lulusan Ilmu Politik Universitas Airlangga itu harus terjegal kasus korupsi.

Juga ada sosok mantan Jubir SBY, Andi Mallarangeng, yang secara background intelektual juga memiliki track record yang cukup gemilang. Ia bahkan merupakan doktor Ilmu Politik lulusan Northern Illinois University, Amerika Serikat. Namun, sayangnya karier politik Andi harus terjegal kasus korupsi beberapa tahun lalu.

Dari absennya para tokoh potensial di tubuh Demokrat itulah yang menyebabkan partai ini kehilangan sosok iconic dalam tubuh partai. Padahal bisa dibilang, selama ini hal itulah yang menjadi keunggulan Demokrat dibanding partai-partai politik lain.

Sehingga, boleh dikatakan, keputusan Rocky untuk bergabung di Demokrat adalah investasi politik terbaik bagi partai ini baik dalam konteks Pilpres kali ini hingga menuju kontestasi elektoral di tahun 2024.

Kini, SBY telah memikirkan untuk membentuk sosok AHY sebagai pemegang estafet kepemimpinanya di Demokrat untuk masa mendatang. Dengan bergabungnya Rocky Gerung , tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan menjadi political icon Demokrat di masa depan, utamanya dalam mengawal AHY untuk merebut kekuasaan di 2024. Lalu bagaimanakah kiprah sang pejuang intelektual ini di masa mendatang? Menarik untuk ditunggu. (M39)