Rizieq Terjerat Bendera Palsu?

false flag
Imam Besar FPI Rizieq Shihab. (Foto: Reuters)
7 minute read

“Bendera dipasang tukang fitnah. Ada operasi false flag terhadap HRS di Mekah saat ini. Mereka berharap, dengan adanya peristiwa tersebut HRS mendapatkan kesulitan dari pihak keamanan Saudi,” Munarman, Sekretaris Umum DPP FPI


PinterPolitik.com

Lama tak terdengar kabarnya, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab kembali menjadi berita. Berada jauh di negeri padang pasir Arab Saudi, tak menghentikan pentolan Aksi 212 itu menjadi buah bibir. Meski begitu, berita yang keluar belakangan ini memiliki nada yang berbeda ketimbang biasanya.

Rizieq diberitakan menjalani pemeriksaan oleh intelijen negeri yang dipimpin Raja Salman tersebut. Sempat diperiksa dan ditahan selama beberapa waktu, Rizieq akhirnya dibebaskan dengan jaminan. Selama proses tersebut, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) mendampingi Rizieq.

Diketahui, penyebab pemeriksaan terhadap Rizieq itu terkait dengan pemasangan sebuah bendera di kediamannya di Arab Saudi. Bukan sembarang bendera, yang dipasang adalah bendera hitam berlafaz tauhid  yang di Indonesia sempat menjadi perbincangan. Sayangnya, di Arab Saudi pemasangan bendera tersebut tidak selalu menghasilkan perbincangan. Hal ini karena negara tersebut sangat berhati-hati pada simbol-simbol atau jargon-jargon kelompok teroris seperti ISIS atau Jamaah Islamiyah.

Di tanah air, para pendukung Rizieq langsung ramai-ramai menyebut bahwa hal itu adalah fitnah. Secara khusus, mereka menyebut ada operasi intelijen yang ingin menyudutkan junjungan mereka tersebut. Terlepas dari benar atau tidak tuduhan tersebut, kerugian apa yang diterima Rizieq akibat kasus tersebut?

Operasi Bendera Palsu?

Pemeriksaan terhadap Rizieq memang menimbulkan tanda tanya besar dalam konteks politik Indonesia. Segala jenis teori konspirasi mengemuka terkait kasus tersebut. Para pendukung Rizieq menganggap ada operasi intelijen yang berupaya mencegah kepulangan sang imam besar FPI itu ke tanah air.

Secara khusus, Sekretaris Umum DPP FPI Munarman menyebut bahwa operasi yang terjadi adalah operasi false flag atau bendera palsu. Tuduhan ini sebenarnya dapat dikatakan bersifat konspiratif, mengingat orang-orang yang mempercayai operasi ini umumnya para pendukung dan penggemar teori konspiratif.

False flag sendiri dapat didefinisikan sebagai operasi tersembunyi yang dirancang untuk menipu. Tipuan ini menciptakan kesan bahwa kelompok tertentu dianggap bertanggung jawab atas suatu aktivitas dan menutupi sosok asli yang seharusnya bertanggung jawab. Dalam kasus Rizieq, jika merujuk pada pernyataan Munarman, Rizieq dapat dianggap harus bertanggung jawab atas pemasangan bendera, padahal bisa saja ada sosok yang sebenarnya lebih bertanggung jawab.

Salah satu sosok yang kerap menggunakan teori false flag adalah pengguna teori konspirasi, Alex Jones yang terkenal sebagai pendiri website Infowars. Ia menggunakan teori semacam itu untuk menyebutkan penyebab beberapa peristiwa penting. Peristiwa 11 September 2001 misalnya, dianggap sebagai false flag untuk mempopulerkan perang di Timur Tengah. Ia juga menyebut bahwa peristiwa bom Boston Marathon adalah pengalihan yang dibuat oleh pemerintah.

Terlepas dari apakah operasi ini bisa atau tidak dianggap sebagai sebuah false flag, nyatanya pemasangan bendera tauhid ini telah memberikan konsekuensi tersendiri kepada Rizieq. Konsekuensi semacam inilah yang boleh jadi membuat Munarman dan pendukung Rizieq lainnya percaya sang imam tengah dijebak.

Menurut Joseph Uscinski, associate professor dari University of Miami, teori seperti false flag ini memang tergolong populer. Popularitas tersebut terjadi karena sebuah peristiwa dianggap dapat didesain untuk menjustifikasi tindakan tertentu. Pada kasus penembakan Sandy Hook di Amerika Serikat (AS) misalnya, beberapa orang meyakini kasus itu adalah false flag untuk menjustifikasi kontrol senjata di negeri tersebut.

Pendukung Rizieq percaya kalau junjungannya dijebak operasi intelijen Click To Tweet

Selain itu, pemahaman seperti ini juga memiliki keterkaitan dengan pemahaman politik tertentu dari masyarakat. Di AS misalnya, pemikiran konspiratif cenderung membuat pendukung Partai Republik percaya bahwa Partai Demokrat menjalankan konspirasi. Hal serupa berlaku pada Demokrat yang percaya jika Republikan-lah yang melakukan konspirasi.

Terlepas dari kondisi tersebut, sebagaimana kebanyakan teori konspirasi, tidak banyak yang bisa dibuktikan termasuk pada kasus Rizieq. Meskipun demikian, konsekuensi dari peristiwa ini tetap saja tak bisa terhindarkan.

Rizieq Terancam?

Rizieq yang terus mencari momen untuk dapat kembali ke tanah air kini mulai kembali menjadi sorotan. Bagaimanapun, kasus hukum yang terjadi di Arab Saudi dapat membatasi ruang geraknya. Ia boleh jadi tidak akan lagi bebas bersuara untuk merespons berbagai fenomena di negeri ini, apalagi sampai pulang dan kembali “bermain” dalam politik Indonesia.

Pasca insiden pemasangan bendera tersebut, Rizieq sampai harus berurusan dengan Mabahis ‘Ammah, badan intelijen umum milik kerajaan di Jazirah Arab tersebut. Tidak hanya itu, menurut Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, kasus Rizieq juga berpotensi membuat lembaga superbody yang ada di bawah Raja Saudi, yakni Presidency of State Security, ikut campur dalam penanganannya.

Pemerintah Arab Saudi memang tergolong tidak memberi toleransi pada jargon-jargon atau simbol-simbol yang berbau terorisme. Terkait ISIS misalnya, pada tahun 2015, negeri petrodollar itu pernah memenjarakan 93 orang yang diduga terlibat perancangan aksi untuk menyerang Kedubes AS di Riyadh.

Dalam konteks tersebut, Rizieq boleh jadi mendapat ancaman hukum yang cukup mengganggu. Penjara negeri padang pasir bisa menghantui pendiri FPI tersebut jika Arab Saudi menganggap Rizieq punya kaitan dengan aksi teror. Kondisi itu tentu akan menghambat gerak-geriknya sebagai tokoh berpengaruh di Indonesia.

Jika benar terpasangnya bendera adalah sebuah false flag, maka kejadian itu menjadi justifikasi untuk memenjarakan Rizieq, seperti yang dipercayai kebanyakan penggemar teori konspirasi sebagaimana yang diungkapkan Uscinski.

Di luar itu, citra buruk boleh jadi tidak hanya akan terjadi pada sisi Rizieq secara personal. Bendera tauhid yang terbentang di rumah Rizieq juga berpotensi mengalami pemburukan makna. Hal ini dapat memberi pengaruh pada kisruh bendera tauhid yang belakangan menyita perhatian masyarakat di Indonesia. Sebelumnya, kasus ini memang menjadi topik utama dalam negeri ini pasca aksi pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh sekelompok oknum dan memicu protes serta demonstrasi.

Bendera yang kini tengah memicu amarah sejumlah kelompok, dalam konteks Rizieq justru dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan oleh pemerintah Arab Saudi. Bendera tersebut justru dianggap terkait dengan terorisme di negara Islam yang menjadi rumah baru bagi tokoh Islam seperti Rizieq. Pada titik itu, momentum kasus bendera yang tengah meninggi di Indonesia bisa saja menurun akibat peristiwa tersebut.

Berefek Politik

Sekali lagi, terlepas apakah benar operasi ini benar-benar murni penegakan hukum oleh otoritas Saudi atau sebuah false flag, kejadian tersebut dapat memiliki konsekuensi secara politik. Hal ini merujuk pada pola beberapa kejadian yang dianggap sebagai false flag.

Salah satu kejadian teranyar yang dianggap sebagai “bendera palsu” adalah kasus penyimpanan bom di beberapa lokasi yang terkait dengan Partai Demokrat di AS. Kediaman tokoh-tokoh seperti Barack Obama dan Hilary Clinton merupakan sasaran dari penemuan bom tersebut.

Presiden AS Donald Trump misalnya mengaitkan hal itu dengan Pemilu sela di Negeri Paman Sam tersebut. ia menyebut bahwa partainya, Republikan tengah menikmati momentum yang baik jelang pemilihan tersebut. Akan tetapi, penemuan bom tersebut memperlambat momentum yang ada di partainya.

Nyatanya, pada hasil Pemilu sela beberapa waktu lalu, Republikan benar-benar kalah dari Demokrat. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir, Demokrat akhirnya berhasil menguasai mayoritas kursi House of Representatives. Kekalahan Republikan tersebut, sedikit banyak bisa saja terpengaruh oleh penemuan bom di tokoh-tokoh yang terafiliasi dengan partai Demokrat.

Pada titik itu, peristiwa pemeriksaan Rizieq di Arab Saudi juga bisa saja memberikan efek politik khusus di Indonesia. Apalagi, belakangan Rizieq tengah banyak dikaitkan dengan kandidat Pilpres 2019, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Belakangan, Rizieq seperti tengah membangun momentum terkait dengan politik di negeri ini. Pasca peristiwa pembakaran bendera HTI beberapa waktu lalu misalnya, Imam Besar FPI ini menyerukan para penggemar fanatiknya untuk memasang bendera yang dibakar sebagai bentuk protes.

Secara khusus, momentum juga tengah ia bangun melalui rekaman suara yang menggambarkan dukungannya pada Prabowo. Dalam rekaman tersebut, ia mengajak ulama yang bergerak di aksi bela Islam untuk memenangkan Prabowo dan Sandiaga.

Melalui peristiwa bendera di rumahnya tersebut, sang Imam boleh jadi tidak lagi leluasa untuk mengajak para pendukungnya untuk bergerak. Berbagai kritikannya terhadap pemerintah juga terpaksa harus terhenti karena ia harus berurusan dengan hukum. Mimpi untuk pulang dan kembali memimpin gerakan politik juga bisa saja harus terkubur akibat peristiwa itu. Pada titik ini, Jokowi sebagai sasaran kritik Rizieq sekaligus lawan politik Prabowo boleh jadi bisa sedikit bernapas lega.

Berdasarkan kondisi tersebut, terlepas dari false flag atau tidak, nyatanya Rizieq menerima kerugian akibat terbentangnya sebuah bendera di kediamannya. Menarik untuk dilihat apakah benar kejadian itu merupakan sebuah operasi yang disengaja atau murni kasus kriminal. Apalagi, ia sendiri memang kedapatan pernah menyerukan untuk memasang bendera tauhid di rumah para pendukungnya. (H33)