Risma dan Air Mata Aristotelian

6 minute read

Tangisan Risma, bukan tangisan biasa.


PinterPolitik.com

Pasca pontang-panting menenangkan warga akibat serangan bom beruntun, tangisan Walikota Surabaya yang sudah menjabat sejak 2010 tersebut, akhirnya pecah. Dalam tayangan sebuah acara di televisi swasta, Tri Rismaharini dengan tersedu berkata akan terus berbuat, berkata, dan berdoa untuk melindungi warganya.

Sebelumnya, Risma juga terekam bersujud di hadapan para takmir masjid saat mencoba melakukan ‘pembinaan’ radikalisasi beragama. Rekaman tersebut sempat viral dan membuat banyak publik bersimpati pada kader PDIP ini. Sebelumnya, tangisan Risma juga mengalir di hadapan Najwa Shihab seraya mengatakan, “Saya ingin menjadi Umar bin Khattab” di tahun 2014.

Tangisan Risma yang belakangan ini mendapat sorotan, makin menguatkan sebuah julukan kepada perempuan kelahiran Kediri tersebut, bahwa dirinya adalah walikota yang ‘ekspresif’. Selain ‘ekspresif’, ia juga banyak dipandang sebagai pemimpin yang “tegas”.

Ketegasannya ini, sudah pasti lahir dari kemarahannya yang cukup sering juga terekam di media dan layar kaca. Yang cukup menghebohkan adalah saat ia marah karena Taman Bungkul rusak akibat aktivitas perusahaan es krim Wall’s. Hal sama juga terjadi saat ia memimpin apel pagi dan menemukan satu PNS terkikik di barisan belakang. Belum lagi saat ia menindak langsung perkembangan pembuatan e-ktp yang ternyata masih mandeg.

Sebagai politisi, tentu saja sikap emosional Risma punya daya tarik tersendiri. Dalam buku berjudul “What Americans Know About Politics and Why It Should Matters”, Delli Carpini dan Scott Keeter punya pandangan bahwa sebuah emosi dari seorang politisi yang terepresentasi di media, tidak hanya membantu membangun cerita, tetapi juga memberi isyarat (cue) kepada masyarakat yang sudah atau belum memperhatikan kinerja politisi. Dengan kata lain, keberadaan sebuah ekspresi emosi yang datang dari politisi, pasti akan selalu menarik perhatian rakyat, sehingga politisi itu balik diteliti kinerjanya.

Sementara itu ratusan tahun yang lalu, Aristoteles juga sudah bersabda bahwa emosi adalah hal yang akan pernah bisa terlepas dari manusia atau sebutannya, ever-present component. Emosi, menurut Aristoteles, juga menunjukkan kualitas aspirasi manusia. Mereka yang memiliki aspirasi tinggi, menurutnya juga akan menampilkan dinamika emosinya.

Bila memakai apa yang digariskan oleh Aristoteles, Risma bisa digolongkan sebagai seseorang yang kerap menampilkan dinamika emosinya, baik itu menangis atau marah saat mengelola Surabaya. Tetapi tetap saja, bagi Risma, memimpin Surabaya tidak hanya soal menampilkan sisi emosionalitas belaka.

Lantas, selain sisi emosionalitas apa lagi yang menjadi kelebihan Risma? Siapa pula tokoh lain yang bergerak mirip dengannya?

Politisi yang Menangis

Menampilkan sisi emosional, apalagi menangis, seringkali dianggap sebagai sebuah bentuk kelemahan. Abraham Lincoln saja pernah tertawa terbahak sambil berkata sebagai politisi dirinya tidak akan pernah menangis. Dunia politik yang dianggap “macho”, bisa menjadi alasan Lincoln berkata demikian.

Padahal, menurut Leo Benedictus, penulis dan peraih penghargaan The Guardian menyatakan, bagi politisi sisi emosional apalagi air mata bukanlah bentuk kelemahan sama sekali. Hal itu bisa menjadi sebuah “senjata” tersendiri untuk mendorong personalitasnya sebagai sosok yang populer dan tulus di masyarakat.

Benedictus memang tidaklah salah, sebab ia melihat contohnya dari mantan Perdana Menteri (PM) Margaret Thatcher. Perempuan yang dijuliki wanita besi tersebut kerap mengaku bila dirinya banyak menangis saat kembali ke kediamannya atau saat menghadapi masa berat negaranya.

Margaret Thatcher menangis saat meninggalkan Downing Street. (sumber: The Guardian)

Perempuan yang menjadi inspirasi sineas pembuat film tersebut, juga pernah meneteskan air mata saat menceritakan kisah hidup dibesarkan oleh “Daddy” dan “Mummy”. Alhasil, Thatcher berhasil menuai simpati dan rakyat merasa punya sebuah kesamaan dengannya.

Selain Thatcher, Clinton juga pernah mendapat momen “air mata” saat mendapat serangan debat. Sementara Julia Gillard, mantan PM Australia tiba-tiba juga menangis saat mengesahkan kebijakan asuransi bagi penyandang disabilitas.

Alasan menangis ketiga pemimpin tersebut, memang berbeda konteksnya. Tetapi bagi dunia politik Barat, menangis tersedu seperti halnya Risma di layar memang sama sekali bukanlah hal yang lazim. Bila kembali kepada konteks Risma yang menangis karena kesedihan tragedi Surabaya, hal yang sama juga menimpa Carmen Yulin Cruz, walikota San Juan, Puerto Rico.

Yulin Cruz memeluk seorang wanita saat berkunjung ke Panti Jompo (sumber: The Guardian)

Carmen Yulin Cruz tak kuasa menahan tangisnya saat diwawancara oleh jurnalis lokal saat berada di pengungsian. Puerto Rico yang saat itu dihajar badai Maria memang membuat hampir seluruh bagian San Juan porak poranda. Bahkan selesai bencana, Yulin harus menghadapi kelesuan ekonomi yang berbuntut pada peningkatan angka bunuh diri warganya.

Hal yang semakin menyakitkan baginya, adalah saat Presiden Donald Trump datang dan membagikan bantuan. Bantuan tersebut diberikan dengan cara dilempar ke kerumunan warga alih-alih diberikan dengan tertib. Cruz terus memprotes cara tersebut sampai hari ini.

Seperti halnya Risma, Cruz juga masih berjibaku membangun dan menemani warga kembali bangkit pasca tragedi yang melanda daerah yang dipimpinnya. Ia sering melakukan ‘blusukan’ dan berada di tengah-tengah warga. Bagi masyarakat Barat yang tak terbiasa melihat politisi menangis di layar kaca, sosok Cruz masih kerap diangkat tetapi tak ada narasi “lemah” yang ditempatkan pada dirinya.

Bukan Sekedar Air Mata

Air mata atau sisi ekspresif Risma selama ini, tentu bukanlah modal satu-satunya yang digunakan saat memimpin Surabaya. Selain menampilkan kemarahan atau ekspresi sedih di muka publik, Risma lebih memilih tak peduli saat menghadapi pemecatan yang dilakukan Ketua DPRD Surabaya, Whisnu Wardhana di tahun 2011.

Ia juga memilih tak ambil pusing saat partainya berasal, PDIP, ikut mendukung keputusan pemecatan dirinya terkait kebijakan pemasangan reklame di pusat kota. Saat itu yang tidak mendukung pemecatan Risma hanyalah fraksi PKS, dengan alasan tak ada cukup bukti dan keputusan dianggap terlalu terburu-buru. Akhirnya Menteri Dalam Negeri saat itu, Gamawan Fauzi, turun dan membatalkan hak angket Ketua DPRD. Polemik ini, pada akhirnya malah mempopulerkan nama Risma di Surabaya.

Namanya makin berkibar saat ia membubarkan Dolly, lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Saat itu, ia juga sudah memainkan narasi, “berani mati” dan “nyawa taruhannya”, saat mengaku berhadapan dengan berbagai intimidasi. Narasi tersebut, kembali terucap saat ia mencoba meredam radikalisme dengan mengundang para takmir masjid.

Dengan demikian, emosi atau air mata Risma, bukanlah sembarang air mata. Selain ekspresif, Risma pun juga membangun kaidah Aristotelian, berupa ethos, pathos, dan loghos. Ethos atau kredibilitas Risma terbangun dari kebijakan-kebijakan nyata yang dibangunnya berupa penghijauan Surabaya, penataan lalu lintas, dan juga taman. Lalu pathos yang selaras dengan simpati, terbangun dari sikap “ekspresifnya” di layar kaca, seperti kemarahan, tegas, hingga lelehan air mata. Sementara loghos atau pemikiran Risma, terletak pada prinsip Risma, untuk mengorbankan nyawanya bagi Surabaya.

Dengan demikian, tangis atau sikap ekspresif Risma juga selaras dengan tiga elemen Aristotelian. Sebagai sebuah ciri khas kepemimpinan, Risma juga memiliki nilai dalam kebijakannya. Selain itu dalam beberapa titik, sebagai seorang politisi, ia tak terlalu vulgar memainkan politik air mata yang diucapkan Benedictus sebelumnya, memang mampu menarik simpati dan menciptakan citra seorang pemimpin yang tulus. Risma mampu menawarkan hal lebih dari sekedar derai air mata atau amukan di bangku birokrasi.

Dengan demikian, air mata Risma memang bukan air mata sembarangan, itu adalah air mata Aristotelian. (A27)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here