RI – AS Tingkatkan Kerja Sama Industri

    Foto: Y14
    3 minute read

    Diharapkan, dengan adanya kerja sama bilateral maka bea masuk bisa ditekan atau bahkan menjadi 0 persen, seperti Vietnam, sehingga kita dapat mendongkrak nilai ekspor  dan mampu bersaing dengan negara lain.


    pinterpolitik.com

    JAKARTA – Indonesia adalah salah satu negara industri padat karya. Sayangnya, untuk menarik investor dan menciptakan industri padat karya tidaklah mudah. Banyak negara yang menjadi pesaing Indonesia. Bagaimana Indonesia menyiasati supaya mampu bersaing dengan negara-negara lain?

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam pertemuan dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan, di Kementerian Perindustrian,  Senin (13/2/2017), menyampaikan bahwa Amerika merupakan salah satu pasar yang sangat strategis.

    Amerika Serikat adalah mitra dagang utama ketiga Indonesia setelah Tiongkok dan Jepang dengan nilai total perdagangan pada periode Januari-Juli 2016 mencapai USD 13,02 miliar. Dari neraca perdagangan tersebut, Indonesia mengalami surplus sebesar USD 5,23 miliar atau naik 1,75 persen dibanding 2015 yang hanya mencapai USD 5,14 miliar.

    Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga menyampaikan upaya peningkatan kerja sama bilateral antara RI dan AS, yang sangat memungkinkan, karena AS di bawah pemerintahan Donald Trump lebih mengedepankan kerja sama bilateral ketimbang regional.


    Menurut Airlangga, kerja sama kedua negara, khususnya di sektor industri perlu ditingkatkan lagi, karena bersifat saling melengkapi. “Selama ini, investasi Amerika masuk ke Indonesia utamanya di sektor industri padat modal dan teknologi,” ujarnya.

    Sedangkan Indonesia dapat mengisinya melalui industri yang cukup berdaya saing, seperti kelompok sektor tekstil, pengolahan karet, kulit, barang kulit dan alas kaki, serta makanan dan minuman.

    Saat ini, produk tekstil Indonesia kena bea masuk di sana sebesar 12,5 persen. Sedangkan Vietnam sudah nol persen, karena ada perjanjian kedua negara. Jadi perjanjian tersebut juga akan mengdongkrak daya saing produk kita, paparnya.

    Diharapkan, dengan adanya kerja sama bilateral  maka bea masuk bisa ditekan atau bahkan menjadi 0 persen, seperti Vietnam, sehingga kita dapat mendongkrak nilai ekspor dan mampu bersaing dengan negara lain.

    Airlangga juga menargetkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional segera menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus masuk dalam jaringan lima besar negara eksportir TPT dunia.

     

    Kebijakan Proteksionis

    Lalu bagaimana dengan kebijakan Trump yang selama ini selalu menuai kontroversi?

    Secara terpisah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih  Lembong, mengakui kebijakan proteksionis dalam investasi dari Presiden Trump akan berdampak  pada kegiatan penanaman modal di Indonesia. Trump meminta perusahaan AS lebih banyak berinvestasi di dalam negeri.

    Namun, Thomas menyiapkan strategi supaya perusahaan AS yang sudah menanamkan modal di Indonesia tidak “minggat” akibat kebijakan proteksionis tersebut.

    “Jadi, kita tetap perlu kerja keras untuk meyakinkan perusahaan AS supaya tetap berinvestasi walaupun ada tekanan-tekanan dari pemerintahan  Presiden Trump ‎yang meminta perusahaan AS berinvestasi di dalam negerinya. Kita sangat hargai investasi dari AS, karena punya teknologi dan jaringan internasional tak terkalahkan,” katanya. (Berbagai sumber/Fit/E19)