Relawan Robot Jokowi-Ma’ruf

buzzer jokowi maruf
Joko Widodo, Ma'ruf Amin dan Surya Paloh. (Foto: Lampungpro.com)
2 minute read

“Bahaya masa lalu yaitu ketika orang menjadi budak. Bahaya masa depan adalah ketika manusia bisa menjadi robot.” ~Erich Fromm


PinterPolitik.com

Kemajuan teknologi yang terus berkembang saat ini, memunculkan berbagai cara kampanye yang lebih beragam. Nah, salah satu yang digunakan saat ini adalah robot. Tapi bukan robot macam Transformer gitu ya, melainkan robot dalam bentuk akun sosial media.

Soal akun robot, ternyata pakar media sosial dan pengembang aplikasi Drone Emprit, Ismail Fahmi, baru saja melakukan penelitian gaes. Hasilnya mengatakan kubu pasangan calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, yang lebih banyak memanfaatkan akun robot dalam berkampanye ketimbang lawan politiknya.

Hmm, apakah kalian tahu, seberapa hebat kekuatan robot untuk menarik perhatian masyarakat?

Ya, kalau kata Ismail, akun-akun robot bisa membuat suatu isu menjadi topik populer dengan sangat cepat. Robot-robot ini biasanya berkerumun ke banyak kelompok di sosial media, bisa menjadi haters, fans, atau sebagai penyebar informasi saja.

Akun robot menjadi relawan canggih yang menjadi andalan politisi masa kini. Canggih! Click To Tweet

Kamu suka nemuin nggak ada komentar-komentar penuh kebencian atau sebaliknya di sebuah postingan tertentu? Kadang kalau diperhatikan, kok gambarnya bocah SD, terus kerap mengkomentari isu dengan kata-kata yang mirip. Kita biasanya mikir itu hanya akun palsu biasa. Tapi bisa juga itu adalah buzzer kepunyaan peserta pemilu.

Terus bagaimana Ismail bisa mengetahui perbandingan jumlah akun robot yang dimiliki kedua pasang calon?

Dengarkan penjabarannya ya. Jadi gaes, ketika ada campaign, misalnya #HijrahBersamaJokowi, Ismail dan tim akan tangkap tweet-nya untuk dianalisis pas jam pertama, dibuat chart, kalau ternyata rata di sebelah kiri (di waktu-waktu awal sejak tweet diunggah), dan dibuat oleh user dengan follower-nya 0-3, bisa jadi akun tersebut adalah robot.

Selain itu, kata Ismail, indikasinya bisa terlihat dari banyaknya cuitan yang persis namun berasal dari pengguna yang berbeda. Kalian juga bisa lihat dari banyaknya sebuah akun me-retweet di waktu yang sama. Manusia biasa mana mungkin bisa melakukan hal seajaib itu. Itu pasti robot.

Dari pengamatannya, Ismail menilai isu yang dimainkan oleh kubu paslon 01 cenderung lebih cepat mencapai topik populer ketimbang kubu paslon 02. Kalau petahana bisa trending dalam waktu satu jam, kubu oposisi perlu waktu hingga empat jam. Gimana nih menurut kalian? (E36)