PSI, Junior Pemberontak

FPI ‘Digulung’ Anak Baru?
Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). (Foto: Republika)
2 minute read

“Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan.” ~ Pythagoras


PinterPolitik.com

Partai politik peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 sudah diumumkan dan bersiap masuk ke dalam arena pertarungan perebutan kekuasaan.

Wajah-wajah lama yang itu – itu aja tetap menghiasi kepesertaan Pemilu 2019, namun munculnya empat partai politik baru dengan semangat yang menggebu – gebu menambah panasnya konstelasi politik.

Menarik bila lebih menyoroti salah satu partai politik baru yang memiliki segmentasi anak – anak muda, Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Politikus muda yang masih membicarakan tentang nilai – nilai yang ideal, hmmm semoga masih begitu ya.

Nilai kekritisan anak – anak muda pun terkadang hanya menjadi alat ‘serang’ saja, seperti yang dilakukan PSI kepada partai politik lama di KPU.


Ketua Umum PSI, Grace Natalie dengan semangatnya yang menggebu – gebu sangat lantang menyindir dan mengkritisi para senior – seniornya, wedeeew, berani banget dah, weleeeeh weleeeh.

Apakah hanya dengan semangatnya itu akan membuat persoalan menjadi selesai? Hmmm kayanya sih engga deh, makanya PSI coba dulu masuk sistemnya baru nikmati prosesnya, weleeeeh weleeeeh.

Adakah jaminan bila PSI nanti menjadi pelakon yang akan menjalankan nilai – nilai ideal? Belum tentu juga, akhirnya mungkin sama dengan para politikus ‘lama’, mungkin juga melawan arus, weleeeh weleeeh.

Dan mungkinkah dengan semangatnya yang menggebu – gebu seperti itu bisa membuat PSI merebut hati dan perhatian masyarakat? Apa yang akan ditawarkan? Perlawanan kepada senior?  Hadeuuuuh, terkadang menjadi penonton itu lebih mudah dibandingkan menjadi pelakonnya sih.

Narasi yang dibangun PSI kini apakah sudah membicarakan tentang kematangan sebuah konsepsi negeri yang lebih baik? Apakah PSI sudah memiliki kematangan itu? Atau hanya bledug cesssssss alias idealis di awal dan mbalelo di akhir.

Baca juga :
BIGO, Ancaman Pengawasan?

Ujung – ujungnya, tak ada perubahan hanya menyisakan caper, eeetttt cari perhatian aja di awal. Weleeeeh weleeeeh.

Kalau pun memiliki narasi besar tentang perubahan negara ini, mengapa PSI takut dan menolak mengusung Calon Presiden?

Bukankah bila menjadi Presiden, PSI akan lebih mudah memberi kontribusi nyatanya? Kok betah amat PSI malah ‘nempel’ sama Jokowi? Cari aman yah? Ahhh syudahhhlah. (Z19)

Facebook Comments