Prestasi Prabowo Numpang Mertua?

Prestasi Prabowo Numpang Mertua?
Istimewa
3 minute read

“Prabowo adalah orang yang paling berjasa perjuangkan nasib masyarakat adat Papua agar dapat 1% keuntungan Freeport di tengah tugas Operasi Mapenduma 1996.” ~ Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon.


PinterPolitik.com

Di Zaman Now yang serba modern, politisi modal jempol sering kita temui sekarang dimana-mana, ya seperti salah satunya ini, Fadli Zon namanya. Anggota dewan yang terhormat ini memang tampak sering berkicau di akun twitternya. Seperti yang dilakukannya baru-baru ini untuk memuji Prabowo Subianto sebagai orang yang paling berjasa masyarakat adat Papua.

Eits, ini seriusan, gak offside kan ya pernyataannya? Mmm, emang apa yang udah dilakukan sama junjungannya itu, sampai ‘Prabowo Lover’ yang satu ini bilang kayak gitu? Telisik punya telisik nih ya, salah satu cuitannya itu mengklaim bahwa Prabowo lah yang meminta agar pemerintah dan Freeport menyisihkan keuntungan bruto 1 % untuk masyarakat adat Papua.

Fadli sih bilangnya hal itu diutarakan Prabowo, setelah dirinya melihat keadaan masyarakat Papua -usai operasi Mapendum 1996- yang tertinggal secara ekonomi, padahal ada Freeport, pertambangan terbesar di Papua. Oalah, jadi semacam rasa empati gitu ya sama rakyat Papua yang miskin terlantar di tengah kekayaan Freeport. Mmm. Ya boleh juga sih niatan baiknya. So what gitu lho.


Terus kenapa coba dengan prestasi itu? Mau bandingin sama Pakde Jokowi? Sebagai Presiden, Jokowi udah delapan kali loh bolak-balik Papua untuk memantau perkembangan pembangunan di sana. Inget loh ya, bukan pelesiran ala-ala anggota dewan yang unfaedah itu. Dalam kunjungan kerjanya di Papua, ada aspek pengawasan. Jadi diharapkan gak ada penyelewengan oleh oknum.

Mertua Pak Prabowo itu memang sih gak kalah prestasinya di banding Pakde Jokowi. Udah lima kali loh Presiden ke-2 RI ini berkunjung ke Papua. Dan bisa dikatakan semua kunjungannya itu berfaedah. Ya lumayan lah ya. Kalau gitu sih, Pak Harto yang lebih berjasa ketimbang Prabowo itu sendiri. Dompleng prestasi orang apa gimana ini sih sebenernya?

Padahal nih ya, di Zaman Old di Orde Baru, banyak kejadian yang gak banget deh. Sebut aja peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974, Normalisasi Kehidupan Kampus 1978, Petrus (Penembakan Misterius) 1983, Kasus Priok 1984, Trisaksi & Semanggi 1998. Ngeri-ngeri sedap tuh sejarah kelam masa lalu Pemerintahan kita sebelumnya. Banyak lah ya preseden buruk di zaman itu.

Baca juga :
Prabowo ‘Pemodal’ Pemindahan Ibukota

Sepertinya Pak Harto ini mengadaptasi kata-kata filsuf Voltaire (1694-1778) yang menulis, ‘The best government is a benevolent tyranny tempered by an occasional assassination’. Kurang lebih artinya, pemerintahan itu di satu sisi dikatakan baik apabila bersifat tirani, namun dibungkus dengan kebajikan dan dibubuhi dengan upaya pembunuhan sesekali. Waduh, kok ngeri ya dengernya. (K16)

Facebook Comments