Premium Tak Naik, Oposisi Gagal Nyinyir

Premium Tak Naik, Oposisi Gagal Nyinyir
Foto : Istimewa
2 minute read

“Kesiapan seperti apa yang dimaksud presiden? Bagi saya tidak ada alasan itu.” ~ Ferdinand Hutahaean


PinterPolitik.com

Sangat disayangkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium tidak jadi naik. Bila saja premium jadi dinaikkan pasti hari ini, sudah banyak konsolidasi aksi dari oposisi sampai mahasiswa yang bertekad membanjiri jalan demi jatuhkan rezim Jokowi.

Setidaknya bila Jokowi tidak jatuh dari singgasananya, maka elektabilitasnyalah yang akan ambruk. Selain elektabilitas yang jatuh, mungkin kasus Amien Rais dan Ratna Sarumpaet pun ikut jatuh karena kalah mewah dibanding isu kenaikan bahan bakar jenis premium ini.

Hal ini terbukti saat kita membaca tanggapan dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka mengaku pembatalan kenaikan harga BBM jenis premium sangat politis. Anggota Direktorat Hukum BPN Ferdinand Hutahaean mengatakan pembatalan kenaikan premium adalah upaya pemerintah untuk menghadirkan sosok pahlawan, yaitu Presiden Jokowi.

Hmm, giliran harga premium naik dibilang Jokowi manusia kamvret, tapi di saat Jokowi bertekad jaga harga minyak bersubsidi, banyak yang bilang Jokowi sok pahlawan sok dermawan. Jadi maunya apa sih kalian? Click To Tweet

Kalau menurut kalian gengs, tanggapan apa nih yang cocok untuk isu ini? Kita bilang Jokowi sok dermawan atau kita bilang Jokowi telat balas pesan dari Menteri Ignasius Jonan? Atau kita bilang oposisi cuman cari makanan demi kemapanan suara Pilpres 2019? Weleh-weleh.

Nah, kalau menurut Ferdinand, tidak mungkin seorang menteri mengumumkan kenaikan harga BBM tanpa berkonsultasi dengan presiden. Adanya arahan presiden untuk menunda kenaikan, kata dia, hanya merupakan sandiwara.

Terus kalau ini sandiwara, bukannya kita harus memberi apresiasi kepada Jokowi dan menterinya? Sebab Jokowi dan menterinya berhasil membuat sandiwara yang gemulai tanpa harus menyakiti hati para umat manusia? Wkwkwk.

Masih bagus sandiwara yang diciptakan Jokowi dan menterinya tidak seperti sandiwara yang diciptakan Prabowo dan jubirnya. Wkwkwk, kalau benar Jokowi dan menterinya sandiwara, hitung aja lah ya, jadi impas satu satu buat membalas kasusnya Prabowo dan Ratna Sarumpaet.

Menurut kalian gimana gengs, apakah kasus plin-plan Jokowi bisa ditolerir? Atau kasus ini masih belum bisa diterima sebab kalian masih anggap Jokowi curang menggunakan lembaga negara untuk merebut suara?

Hmm, kalau menurut eyke sih namanya juga presiden, ya mau gimana juga doi kan yang berkuasa. Nanti kalau sudah tidak berkuasa juga sama saja nasibnya, kayak yang sekarang kebelet cari kekuasaan. Belum tentu juga yang nantinya akan berkuasa bisa bijak menggunakan jabatannya. (G35)