Prabowo ‘Sembunyi’, Sandi Unjuk Gigi

electoral liability
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. (Foto: Jakarta Post)
6 minute read

Sandiaga Uno tampak lebih banyak berkampanye dibandingkan Prabowo.


Pinterpolitik.com

Hari pencoblosan Pilpres 2019 sudah tinggal hitungan bulan. Jumlah sisa waktu kampanye bagi para kandidat yang berlaga terus-menerus berkurang setiap harinya. Meski waktu yang tersisa semakin berkurang, kandidat presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto masih terbilang minim aksi.

Ya, mantan Danjen Kopassus ini memang banyak dibicarakan karen tergolong jarang muncul dalam pemberitaan terkait dengan Pilpres 2019. Kalaupun namanya hadir, sosoknya dibicarakan dengan nada yang cenderung kontroversial. Pernyataan seperti mengutuk media atau Indonesia punah kerap menjadi warna pemberitaan utama Prabowo ketika ia turun gelanggang.

Saat Prabowo lebih sedikit disorot, pasangannya, Sandiaga Uno justru terus-menerus menjadi bahan pemberitaan. Ada saja yang dilakukan oleh mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu untuk mengarahkan sorotan lampu padanya. Jika diperhatikan, Sandiaga memang tergolong rajin berpindah dari satu titik ke titik lain untuk mengenalkan diri sekaligus juga menyampaikan niatnya bersama Prabowo untuk memimpin negeri ini.

Sepintas, Prabowo seperti ogah kampanye dan membiarkan semua beban berada di pundak Sandiaga. Meski demikian, perlu dilihat lebih jauh maksud dari langkah seperti ini, apakah tim pemenangan Prabowo-Sandiaga sengaja menyimpan Prabowo, sehingga bisa menyorot lebih Sandiaga?

Minim Kampanye

Elektabilitas pasangan Prabowo-Sandiaga memang tak pernah beranjak kemana-mana. Pasangan nomor urut 02 ini tidak pernah mengalami kenaikan maupun penurunan secara drastis di tangga survei, padahal waktu kampanye terus bergulir.

Di tengah elektabilitas yang stagnan itu, Prabowo sebagai kandidat presiden justru seperti ‘bersembunyi’. Mantan Pangkostrad itu tak banyak terlihat bergerilya dari satu titik ke titik yang lain untuk mempromosikan dirinya agar bisa melenggang ke Istana Negara.

Memang, kamp pemenangannya membantah bahwa Prabowo tidak berkampanye. Sandiaga dan partai-partai pendukungnya menyebut bahwa Prabowo bergerak di ratusan titik meski tidak banyak terekspos. Terlepas dari pernyataan tersebut, tetap saja kehadiran Prabowo di Pilpres 2019 terasa lebih minimalis.

Beragam rumor kemudian menyeruak di balik minimnya gerakan dari Prabowo pada gelaran Pilpres kali ini. Salah satu yang kencang berhembus adalah soal pendanaan yang dikabarkan tidak lagi sekencang pada Pilpres lima tahun lalu.

Selain itu, jika diperhatikan, saat kampanye mencoba merebut panggung publik, hasilnya tampak seperti tidak sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan banyak orang. Alih-alih menuai simpati, putra dari Sumitro Djojohadikusumo ini lebih banyak menuai kontroversi saat berkampanye.

Baca juga :
Sri Terdiam Ditantang Rizal Ramli?

Salah satu momen yang paling kontroversial dari sang jenderal adalah ketika ia seperti mengutarakan perang terhadap media. Kala itu, ia sangat geram karena para pewarta tanah air seperti enggan menyebut bahwa Reuni 212 yang ia hadiri diikuti oleh 11 juta orang massa.

Sontak, pernyataan itu menimbulkan polemik dalam ruang-ruang pembicaraan masyarakat. Banyak orang yang terheran dengan sikap Prabowo yang seperti memilih untuk menabuh genderang perang dengan media. Banyak pihak menanggap bahwa sang jenderal telah melakukan blunder melalui pernyataannya tersebut.

Tak hanya soal itu, kritik Prabowo terhadap pemerintah juga kerap kali menggunakan hiperbola yang bagi sebagian orang sulit diukur dan dibuktikan indikatornya. Yang teranyar adalah bagaimana ia menyebutkan bahwa Indonesia akan punah jika ia dan Sandiaga gagal merengkuh kursi kekuasaan di Pilpres 2019 nanti.

Pernyataan tersebut seperti melengkapi berbagai hiperbola lain yang pernah diucapkan oleh sang jenderal. Ungkapan seperti Indonesia bubar 2030 atau Indonesia miskin selamanya sudah terlebih dahulu keluar dari mulutnya.

Ungkapan-ungkapan tersebut memang telah berhasil mengarahkan pandangan kepadanya. Akan tetapi, tidak dalam kondisi ideal. Sorotan tajam lebih banyak hadir ketika Prabowo muncul dengan pernyataan-pernyataan kontroversial tersebut.

Hambatan Elektoral

Merujuk pada kondisi tersebut, tampak bahwa Prabowo seolah menjadi semacam liability atau beban bagi tim pemenangan Prabowo-Sandi. Padahal, sebagai capres dan ketua umum Partai Gerindra, idealnya ia menjadi pemain dan magnet utama dalam pesta demokrasi 2019.

Kondisi tersebut terkadang disebut sebagai electoral liability. Istilah ini digunakan misalnya oleh Roger Southall saat menggambarkan kepemimpinan Jacob Zuma di partai ANC di Afrika Selatan. Ia menyebutkan bahwa kepemimpinan Zuma menjadi liability karena menjadi penyebab penurunan suara dari ANC.

Baca juga :
Koalisi Jokowi Maruk dan Merajuk?

Southall menyoroti terpilih kembalinya Zuma sebagai pemimpin di ANC. Menurutnya, dukungan terhadap Southall telah mengalami penurunan. Selain itu, Zuma juga dianggap tidak berhasil melepaskan diri dari skandal korupsi yang tengah menggerogoti negaranya. Hal ini membuat Zuma dianggap sebagai liability atau beban bagi partainya.

Terlihat bahwa dari pandangan Southall tersebut, seorang pemimpin dianggap menjadi electoral liability karena beberapa hal. Perkara popularitas sang pemimpin menjadi salah satu hal yang utama. Hal lainnya adalah kondisi-kondisi lain yang diasosiasikan pada sang pemimpin yang pada konteks Zuma adalah skandal korupsi.

Istilah tersebut pernah dialamatkan kepada beberapa politisi terkemuka di dunia. Di Inggris misalnya, beberapa pemimpin Partai Buruh dianggap sebagai liability bagi partai yang mereka pimpin. Sosok seperti Tony Blair misalnya pernah dianggap sebagai hambatan bagi partai mereka sendiri, sehingga menyoroti mantan perdana menteri Inggris dianggap sebagai sesuatu yang kurang bijak bagi Partai Buruh.

Tidak hanya itu, beberapa media di AS juga menyebut bahwa mantan kandidat presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton dianggap sebagai liability bagi mereka. Oleh karena itu, Partai Demokrat tidak mencari endorsement atau dukungan dari mantan menteri luar negeri AS ini jelang pemilu jangka menengah di negara tersebut.

Dalam konteks Hillary, terlihat bahwa ada upaya untuk menyembunyikan Hillary yang terlanjur dianggap sebagai liability. Partai Demokrat tampak ingin melepaskan diri dari sosok yang dianggap hanya akan membebani ikhtiar mereka jelang pemilu.

Sandi Unjuk Gigi

Berdasarkan kondisi tersebut, bisa saja minimnya kampanye Prabowo karena sang jenderal dianggap sebagai electoral liability. Dalam kadar tertentu, hambatan seperti ini sering kali disimpan dan disembunyikan secara sengaja untuk menghindarkan diri dari petaka.

Prabowo memang lebih banyak menyulut kontroversi ketimbang menggenjot popularitas pasangan Prabowo-Sandiaga. Oleh karena itu, disengaja atau tidak, meminimalisasi kampanye Prabowo bisa saja menguntungkan pasangan tersebut dalam kadar tertentu.

Prabowo seperti menjadi liability bagi dirinya sendiri. Click To Tweet

Merujuk pada Southall, jika popularitas yang menjadi acuannya, popularitas sang jenderal memang tergolong sudah di titik yang tinggi dan sulit untuk meroket. Merujuk pada survei yang dirilis oleh Populi Center, popularitas Prabowo di bulan Agustus sudah mencapai 95,3 persen dan hanya naik sedikit di bulan Oktober dengan 95,6 persen.

Baca juga :
22 Mei, Mega vs Titiek?

Jika digabung dengan faktor kontroversi yang kerap ia lakukan, maka sulit untuk dapat dikatakan bahwa akan ada lonjakan suara luar biasa dari Prabowo. Oleh karena itu, jika Southall yang menjadi rujukannya, Prabowo bisaa saja hanya akan menjadi electoral liability.

Pada titik ini, menyerahkan urusan kampanye kepada Sandiaga bukanlah sesuatu yang benar-benar merugikan. Apalagi, ada beberapa hal yang membuat kampanye Sandiaga lebih penting ketimbang Prabowo. Pengenalan masyarakat terhadap mantan ketua umum HIPMI ini misalnya masih tergolong rendah. Selain itu, Sandiaga juga memiliki efek elektoral yang cukup baik terutama jika dibandingkan dengan cawapres lawannnya yakni Ma’ruf Amin.

Popularitas Sandiaga misalnya, merujuk pada survei yang dibuat oleh Populi Center mengalami kenaikan cukup signifikan. Di bulan Agustus, popularitasnya hanya 77,3 persen. Angka ini mengalami kenaikan di bulan Oktober hingga 84,2 persen.

Oleh karena itu, Sandiaga memilki potensi lebih besar untuk terus digali dan bisa saja menjadi kuda hitam di Pilpres 2019 nanti. Hal ini terutama jika sosoknya dibandingkan dengan Prabowo yang popularitasnya nyaris tidak mungkin untuk dikatrol lebih tinggi.

Terlepas dari sengaja atau tidak, menyimpan Prabowo dan menggerakkan Sandiaga bisa saja menjadi strategi unik bagi pasangan Prabowo-Sandiaga. Apakah strategi ini akan bekerja dengan baik, semuanya masih harus ditunggu untuk terungkap. (H33)

Facebook Comments