Prabowo: Presiden Kok Etok-etok!

Prabowo: Presiden Kok Etok-etok!
Esemka, mobil nasional yang etok-etok (Foto: istimewa)
3 minute read

“Jangan pura-pura engkau menangis, jangan pura-pura engkau bersedih. Kebencianku tak dapat kau tukar dengan air mata”. – Mansyur S., Jangan Pura-Pura


PinterPolitik.com

Pura-pura, dalam bahasa Jawa “etok-etok”, adalah kondisi ketika apa yang dilakukan bukanlah hal yang sesungguhnya.

Pura-pura buta artinya bisa melihat. Pura-pura sakit artinya sehat. Pura-pura lupa artinya masih ingat. Kalau pura-pura cinta? Bikin sakit hati cuy. Hehe.

Buat yang sering ngalamin alias di-PHP-in orang, yang sabar ya. Kasus ini umum terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di negara +62 alias Indonesia saja.

Lalu bagaimana kalau pura-pura itu ada dalam dunia politik?

Lha politik bukannya emang dunia kepura-puraan? Koran The New York Times edisi 28 Desember tahun 1879 bahkan sudah menyebutkan hal tersebut.

Yang paling parah, ada yang etok-etok jadi presiden. Bilangnya independen, eh nggak tahunya petugas partai. Upppss. Itu kata kubunya Prabowo loh ya. Click To Tweet

Sementara Bob Marley dalam lagunya yang berjudul “No Woman No Cry” menyinggung hal ini ketika ia menceritakan kenangan duduk di sebuah taman pemerintah dan menyaksikan para hipokrit alias orang-orang yang berpura-pura baik. Bahasa kerennya “munafikers”.

Kolumnis The Washington Post, Michael Gerson bahkan langsung mengidentikkan hipokrisi atau kepura-puraan sebagai hal yang berkaitan langsung dengan politik.

Ibaratnya, politik tanpa hipokrisi itu kayak Avengers tanpa Iron Man. Tetap keren sih, tapi nggak dapat geregetnya.

Nah, hal itulah yang sekarang dikritik oleh Prabowo Subianto. Kandidat nomor urut 02 pada Pilpres 2019 ini menyindir program mobil nasional “siluman” bernama Esemka yang hingga kini nggak jelas batang bumpernya – hidungnya mobil cuy. Program mobil itu adalah salah satu yang menjadi daya tarik publik untuk memilih Jokowi di Pilpres 2014 lalu.

“Kita ingin punya mobil buatan Indonesia yang benar-benar buatan Indonesia, bukan mobil etok-etok”, begitu kata Prabowo.

Hmm, apa ini nggak lagi ngritik kubu sendiri ya? Soalnya dulu pernah ada tuh mobil nasional etok-etok di zaman Soeharto.

Itu loh yang dikerjakan sama Tommy Soeharto, yang namanya Timor biar terkesan kearifan lokal. Eh nggak taunya itu hasil produksi perusahaan dari negara di Asia Timur, Korea Selatan.

Tapi, nggak mungkin sih Prabowo nyindir Tommy. Mantan ipar soalnya cuy. Paling mungkin sih emang ngritik Jokowi, tapi bukan soal mobil Esemka doang.

Sepertinya sih Prabowo benar-benar menunjukkan bahwa saat ini yang etok-etok itu banyak di Indonesia. Ada yang etok-etok ketabrak mobil sampai bengkak segede bakpao, terus ditahan di penjara yang etok-etok pula.

Ada yang etok-etok bilang ekonomi bagus, eh nggak taunya sekarang pusat-pusat perbelanjaan lagi sepi. Ada yang etok-etok cewek, nggak taunya cowok. Uppps, ampun Lucinta.

Yang paling parah, ada yang etok-etok jadi presiden. Bilangnya independen, eh nggak tahunya petugas partai. Upppss. Itu kata kubunya Prabowo loh ya. Hehehe.

Emang bahaya sih kalau ke-etok-etokan alias hipokrisi tumbuh subur di Indonesia. Soalnya masyarakat jadi nggak bisa menilai pemimpin mana yang benar-benar jujur.

Tapi, kalau bicara politik sebagai cara untuk meraih kekuasaan, hipokrisi mah biasa aja dan sering digunakan kok. Apalagi kalau politisinya itu Machiavellian, beh udah pasti bakal banyak cara-cara yang etok-etok.

Buat masyarakat sih yang penting nggak pura-pura cinta aja. Soalnya, sakit, Lucinta. Hehe. (S13)