Prabowo Jaga Jarak dengan FPI

Foto: Istimewa
7 minute read

Sandiaga Uno dilarang oleh Prabowo untuk menghadiri Reuni 212, beberapa hari lalu. Apakah pertanda Gerindra ingin memberi jarak dengan massa Islam?


“Tahu bedanya? Enggak terlalu banyak. PKS partai religius yang nasionalis. Gerindra partai nasionalis yang religius. Sohibul pakai kopiah, saya juga,”

-Prabowo Subianto-

 

PinterPolitik.com

Partai Gerindra sedang berada di atas angin dalam konstelasi politik di Jakarta. Tapi, mereka belum dapat menari di sana, paling tidak untuk saat ini.

Ada tekanan dan dorongan politik dari massa – yang memenangkan mereka melalui demonstrasi –  agar kepentingan mereka dapat diadopsi oleh Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno. Pasangan baru dukungan mereka ini sampai-sampai berupaya cukup keras menutup Hotel Alexis dan memprioritaskan dana hibah untuk ormas Islam.

Dorongan terakhir adalah agar pasangan Anies-Sandi turut menghadiri Reuni 212—peringatan Aksi Bela Islam dengan jumlah massa terbanyak tahun lalu. Anies pun memberikan izin pengadaan acara di Monumen Nasional, dan menggenapi janjinya untuk datang pada reuni tersebut. Anies berpidato sekitar 20 menit kemarin.

Namun, Sandi sejak awal terlihat awas dengan rencana acara ini. Sandi melemparkan persoalan izin Monas kepada Anies, mengatakan bahwa acara ini bisa saja bermuatan politik, dan pada hari pelaksanaan, akhirnya Sandi tidak hadir. Ia mengaku bahwa partainya, Gerindra, tidak memberi izin kepadanya untuk hadir di sana.

Mengapa Gerindra justru melarang salah satu kader terbaiknya untuk datang pada acara Reuni 212 kemarin? Padahal, jasa massa tersebut kepada Anies-Sandi dan Gerindra – juga sempat terlihat dari kedekatan Prabowo Subianto dengan Rizieq Shihab – menandakan seharusnya ada relasi yang baik di sana. (Baca juga: Prabowo: Terima kasih FPI!)

Apakah Gerindra merasa harus sedikit melonggarkan rantai pengikat dengan kelompok Islam yang tengah mendapatkan momentum itu? Apakah ini artinya Gerindra akan berhenti menggunakan ‘jasa’ kelompok massa ini ke depannya?

Ya, mungkin ini belum momentumnya Gerindra.

Hashim yang Berbisik di Belakang

Untuk melacak motif kehati-hatian Gerindra atas kelompok Islam ini, salah satu tokoh yang perlu diperhatikan adalah Hashim Djojohadikusumo, sosok yang mengatur di belakangnya. Secara formal-struktural, Hashim yang adalah adik Prabowo, menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Gerindra. Secara informal, tentu kita tahu, bahwa Hashim adalah penyokong utama dana kampanye dan operasional Gerindra sejak 2009.

Baca juga :
Mega Target Sengatan Cak Imin?

Hashim juga berperan penting dalam diplomasi dengan kelompok Kristen, melalui organisasi sayap Gerindra, Kristen Indonesia Raya (KIRA). Pada tahun 2014, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) sempat memrotes Gerindra melalui jalur komunikasi Hashim dan KIRA, bahwa Manifesto Gerindra terkait ‘pemurnian agama’ mengganggu mereka. Kritik tersebut ditanggapi baik dan cepat oleh Hashim, yang kemudian mencabutnya dari Manifesto Gerindra.

Pada kesempatan lain, masih seputar Pemilu 2014, PGI cukup vokal mengritik Gerindra yang banyak berkoalisi erat dengan partai Islam, misalnya dengan PKS dan PBB. Kecemasan mereka bahwa partai Islam tersebut akan mendominasi, kemudian ditenangkan oleh Hashim. Hashim yakin bahwa Gerindra akan memimpin koalisi, terutama karena sokongan dana darinya dan sosok kuat Prabowo sebagai militer.

Tak hanya kepada kelompok Kristen, Hashim juga sempat menglarifikasi tudingan kedekatan Gerindra dan FPI sebagai oposisi Ahok di Jakarta kepada Jakarta Foreign Correspondent Club (JFCC), juga pada tahun 2014. Hashim amat yakin, ormas seperti FPI bukan dan tidak akan pernah menjadi koalisi Gerindra, sekalipun beririsan kepentingan.

Motif Hashim bertindak menengahi isu kedekatan dengan kelompok Islam, tentu tak jauh dari identitasnya sebagai pemeluk agama Kristen, juga karena kedekatannya dengan PGI. Sekalipun mungkin, kakaknya menikmati dukungan dari kelompok tersebut, Hashim telah cukup menyanderanya dengan ancaman akan keluar dari Gerindra.

Dengan sejarah kolot-kolotan politik agama kakak beradik seperti itu, Prabowo tentu harus berhati-hati. Ia tentu tak ingin adiknya sendiri meninggalkan partai besutannya dan membuatnya pincang tanpa sokongan dana yang kuat.

Kemenangan Prabowo atas Massa Islam

Prabowo pun tak bisa dibilang cukup ‘merah putih’, karena dia cenderung ‘hijau’. Dahulu, Prabowo sempat tergabung dalam faksi ‘tentara hijau’ di ABRI, hal yang membuatnya bentrok dengan atasannya di Kopassus, Benny Moerdani.

Dengan latar belakang ini, tak aneh bila Prabowo mampu dekat dengan kelompok Islam. Hal ini berbeda dengan purnawirawan Jenderal TNI lainnya, seperti SBY atau Luhut misalnya. Kedekatan kultur dan keyakinan seperti ini, dituangkan oleh Prabowo dengan sikap partainya yang merangkul partai Islam seperti PKS, PAN, dan PBB sebelum Pilpres 2014.

Baca juga :
Jokowi Merapat ke Trump?

Momentum pasca-Pemilu 2014 kemudian me’radikal’-kan Gerindra yang tadinya malu-malu. Gerindra secara terang-terangan semakin mesra dan merapat dengan kelompok Islam. Dengan PKS, Gerindra terlihat juga semakin mesra. Ketua Dewan Syariah Wilayah PKS DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi mengakui, perbincangan koalisi Gerindra-PKS di Jakarta berjalan mudah karena kedekatan keduanya sejak 2014.

Politisi Gerindra Fajar Sidik bahkan sempat berucap, FPI—sebagai ormas yang paling mempercayai PKS—selalu berkoordinasi dengan Gerindra bila ingin melancarkan aksi. Pembelaan-pembelaan lainnya dari Gerindra pun muncul berkala, seperti ketika FPI tak diundang menyambut Raja Salman, atau saat ormas-ormas Islam menolak Perppu Ormas.

Menjelang Pilkada DKI, kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok lantas tak dilewatkan oleh Gerindra dan koalisi Islamnya. Gerindra bahkan mengabaikan manifestonya sendiri, yang pada 2014 lalu telah mencoret konten ‘pemurnian agama’ beserta ‘penistaan agama’ di dalamnya. Bersama koalisi Islamnya, Gerindra kemudian habis-habisan mengriminalisasi Ahok demi kepentingan pragmatis semata.

Tentu, Gerindra tidak memainkan peran secara gamblang di muka publik, berbeda dengan Ketum PKS Sohibul Iman misalnya, yang sempat menghadiri salah satu aksi demonstrasi. Prabowo tetap tenang di belakang layar dan membiarkan kader-kadernya seperti Fadli Zon dan Habiburokhman yang hadir pada aksi massa tersebut.

Penyebabnya, kurang lebih adalah karena PGI beserta Hashim diam-diam mengamati dari punggung Prabowo. Secara prinsip, tentu pihak Hashim tidak menyukai adanya aksi massa dengan balutan Islam yang kuat, yang secara luas dikonotasikan dengan koalisi Gerindra. Bayangkan, sempat dikritik karena koalisi dengan PKS secara struktur, Gerindra malah harus berjibaku secara merakyat dengan aksi massa Islam di jalanan.

Hashim tentu terus mengamati keadaan. Dia bahkan sempat mengritik Ahok dengan menyebut Ahok karakter ‘Kristen yang tak santun’, namun kemudian dibalas kritik oleh PGI, agar Hashim menjaga kampanye tak menyerang personal Ahok. Ini membuktikan, sempat ada hubungan tak baik antara PGI dengan Hashim yang merupakan salah satu anggotanya di Gerindra.

Sampai akhirnya, terbukti politik identitas dengan menggunakan kekuatan massa mayoritas Islam adalah yang sukses memenangkan Gerindra di Jakarta. Tanpa politik identitas itu, kucuran dana Hashim yang disinyalir mulai tersendat, bisa menjadi sia-sia.

Baca juga :
Menguak Jokowi Dorong Tanggul Laut

Karena efektivitas politik identitas tersebut, bahkan Ketua PGI Pendeta S. Supit sempat menghadiri acara milad FPI selepas kemenangan Gerindra. Pdt Supit bahkan mengaku, ia mengenal baik dan kerap berbincang hangat dengan Habib Rizieq.

Walaupun demikian, kelelahan hati faksi Kristen dan minoritas lainnya di dalam Gerindra, telah menjadi kompensasi atas kemenangan Gerindra di Jakarta.

Gerindra, Anies, dan Elegi Politik Islam

Sebenarnya, banyak pengamat melihat bahwa ada dua entitas terpisah yang memenangkan DKI Jakarta: Gerindra dan massa Islam. Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Sarwi Chaniago bahkan menyebut, kedekatan Gerindra dengan umat Islam yang terlihat sepanjang Pilkada DKI, tak otomatis memenangkan Prabowo di mata mereka. Harus ada usaha ekstra yang dilakukan oleh Prabowo.

Namun, Hashim menjadi garis merah yang tak bisa dilangkahi Prabowo. Prabowo dan Gerindra tetap harus menjaga jarak dengan kelompok Islam, karena Hashim sempat mengancam akan keluar bila Gerindra terlalu dekat (utamanya) dengan FPI. Gerindra harus menjaga keseimbangan, antara sumber kekuatan politik dan kekuatan ekonominya, yang agak berbenturan secara prinsip.

Lantas, membiarkan Anies datang ke Reuni 212 dan berpidato selama 20 menit bisa jadi adalah strategi Gerindra. Karena Anies bukan kader Gerindra, mereka tak punya beban politik apapun. Dan lagi, kita tak pernah tahu sedekat apa Anies dan Prabowo – mengingat Anies disebut-sebut sebagai calon yang diusulkan oleh Jusuf Kalla (JK).

Dengan isu yang berhembus bahwa Prabowo-Anies akan menyatu di 2019, dan kepercayaan yang tinggi massa Islam atas Anies, Gerindra tetap bisa mengambil keuntungan. Kuncinya adalah mendekat namun tetap menjaga jarak dengan Imam Besar Habib Rizieq, karena menyenangkan beliau adalah menyenangkan para pendukungnya.

Dengan begitu, ‘jaga jarak’ dengan FPI yang diminta oleh Prabowo tentu tak berarti ‘berhati-hati’ dengan FPI. Tapi lebih kepada ‘berhati-hati agar tak terlihat terlalu mesra’ dengan FPI. (R17)

Facebook Comments