Prabowo di Sarang Taipan

Prabowo Subianto bertemu elite-elite oposisi di kediaman pengusaha Maher Algadri. (Foto: Detik)
6 minute read

“Undangan makan sate,” Prabowo Subianto soal pertemuan di rumah Maher Algadri.


PinterPolitik.com

Jelang pendaftaran capres dan cawapres, tampaknya pemberitaan hampir selalu dihiasi oleh pertemuan antar tokoh-tokoh parpol. Baik kubu petahana maupun oposisi mulai kejar setoran mencari kesepakatan demi kesuksesan masing-masing di Pilpres 2019.

Teranyar, kubu oposisi yang digawangi oleh Gerindra, PAN, dan PKS menggelar sebuah pertemuan tertutup. Elite-elite politik mulai dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri, hingga Ketua Persaudaraaan Alumni 212 Slamet Maarif hadir dalam pertemuan tersebut.

Pertemuan akbar pemimpin-pemimpin oposisi ini digelar di sebuah tempat yang tidak lazim. Kediaman pengusaha Maher Algadri menjadi tuan rumah dari tatap muka elite-elite terkemuka tersebut. Disebutkan bahwa mereka sengaja memilih tempat tersebut agar terhindar dari sorotan publik.

Pilihan tempat para elite oposisi ini tergolong sangat menarik. Siapa Maher Algadri sampai ia bisa menjadi tuan rumah dari pertemuan elite-elite tersebut? Apakah sang konglomerat hanya berperan memberi tempat saja atau ada kontribusi dalam bentuk lain dari pengusaha tersebut?

Taipan Orde Baru

Jika ditelusuri, Maher Algadri bukanlah sosok yang sembarangan. Sang taipan diketahui adalah salah satu konglomerat yang cukup besar di era Orde Baru. Ia disebut-sebut sebagai salah satu pengusaha yang cukup sukses di masa pemerintahan Presiden Soeharto tersebut.

Maher tercatat sebagai salah satu pengusaha yang tergabung di dalam Kongsi Delapan (Kodel) Group. Di dalam kelompok tersebut, tercatat pula nama-nama pengusaha lain yaitu Fahmi Idris, Soegeng Sarjadi, Aburizal Bakrie, Pontjo Sutowo, Said Umar Husin, Jan Darmadi, dan Said. Sebagian dari pengusaha-pengusaha ini adalah bekas aktivis 1966, termasuk Maher Sendiri. Di grup tersebut, nama Maher Algadri tercatat pernah menjadi salah satu direktur.

Maher Algadri

Disebutkan bahwa Maher dan Kongsi Delapan itu menjadi salah satu pengusaha muda yang tergolong kapitalis baru di era tersebut. Saat itu, memang ada usaha untuk memberikan kesempatan lebih kepada pengusaha-pengusaha non-Tionghoa sehingga kelompok Maher didorong agar naik ke permukaan. Maher dan rekan-rekannya kemudian menjadi satu dari 200 konglomerat yang ada di negeri ini.

Baca juga :
Dilema Tahanan Hantui Jokowi-Prabowo?

Kelompok Kodel memang sempat mengalami kejayaan di era Orde Baru. Kelompok ini aktif dalam bidang agribisnis, kimia, perhotelan, perbankan, dan juga investasi.

Maher beserta beberapa rekannya di Kongsi Delapan kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Golkar di 1984. Maher bersama Soegeng Sarjadi, Fahmi Idris, dan belasan pengusaha lain berada di bawah asuhan Ketua Umum Golkar Sudharmono.

Aktivitas bisnis Maher sepertinya tidak hanya terbatas pada kelompok Kodel saja. Beberapa waktu lalu, nama Maher menjadi satu dari beberapa nama orang Indonesia yang tercatat di dalam Paradise Papers, dokumen yang mengungkap investasi orang kaya di negara surga pajak.

Dalam dokumen tersebut, diungkapkan bahwa Maher menjadi pengelola bagi perusahaan milik Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto. Maher dicatat dalam dua perusahaan milik putri Soeharto tersebut yaitu Golden Spike Pasiriaman Ltd. dan Golden Spike South Sumatra Ltd.

Garis keturunan Maher sendiri bukanlah berasal dari orang sembarangan. Konglomerat ini adalah putra dari salah satu aktivis di era pejuangan kemerdekaan Indonesia, Hamid Algadri. Hamid juga dikenal sebagai salah satu figur yang membidani kelahiran Partai Arab Indonesia. Hamid kemudian menjadi salah satu anggota parlemen di masa awal kemerdekaan negeri ini.

Maher dan Prabowo

Pihak-pihak yang terlibat di pertemuan ini memang tidak merinci mengapa kediaman Maher yang menjadi tuan rumah pertemuan itu. Kebanyakan dari mereka menyebut bahwa pilihan itu diambil karena ingin menghindari publikasi yang berlebihan.

Meski begitu, pemilihan tempat tersebut tentu tidak sembarangan. Salah satu sosok yang hadir di sana, Slamet Maarif, mengungkap bahwa sosok Maher memang cukup dekat dengan tamu di pertemuan tersebut yaitu Amien Rais dan Prabowo Subianto.

Maher Algadri
Prabowo dan Maher Algadri. (Foto: Tempo)

Prabowo dan Maher diketahui memang memiliki kedekatan khusus. Keluarga Algadri dan keluarga Djojohadikusumo disebut-sebut memang memiliki hubungan yang cukup akrab. Hamid Algadri memiliki kedekatan dengan ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo dan kakeknya Margono Djojohadikusumo.

Prabowo dan Maher Algadri memang terpaut jarak usia lima tahun. Akan tetapi, pergaulan antara kedua keluarga membuat hubungan antara kedua tokoh ini menjadi cukup dekat. Prabowo dan Maher semasa kecil disebutkan sering menghabiskan akhir pekan bersama di kawasan Sirnagalih, Puncak, Bogor.

Baca juga :
Gaduh Medsos dan Perlunya Literasi Media

Persahabatan keduanya sempat terpisah jarak manakala keluarga Prabowo memilih pergi ke luar negeri pasca peristiwa PRRI/Permesta. Karier berlainan pun ditempuh oleh Prabowo yang lari ke militer, sementara Maher jadi pebisnis. Akan tetapi, bukan berarti tali persahabatan antara keduanya benar-benar putus.

Maher diceritakan turut hadir dalam salah satu pertemuan yang cukup krusial di akhir masa pemerintahan Soeharto. Di Markas Kostrad saat itu, Maher menjadi salah satu saksi di mana Prabowo diminta untuk mengambil alih kekuasaan di tengah kegentingan rezim Orde Baru.

Terlihat bahwa Maher bukan sosok biasa dalam kehidupan Prabowo. Baik masa kecil atau masa krusial di penghujung 1998, Maher selalu hadir di dekat Prabowo. Oleh karena itu, sang taipan bisa saja memiliki peran khusus bagi Prabowo dan kiprah politiknya.

Mencari Pendanaan?

Elite-elite yang hadir di pertemuan itu memang tidak ada yang memberikan penjelasan mengapa rumah Maher Algadri yang mendapat kehormatan pertemuan tokoh-tokoh oposisi itu. Prabowo bahkan sempat menyatakan bahwa pertemuan di rumah Maher itu hanya untuk memenuhi undangan makan sate saja.

Meski Prabowo mengatakan demikian, sulit untuk sepenuhnya percaya bahwa pertemuan itu hanya sekadar untuk menikmati makan malam. Kiprah Maher sebagai pengusaha elite era Soeharto membuat publik mempertanyakan peran sang taipan bagi koalisi Gerindra, PAN, dan PKS.

Sebagaimana dibicarakan banyak orang, Prabowo diisukan tengah kesulitan dana jelang pencapresannya. Sang jenderal dikabarkan kini tidak lagi bisa hanya memanfaatkan pundi-pundi miliknya dan juga sang adik Hashim Djojohadikusumo.

Maher bisa saja mengambil peran sebagai koordinator pembiayaan bagi ikhtiar Prabowo menjadi capres di tahun 2019. Dalam konteks ini, Maher bisa saja memiliki peran untuk memberi sumber dana yang disebut sebagai plutocratic finance bagi pencapresan Prabowo.

Konsep plutocratic finance ini dikemukakan misalnya oleh Michael Pinto Duschinsky. Plutocratic finance merupakan sumber dana politik yang berasal dari kelas berkuasa baik itu pengusaha yang sukses ataupun para aristokrat.

Sebagai seorang konglomerat yang menanjak di era Orde Baru, kocek Maher tentu tergolong tebal. Ia bisa menjadi salah satu “financial backer” bagi usaha Prabowo merengkuh kursi RI-1. Persoalan dana yang dialami Prabowo bisa saja diatasi oleh sosok sang taipan.

Baca juga :
Gaet Anies, Paloh Tolak Kumbo?

Selain itu, Maher juga bisa saja membuka jejaring dengan kelompok-kelompok berduit lainnya. Sebagaimana disebut di atas, kiprah Maher amat lekat dengan Kongsi Delapan. Ia bisa saja menarik rekan-rekannya di kongsi tersebut atau pengusaha lain yang dekat dengannya untuk memberi dana bagi Prabowo.

Secara spesifik, kedekatan Maher dengan keluarga Soeharto melalui Mamiek juga dapat menjadi angin baru bagi pendanaan Prabowo. Ia bisa saja menjadi sosok yang menjadi katalis bagi aliran dana dari keluarga tersebut.

Jika hal itu terjadi, maka terjadi reorganising power atau pengorganisasian kekuatan Orde Baru seperti yang diungkapkan oleh Richard Robison dan Vedi Hadiz. Figur-figur yang menikmati keuntungan di masa Soeharto, Maher dan Prabowo, mengorganisasi ulang kekuatan mereka untuk mencapai kekuasaan politik. Apalagi, jika keluarga Soeharto memutuskan untuk bergabung, maka formasi Orde Baru ini menjadi sempurna.

Sejauh ini, Prabowo ataupun tokoh-tokoh yang hadir di pertemuan itu tidak menolak maupun mengiyakan soal kemungkinan pendanaan dari sosok Maher. Oleh karena itu, kemungkinan aliran dana dari sang taipan masih ada. Kita tunggu saja apakah sang konglomerat akan menggelontorkan uangnya untuk Prabowo atau tidak. (H33)