Prabowo, Berkata Kasar Tapi Peduli?

Prabowo, Berkata Kasar Tapi Peduli?
Prabowo saat berbicara dalam Kampanye Anies-Sandi dalam Pilkada DKI 2017. (Foto: ANTARA)
7 minute read

Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, beberapa kali menggunakan kata kasar dalam berbagai kegiatan kampanyenya. Kata-kata kasar tersebut disampaikan di hadapan publik untuk mengkritik beberapa pihak yang dianggapnya mengambil kekayaan negara.


PinterPolitik.com

“Excuse the cursing, baby. But just know that I’m a good person, though they portray me as cold,” – Eminem, penyanyi rap AS

Dalam beberapa kegiatan kampanyenya, seperti di Jakarta dan Yogyakarta, Prabowo menggunakan kata-kata kasar, seperti “bajingan” dan “ndasmu,” untuk mengkritik kelompok elite di Jakarta dan kekuatan asing yang dianggapnya merampas kekayaan negara, sehingga membuat rakyat sengsara. Prabowo juga sempat menyebutkan bahwa ulah elite ini merupakan “pemerkosaan” terhadap Ibu Pertiwi.

Beberapa pernyataan tersebut pun dijelaskan kembali oleh pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno. Terkait kritik Prabowo terhadap pertumbuhan ekonomi yang menggunakan kata “ndasmu”, anggota BPN Prabowo-Sandi, Dradjad Wibowo menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bentuk kejengkelan mantan Danjen Kopassus tersebut terhadap pemerintah karena pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen merupakan angka yang cukup rendah bagi Indonesia sejak era Orde Baru.

Kata-kata kasar yang digunakan oleh Prabowo dalam mengkritik ini pun juga dikritik oleh Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadzily. Ia mengatakan bahwa kritik tersebut tidak hanya merendahkan Jokowi, melainkan juga merendahkan perjuangan bangsa Indonesia dalam membangun perekonomiannya.

Selain itu, Ace juga menyebutkan bahwa gaya kritik kemarahan dengan kata-kata kasar yang digunakan oleh Prabowo meniru gaya kampanye Presiden Donald Trump dalam Pemilu Amerika Serikat (AS) pada tahun 2016. Menurutnya, gaya pemimpin yang marah-marah dan suka menghardik di hadapan publik bukanlah bagian dari budaya Indonesia.

Dengan konteks budaya Indonesia yang cukup sensitif terhadap kata-kata, tentu pertanyaannya adalah apakah Prabowo tidak merugi dengan gaya marah-marah dan kata-kata kasarnya itu?

Agar Publik Tak Fokus?

Kritik kubu Jokowi-Ma’ruf terhadap gaya marah-marah Prabowo bisa jadi menghasilkan dua skenario yang berbeda. Kritik terhadap Prabowo pun tidak hanya menjadi cara untuk memengaruhi pemilih, melainkan juga untuk mengalihkan publik dari isu yang diangkat paslon nomor urut 02 tersebut.

Baca juga :
Ilusi Mobil Listrik JK

Skenario pertama dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep propaganda transfer atau false connection. Magedah E. Shabo dalam bukunya yang berjudul Techniques of Propaganda and Persuasion menjelaskan bahwa propaganda transfer merupakan upaya propaganda yang digunakan oleh seseorang untuk memberikan dan memindahkan citra, simbol, atau makna atas sesuatu terhadap pihak lawan. Citra, simbol, atau makna tersebut bisa saja tidak benar dimiliki oleh pihak lawan yang mendapatkan propaganda transfer.

Di AS, Presiden Trump juga menggunakan propaganda transfer untuk mengalahkan lawan politiknya. Dalam kampanye-kampanyenya, Trump beberapa memberikan label sosial yang berkonotasi negatif pada Barack Obama dengan label Muslim dan Hillary Clinton dengan label kriminal.

Label-label yang berkonotasi negatif di masyarakat AS tersebut tentu memengaruhi pemilih. Sebuah artikel dari Vox mengutip sebuah studi milik Tyler T. Reny, Loren Collingwood, dan Ali Valenzuela yang menunjukkan pengaruh propaganda transfer Trump terhadap pemilih. Studi tersebut menjelaskan bahwa terdapat sejumlah pemilih setia Obama yang bermigrasi memilih Trump pada Pemilu 2016.

Jika berkaca pada upaya yang dilakukan Trump di AS, kubu Jokowi-Ma’ruf bisa juga berupaya untuk memberikan citra buruk pada Prabowo dengan ungkapan kemarahannya dan kata-kata kasarnya. Hal ini juga didasarkan pada persepsi bahwa kata-kata kasar merupakan hal yang tabu digunakan dalam hubungan kekeluargaan serta dalam pembicaraan di hadapan publik.

Penggunaan kata-kata kasar sebagai alat retorika mampu membuat pesan yang disampaikan lebih efektif dengan memperkuat diskursus atas isu yang disampaikan. Click To Tweet

Selain sebagai upaya propaganda transfer, kubu Jokowi-Ma’ruf bisa juga berusaha mengalihkan fokus publik dari isu yang disajikan oleh Prabowo. Pengalihan isu ini dapat dijelaskan menggunakan konsep false consciousness (pengalihan kesadaran).

Vox pun juga menjelaskan konsep ini dalam video yang diunggahnya di YouTube. Konsep pengalihan kesadaran yang berasal dari teori Marxis ini menjelaskan bahwa kesadaran kelompok kelas bawah dengan sengaja didistorsikan agar tidak berfokus pada kondisi sosial dan ekonomi sebenarnya dari kelompok tersebut.

Dalam video tersebut, Produser Vox, Carlos Maza, menggunakan konsep tersebut untuk menjelaskan upaya yang dilakukan oleh seorang komentator politik di Fox News, Tucker Carlson. Maza pun menjelaskan bahwa Carlson menggunakan media dengan membahas berbagai isu yang tidak penting untuk mengalihkan fokus masyarakat dari isu sebenarnya yang sedang terjadi di pemerintahan AS.

Baca juga :
Ahok 'Guru Besar' PDIP

Cara tersebut pun dianggap ampuh karena berbagai peraturan yang menguntungkan kelompok elite di AS berhasil diberlakukan oleh pemerintahan Trump tanpa perhatian besar dari publik. Salah satu kebijakan yang dianggap merugikan publik AS adalah kebijakan yang membuat pekerja lebih mudah terjebak pada sistem pinjaman.

Berkaca dari apa yang dilakukan Carlson, kubu Jokowi-Ma’ruf bisa juga menggunakan isu kemarahan Prabowo untuk mengalihkan masyarakat dari isu yang sebenarnya disajikan oleh mantan Danjen Kopassus tersebut, seperti kekuasaan kelompok elite dan penyalahgunaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Terlepas dari berbagai upaya kubu Jokowi-Ma’ruf tersebut, persoalan berikutnya adalah apakah konteks kata-kata kasar ini bisa dimaknai secara berbeda jelang Pilpres yang sudah di depan mata?

Keras juga Banyak Disukai?

Penggunaan kata-kata kasar oleh Prabowo dalam kampanye bisa jadi merupakan hal yang sebenarnya menguntungkan bagi mantan suami Titiek Soeharto tersebut. Dengan begitu, publik pun dapat merasakan ekspresi yang diungkapkan Prabowo.

Nicoletta Cavazza dan Margherita Guedetti dalam tulisannya yang berjudul “Swearing in Political Discourse” menjelaskan bahwa masyarakat memang melihat penggunaan kata-kata kasar sebagai hal yang kontroversial. Beberapa studi menjelaskan bahwa orang yang menggunakan kata-kata kasar merupakan orang yang tidak dapat dipercaya, tidak kompeten, dan tidak mudah bergaul.

Namun, beberapa studi lain juga menjelaskan bahwa penggunaan kata-kata kasar membantu secara positif dalam kondisi tertentu. Dengan mengungkapkan kata-kata kasar, seseorang dapat terbantu dalam mengekspresikan suasana hati, dorongan tertentu, dominansi, dan lain-lain.

Dalam politik, penggunaan kata-kata kasar sebagai alat retorika mampu membuat pesan yang disampaikan lebih efektif dengan memperkuat diskursus atas isu yang disampaikan. Selain itu, penggunaan kata kasar oleh politisi dapat menciptakan hubungan persahabatan yang informal dengan penerima pesan, sehingga meningkatkan koneksi sosial di antaranya dan membantu pesan yang ingin disampaikan dapat tersalurkan dengan lebih baik.

Penjelasan Cavazza dan Guedetti tersebut pun senada dengan pernyataan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, yang juga sering berkata kasar guna menyampaikan pesan tertentu. Duterte pun meminta masyarakat Filipina mendengarkan makna di balik kata-kata kasarnya karena, menurutnya, hal itu didasarkan pada tragedi dan penderitaan dalam masyarakat Filipina sendiri.

Lalu, jika pesan yang disampaikan menjadi lebih efektif, apa dampak penggunaan kata-kata kasar terhadap audiens yang menerima pesan? Apakah dapat memengaruhi pemilih dalam Pemilu?

Selain Duterte, penggunaan kata-kata kasar pun pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh politik di berbagai negara, termasuk Trump. Melissa Mohr dalam artikelnya yang berjudul Why Donald Trump Is Smart to Swear di Time menjelaskan bahwa penggunaan kata-kata kasar merupakan strategi yang cukup ampuh, meskipun banyak penentang Trump melihatnya sebagai hal yang buruk.

Penggunaan kata-kata kasar dalam ungkapan kemarahan membuat pendengarnya terbawa emosi tertentu, seperti ketakutan dan agresi. Mohr pun menjelaskan bahwa ketika kita mendengar seseorang berkata kasar dalam mengungkapkan pesan tertentu, kita sering kali berasumsi bahwa kata-kata tersebut berasal dari perasaan sebenarnya dalam lubuk hati terdalam si penutur.

Berkaitan dengan penggunaan kata-kata kasar, Jennifer Jerit dalam tulisannya yang berjudul “Survival of the Fittest” menjelaskan bahwa retorika kemarahan juga memberikan pengaruh tertentu terhadap audiens. Emosi yang dihasilkan terkait pesan-pesan tertentu dalam retorika kemarahan dapat mendorong mobilisasi pemilih untuk berfokus pada isu yang penting dalam Pemilu.

Berdasarkan pada penjelasan dan contoh di atas, Prabowo bisa jadi menggunakan kata-kata kasar dalam ungkapan kemarahannya guna memperkuat efektivitas pesan yang disampaikannya. Mantan Danjen Kopassus tersebut dapat saja ingin menciptakan hubungan dan emosi tertentu dengan audiens kampanyenya.

Jika kita juga memperhatikan pesan dan emosi yang disampaikannya, Prabowo nampaknya ingin masyarakat berfokus pada permasalahan ekonomi yang telah mengakar di Indonesia, seperti pencurian kekayaan negara dan penguasaan ekonomi oleh kelompok elite. Mantan suami Titiek Soeharto tersebut bisa jadi ingin menunjukkan isu-isu utama yang sebenarnya hadir tersebut dalam Pemilu 2019.

Mungkin, benar juga perkataan Eminem di awal tulisan ini. Beberapa politisi mungkin sebenarnya orang yang peduli terhadap kondisi saat ini meskipun dianggap sebagai orang yang tidak afektif dengan berbagai kata kasarnya. Lagipula, pemimpin yang kita perlukan pada akhirnya adalah pemimpin yang benar-benar peduli. Bukan begitu? (A43)