PPP ‘Guyon’ Minta Cawapres

PPP ‘Guyon’ Minta Cawapres
Istimewa
3 minute read

“Soal cawapres, pandangan PPP didasarkan pada analisis kebutuhan Pak Jokowi. Maka saya sebut, dalam pandangan PPP ada lima syarat dan satu hati. Karena Betapapun ia memenuhi kriteria, kalau Pak Jokowi nggak sehati, bagaimana bisa mendampingi?” ~ Ketua Umum PPP M Romahurmuziy (Rommy).


PinterPolitik.com

Partai mana yang tidak ingin mendapatkan jatah Calon Wakil Presiden (Cawapres) Jokowi Pada Pilpres 2019 mendatang? Semua partai pengusung Presiden Petahana sepertinya berlomba-lomba memberikan sinyal ketertarikan mengisi posisi tersebut. Gak terkecuali Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mulai melakukan komunikasi intens dengan Jokowi.

Sedikit beda sih dengan pertemuan lainnya, kali ini Ketua Umum PPP, Romahurmuziy (Rommy) diajak satu pesawat dengan Jokowi menuju Cirebon usai menghadiri peluncuran buku Ma’aruf Amin di Jakarta. Wah, ngobrol politik kok jauh amat di atas awan sih, takut ada yang nguping hasil pembicaraannya ya Pak?

Rommy sendiri mengatakan kalau pertemuan itu hanya sebatas obrolan ringan aja. Hanya berbicara mengenai gagasan yang perlu dikembangan dalam pemerintahan yang baik. Mungkin Rommy takut ketinggian, jadi sampai grogi mau ngobrolin apa sebelumnya.

Di luar pertemuan tersebut, PPP beranggapan bahwa untuk menyukseskan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang, diperlukan penyesuaian antara figur pemimpin yang nasionalis dan islami. Karena hubungan agama dan kekuasaan harus berjalan seiring dan seimbang. Catatannya, agama yang dimaksud Islam loh ya. Kalau pilih yang lain, mmm boleh juga sih.

Maksudnya Rommy ini, jangan ngelirik yang jauh-jauh gitu loh. Ini di depan mata ada partai yang setia mendukung. Apa ada pilihan lain bagi Jokowi yang bisa mendongkrak sisi Islami selain PPP? Rasanya gak ada deh. Memilih Cawapres dari PPP merupakan opsi yang paling rasional sejauh ini. Cawapres dari partai lain sih bagus-bagus, tapi yang paling islami, ya Insya Allah PPP lah.

Sejauh ini PPP mengajukan lima syarat cawapres pendamping untuk Jokowi. Pertama, figur yang mampu mengawal narasi besar NKRI dengan pondasi nasionalisme dan agama. Kedua, figur agamis yang mampu mengurangi ujaran kebencian bernuansa SARA, karena lawan politiknya masih selalu menstigma Jokowi dengan “anti-Islam, prokomunis, dan pro-Tiongkok”.

Ketiga, figur yang memahami kaum milenial. Sebab 39 persen pemilih pada 2019 berusia di bawah 40 tahun, maka cawapres dari kalangan muda menjadi sangat diperlukan. Keempat, figur yang memiliki pengalaman dan kompetensi intelektual menghadapi disrupsi ekonomi & transformasi digital. Kelima, figur yang dapat memberi sumbangan elektabilitas.

Kira-kira PPP bakal dipinang gak ya sama Jokowi ini? Cukup menggiurkan sih point-point yang disampaikan. Selama “janur kuning” belum melengkung, pepet terus aja deh. Kalau gak gitu, bisa-bisa nanti posisi Cawapres ditikung partai pendukung lain yang juga lagi mesra-mesranya dengan Jokowi. Itu tuh, Partai Nasional Demokrat (NasDem). (K16)