‘Potong Gaji’ Direksi BPJS Kesehatan

Dirut BPJS Kesehatan Prof. Dr. dr. Fahmi Idris, M. Kes (Foto: Tirto.id)
Dirut BPJS Kesehatan Prof. Dr. dr. Fahmi Idris, M. Kes (Foto: Tirto.id)
3 minute read

“Benar-benar engga punya etika nih. Kok tunjangan dan bonus direksi BPJS dan Dewas BPJS naik disaat BPJS mengalami defisit akibat buruknya pengelolaan keuangan BPJS. Masak kinerjanya buruk malah dikasih reward,” – Arief Puyuono


PinterPolitik.com

Masalah kesehatan masih menjadi polemik yang berkepanjangan, terlebih Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang doyan mengoleksi masalah.

Dimulai dengan defisit anggaran, pelayanan kesehatan yang buruk hingga penolakan pasien di rumah sakit. Ehmm, kalau kinerja BPJS Kesehatan dikonversi jadi nilai, nilainya merah nih, hadeuuh. Masih berani minta gaji naik? Weleeeh weleeeh, tepok jidat.

Sudah banyak masalah, BPJS Kesehatan melalui Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) mengusulkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan dan kenaikan tunjangan Direksi BPJS Kesehatan. Usulan ini sih terbilang nekat dan nyeleneh. Kenapa begitu?

Coba bayangkan aja ya, sekarang BPJS Kesehatan suka tak suka jadi beban APBN yang riwayatnya selalu defisit. Letak kesalahannya di mana? Gaji Direksinya kegedean, rumah sakitnya kemahalan atau pasiennya yang kebanyakan? Ehmm, entahlah. Lama – lama masyarakat Indonesia dilarang sakit nih, supaya ga jadi beban negara, weleeeh weleeeh.


Atau mungkin juga, pelayanan kesehatan yang amburadul dan buruk itu dampak dari defisitnya anggaran? Hadeuuuh, jadi ga konsisten dong, katanya BPJS Kesehatan mau memastikan layanan kesehatan dapat terjangkau oleh semua masyarakat Indonesia, kalau begini sih masyarakat jadi sungkan kalau mau berobat.

Hufftt, sekalipun masyarakat sakit, masyarakat ga akan kaget kalau pelayanan kesehatan juga buruk, ahaaaayy sudah kuduga, weleeeh weleeeh.

Masalah yang numpuk begitu diakali solusinya dengan menaikkan iuran BPJS Kesehatan di semua kelas. Ehmm, kalau iuran naik dengan jaminan pelayanan kesehatan yang naik sih, kayaknya gapapa. Cuma kalau iuran naik semakin buruk gimana? Jaminannya apa hayoo?

Kalau ga bisa ngasih jaminan, BPJS Kesehatan udah ga layak lagi bernama BPJS, namanya aja Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, weleeh weleeeh.

Sementara itu, di tengah setumpuk persoalan itu, justru muncul keinginan dari Direksi BPJS Kesehatan untuk meminta kenaikan tunjangan. Hadeuuuh, apa kenaikan iuran itu buat nambahin tunjangan Direksi? Woailaaahh, kabarnya sih biar ada peningkatan performa kinerja Direksi BPJS Kesehatan.

Oh mau pake konsep reward and punishment ya, okesiaaappp, kalau begitu caranya. Tunjangan naik dengan harapan performa kinerja naik. Nah sekarang faktanya kan kinerjanya amburadul dan banyak masalah, harusnya dikasih punishment dengan dipotong gaji dan tunjangannya. Gimana lebih solutif kan? Weleeeh weleeeh.

Nanti kalau kinerjanya meningkat baru deh Bu Menkeu Sri Mulyani boleh menaikkan tunjangan Direksi BPJS. Adil kan kalau begitu? Apa yang didapat sesuai dengan apa yang dikerjakan.

“Aku punya banyak masalah di kehidupanku. Tapi bibirku tidak mengetahuinya. Bibirku selalu tersenyum,” Charlie Chaplin

Charlie Chaplin tau aja deh kalau Direksi BPJS Kesehatan punya banyak masalah tapi pura – pura gatau. Mungkin Direksi BPJS Kesehatan sibuk tersenyum untuk minta tunjangannya naik, ngimpi! weleeeh weleeeh. (Z19)

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]