Politik Snouck Hurgronje ala Jokowi

Joko Widodo di situs Kesultanan Banten Lama (foto: titiknol)
7 minute read

Ada indikasi Jokowi menggunakan taktik Snouck Hurgronje dalam menguasai wilayah Banten. Hal itu dikarenakan, Jokowi kerap mengenakan simbol-simbol Islam dan adat ketika berkunjung ke daerah tersebut.


PinterPolitik.com

Pemilihan Presiden 2019 akan segera digelar. Baik Jokowi maupun Prabowo kini semakin memantapkan strategi masing-masing untuk meraih kemenangan. Mendekati masa-masa pemilihan tersebut, tentu saja Pulau Jawa akan menjadi sorotan berbagai pihak mengingat menguasai pulau terpadat di Indonesia ini adalah kunci untuk menentukan hasil Pilpres tahun depan.

Belum lama ini, Jokowi baru saja melakukan kunjungan ke Banten. Calon presiden (capres) nomor urut 01 itu berkunjung ke situs Kesultanan Banten Lama yang saat ini sedang berada dalam tahap revitalisasi. Banten sendiri memiliki kaitan langsung dengan cawapres Jokowi, Ma’ruf Amin. Nama terakhir adalah pemuka agama yang berasal dari provinsi tersebut.

Sementara itu, tentu saja Banten mengingatkan kita pada Pilpres 2014 karena provinsi itu menjadi salah satu daerah di mana Jokowi kalah dari Prabowo. Sang jenderal meraih suara hingga 57,10 persen, sedangkan Jokowi hanya meraih 42,90 persen.

Di Pilpres kali ini, belum ada tanda-tanda suara Banten akan berpihak kepada Jokowi. Apalagi menurut hasil survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, PDIP sebagai partai utama pengusung presiden belum bisa menandingi Partai Gerindra di wilayah tersebut. Hal itu tentu saja menjadi penanda bahwa Banten merupakan “benteng terakhir” Prabowo di pulau Jawa – selain Jakarta tentunya.

Banten merupakan “benteng terakhir” Prabowo di pulau Jawa Click To Tweet

Maka, bukan tidak mungkin kunjungan Jokowi ke provinsi paling barat pulau Jawa itu menjadi penanda bahwa sang presiden sudah mulai melakukan manuver politik untuk menguasai wilayah tersebut. Jokowi sendiri pernah mengatakan menargetkan 70 persen suara di Banten pada Pilpres 2019.

Terlepas dari faktor elektoral tersebut, nyatanya beberapa kalangan menilai terdapat indikasi bahwa kunjungan Jokowi ke provinsi tersebut mirip dengan taktik yang digunakan Snouck Hurgronje – seorang pria kebangsaan Belanda – yang membantu kaum kolonial menguasai Aceh di zaman sebelum kemerdekaan. Lantas, apakah yang dimaksud dengan taktik ala Snouck Hurgronje tersebut?

Aceh dan Taktik Snouck Hurgronje

Dalam sejarah, Aceh dikenal sebagai daerah yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda. Disebutkan bahwa Belanda berkali-kali mengalami kekalahan dalam Perang Aceh. Maka, untuk mengatasi hal tersebut, Belanda pun mengutus seorang orientalis – orang yang mempelajari budaya ketimuran – bernama Snouck Hurgronje untuk mencari titik kelamahan orang-orang dari tanah rencong tersebut.

Snouck Hurgronje adalah ilmuwan asal Belanda lulusan Universitas Leiden, Jurusan Teologi. Sebelum datang ke Hindia Belanda Snouck sudah lebih dulu mendapat pemahaman tentang Islam ketika tinggal di Mekkah, Arab Saudi. Dalam buku berjudul Islam di Hindia Belanda, Snouck mengatakan di Mekkah-lah pertama kalinya ia mendapatkan informasi mengenai orang-orang Aceh.

Politik Snouck Hurgronje ala Jokowi

Atas dasar itulah ketika sampai di Aceh, Snouck Hurgronje langsung diterima oleh kelompok-kelompok Islam. Di sana, ia menyamar dengan menggunakan simbol-simbol Islam, seperti mengganti nama menjadi Syekh Abdoel Ghafar, bercakap-cakap dalam bahasa Arab dan mengenakan pakaian serba muslim.

Dengan taktik semacam itu, ia berhasil membuat laporan pertama tentang Aceh berjudul Atjeh Verslag. Laporan itu kelak menjadi sebuah buku berjudul The Aceh (1906) di mana ia menjelaskan mengenai sisi antropologis dan sistem sosial masyarakat Aceh.

Snouck menjelaskan bahwa di Aceh, ulama dan Uleebalang (pemimpin lokal) memegang peranan dalam masyarakat setempat. Dalam laporan itu, Snouck juga menyebut bahwa para ulama-lah yang mengobarkan Perang Aceh dengan semangat jihad. Sementara itu, ia mengatakan Uleebalang bisa diajak menjadi calon sekutu Belanda karena kepentingan mereka adalah berniaga.

Snouck Hurgronje menyebut bahwa para ulama-lah yang mengobarkan Perang Aceh dengan semangat jihad Click To Tweet

Belanda sangat terkesan dengan laporan itu dan menjadikan hal itu sebagai dasar kebijakan politik dan militernya. Maka untuk menghancurkan semangat perjuangan Aceh, Belanda menempuh dua strategi, yaitu merangkul Uleebalang dan menaklukan ulama.

Disebutkan bahwa kelompok Uleebalang diberikan hak istimewa seperti kedudukan, pangkat, dan gaji yang besar. Sementara kaum ulama dikejar dan ditangkap untuk menghilangkan semangat jihad-nya. Hal ini menurut Snouck penting dilakukan karena ulama-lah yang menggelorakan semangat anti-kolonialisme di kalangan masyarakat.

Pada akhirnya, wilayah berjuluk Serambi Mekkah itu benar-benar bisa ditaklukkan oleh Belanda. Menurut Jajat Burhanuddin, seorang pakar sejarah dan kebudayaan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, di titik itulah Snouck Hurgronje memulai karir sebagai dalang intelektual di balik kebijakan-kebijakan Belanda tentang Islam di nusantara.

Jokowi Tiru Snouck Hurgronje?

Dalam konteks tersebut, beberapa pihak menilai ada indikasi Jokowi menggunakan taktik Snouck Hurgronje dalam menguasai wilayah Banten. Hal itu dikarenakan, ia kerap mengenakan simbol-simbol Islam dan adat ketika berkunjung ke daerah tersebut. Sama seperti Aceh, Banten pun merupakan wilayah yang sangat kental dengan pengaruh Islam.

Pakar asal Universite de Marseille, Gabriel Facal dalam tulisan berjudul Religious Specificities in the Early Sultanate of Banten menjelaskan bahwa Banten pada abad-19 terkenal sebagai wilayah Islam yang lebih kuat daripada wilayah lain di Jawa. Facal juga menjelaskan kelompok ahli seni bela diri (jawara) dan para pemimpin pesantren (ulama dan kiai) memainkan peran besar di tengah-tengah masyarakat Banten.

Saat ini, kelompok ulama dan para Jawara itu telah menjadi kelompok elite kultural di Banten dan memegang peranan politik di provinsi ujung barat pulau Jawa tersebut. Maka, muncul anggapan jika ingin menguasai wilayah Banten, kuncinya adalah harus merangkul kedua kelompok itu.

Mungkin itulah mengapa Dinasti Ratut Atut mampu menguasai Banten dengan waktu yang cukup lama karena elite politik itu berhasil merangkul ulama dan jawara untuk membangun fondasi kekuasaan di daerah tersebut. Lantas, bagaimana dengan Jokowi?

Beberapa hari lalu Jokowi dan Ma’ruf Amin baru saja mengunjungi Banten dengan mengenakan pakaian pendekar berwarna hitam. Di bagian dada pakaian tersebut tertulis “Pendekar Banten Indonesia”. Tentu saja aksi Jokowi-Ma’ruf Amin tersebut mengundang perhatian berbagai pihak. Mungkinkah hal itu adalah aksi simbolik pasangan nomor urut 01 untuk mengatakan bahwa mereka sangat dekat dengan kelompok jawara?

Tidak sekedar itu, dalam “menaklukkan” Banten, Jokowi pun berusaha merangkul dinasti Ratu Atut. Kerjasama itu mungkin bermakna sebagai simbiosis mutualisme, di mana dinasti Ratu Atut bisa membantu Jokowi dalam meraih suara di Banten, sedangkan Jokowi dapat membantu mereka dalam mengamankan bisnis-bisnis lokal keluarga.

Bukankah dalam konteks tersebut, manuver politik semacam ini mirip dengan taktik Snouck Hurgronje dalam merangkul kaum Uleebalang di Aceh?

Selain itu, Jokowi juga melakukan hal tidak terduga ketika datang ke Banten. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu lebih memilih datang ke situs Kesultanan Banten Lama dibandingkan berkunjung ke taman kota atau pusat keramaian lainnya.

Sekilas, mungkin hal itu nampak biasa saja. Namun, jika dilihat secara historis, situs tersebut merupakan simbol kebesaran Islam Banten di masa lalu. Dengan melakukan kunjungan tersebut, mungkinkah Jokowi ingin membentuk kesan bahwa ia sangat dekat dengan kelompok Islam di wilayah itu?

Jika benar, hal ini lagi-lagi mirip dengan apa yang dilakukan oleh Snouck ketika mendekati kelompok-kelompok Islam di Aceh. Titik perbedaan antara Snouck dan Jokowi mungkin hanya terletak pada penaklukkan mereka terhadap ulama.

Jika Snouck mengarahkan Belanda agar mengejar dan menangkap ulama, Jokowi justru sudah “menaklukkan” ulama dengan cara menggandeng pemuka agama asal Banten, Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Melalui Ma’ruf Amin, hubungan antara Jokowi dengan ulama Banten pun akhirnya terbuka.

Pada titik ini bisa disimpulkan bahwa terdapat kemiripan taktik antara Jokowi dalam menguasai Banten, dengan Snouck Hurgronje dalam menguasai Aceh. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah taktik ini akan efektif di Pilpres 2019?

Dengan berkaca pada perolehan suara di tahun 2014, bisa saja taktik ini akan menjadi efektif. Mengingat, sepertinya Jokowi harus berusaha lebih keras untuk menaklukkan wilayah-wilayah dengan basis pemilih Islam yang kuat.  Jika taktik ini berhasil, bukan tidak mungkin hal ini pun akan berguna bagi sang presiden untuk menaklukkan wilayah-wilayah lain yang serupa. Mungkinkah? Menarik untung ditunggu. (D38)