Politik Otentik, Pencitraan Prabowo?

Politik Otentik, Pencitraan Prabowo?
Foto: istimewa
7 minute read

Benarkah “politik otentik” ini benar-benar otentik? Atau ada pesan tersirat yang sebenarnya coba dibangun oleh tim Prabowo-Sandi?


PinterPolitik.com

Dua hari yang lalu, talk show fenomenal Mata Najwa menginisiasi debat tim pemenangan kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga Uno versus Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin yang bisa dibilang seru.

Sebenarnya makna politik otentik adalah bagian dari politik pencitraan itu sendiri. Keduanya adalah gagasan dan strategi yang lahir dari upaya propaganda politik. Click To Tweet

Sebagai pemanasan, tentu debat ini memiliki makna lebih dalam bagi publik yang menyaksikan. Selain itu, tentu saja debat ini penting untuk menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan presiden pada Pilpres 2019 mendatang.

Ada diskursus menarik yang coba disampaikan dalam debat yang melibatkan juru bicara andalan kedua tim, yakni Budiman Sudjatmiko versus Dahnil Anzar Simanjutak tentang “politik pencitraan” ala Jokowi versus “politik otentik” ala Prabowo.

Untuk menegaskan bahwa pencitraan itu buruk, tim Prabowo-Sandi meluncurkan istilah politik otentik tersebut. Lalu benarkah politik otentik ini benar-benar otentik? Atau ada pesan tersirat yang sebenarnya coba dibangun oleh tim Prabowo-Sandi?


“Sang Otentik”, Sebuah Political Branding

“Pak Prabowo adalah sosok yang lebih otentik, hadir tidak dengan kepura-puraan, hadir dengan orisinalitas dan tidak memaksakan diri tampil dengan penuh kepalsuan dan pencitraan”. Demikian klaim Dahnil Anzar Simanjutak, Juru Bicara Tim Kampanye Prabowo-Sandi dalam mengkampanyekan sosok yang akan didukungnya menjadi presiden di 2019 nanti.

Namun, nampaknya kubu petahana tak bisa menerima pernyataan Dahnil tersebut. Budiman Sudjatmiko, Juru Bicara Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf menyebutkan bahwa pencitraan, kampanye, pembangunan image adalah bagian dari cara untuk menunjukkan ada satu role model. Menurutnya, pemimpin adalah role model rakyat. Jika seseorang tidak mampu untuk menjadi role model, maka jangan pernah bermimpi untuk menjadi pemimpin.

Lalu bagaimana sebenarnya kedua jargon ini dijelaskan dalam kacamata politik dan apa artinya menjadi politisi yang otentik?

 

Seperti dikutip dari The Huffington Post, secara alamiah, politik adalah tentang strategi, dengan mengetahui apa yang harus dikatakan, dengan cara apa, dan kepada siapa. Semua hal tersebut merupakan bagian dari strategi politik.

Sebenarnya makna politik otentik adalah bagian politik pencitraan itu sendiri. Keduanya adalah gagasan dan strategi yang lahir dari upaya propaganda politik.

Propaganda politik dan citra selalu hadir dalam wajah demokrasi di seluruh dunia. Adalah sebuah hal yang lumrah ketika seorang pemimpin politik melakukan pencitraan. Para pemimpin politik akan selalu berusaha untuk mengontrol bagaimana cara mereka dilihat secara publik.

Irving J. Rein, Philip Kotler dan Martin R. Stroller dalam bukunya yang berjudul High Visibility menjelaskan bahwa  politisi adalah profesi di mana pembentukan dan tranformasi citra dianggap sebagai hal yang mendominasi. Dalam konteks proses pencitraan, komunikasi politik dapat dianggap sebagai upaya untuk menciptakan citra yang paling dapat diterima oleh para pemilih.

Para pemilih akan cenderung memilih sosok berdasarkan citra yang menjadi identitas para kandidat. Dan realitasnya, pemilih tidak banyak mengambil pertimbangan berdasarkan program-program yang ditawarkan oleh kandidat.

Catherine Needham dan Gareth Smith dalam tulisanya yang berjudul Introduction of Political Branding menyebut bahwa pembangunan citra juga akan berdampak pada citra partai politik. Membangun citra politik sangat penting sebagai bagian dari proses pembentukan sebuah hubungan – dalam konteks ini hubungan dengan pemilih.

Ia juga menyebut pentingnya mengelola citra partai politik dalam konteks persepsi internal maupun eksternal. Dengan kata lain, branding atau pencitraan akan menguntungkan tidak hanya bagi kandidat yang bertarung, tapi juga bagi partai politik yang akan menghadapi Pemilu Legislatif.

Dalam perspektif pemilih, branding sangat efektif dalam menciptakan kondisi rasional sekaligus tak rasional terhadap pemilih sebagai dimensi terpenting dalam reputasi politik. Dalam konteks psikologis pemilih, pencitraan dapat mengarahkan seseorang berpikir rasional dan sekaligus tak rasional dalam menentukan sosok yang akan dipilihnya dalam Pemilu. Sehingga, identitas dan image seorang politisi dapat menyatukan pandangan rasional sekaligus emosional dalam perilaku politik.

Christoper Pich, Khanyapuss Punjaisri, dan Dianne Dean dalam tulisan untuk jurnal berjudul Political Brand Identity: An Examination of the Complexities of Conservative Brand and Internal Market Engagement during the 2010 UK General Election Campaign mencontohkan pentingnya branding narasi citra otentik untuk mempengaruhi aspek emosional pemilih.

Menggunakan contoh politik di Inggris, Pich, Punjaisri dan Dean menyebut ketika Partai Buruh yang dipimpin oleh Tony Blair mengeluarkan jargon The New Labour sebagai the new political manifesto pada dekade 2000-an, Partai Konservatif di bawah kepemimpinan David Cameron juga melakukan hal yang sama dengan mencitrakan partainya sebagai partai yang otentik dan progresif.

Kontra-branding tersebut nyatanya berhasil mengantarkan Partai Konservatif mendapat simpati pemilihnya dan akhirnya mendapat kemenangan dalam Pemilu Inggris di tahun 2010.

Apakah otentik pada titik ini bermakna bahwa partai atau tokoh tertentu itu asli dan jujur? Jika merujuk pada pengertian politik yang otentik, kejujuran seorang pemimpin dalam menjalankan kekuasaanya memang menjadi poin penting.

Hal ini pernah dikemukakan oleh Hannah Arendt, seorang filsuf politik Jerman, yang menyebutkan bahwa politik yang otentik adalah politik yang berbeda dengan praktik politik yang dipahami dan disaksikan dewasa ini.

Bagi Arendt, politik bukanlah soal penguasaan. Politik harus membebaskan dan mendorong warga berekspresi secara otentik di ruang publik. Runtuhnya ruang publik politik baik karena infiltrasi kepentingan privat atau ekonomi dapat membuat peradaban jatuh atau mengalami kemunduran.

Lalu bagaimana jika narasi otentik juga bagian dari strategi pencitraan Prabowo? Apakah politik otentik yang dimaksud sama seperti konsep yang disebutkan oleh Arendt?

Politik Pencitraan vs Politik Otentik

Dalam konteks debat Budiman versus Dahnil, sebenarnya mereka berdua sedang memainkan citra dan simbol dengan cara membentuk persepsi publik tentang sosok Jokowi maupun Prabowo.

Budiman misalkan, menganalogikan bahwa Jokowi adalah rakyat itu sendiri, yang lahir dari keluarga  biasa dan tak terkait dengan sejarah politik dan kekuasaan di Indonesia. Sedangkan Prabowo, dicitrakan sebagai sosok yang lahir dalam sebuah menara tinggi, di mana ia masih terkait dengan dinasti politik era sebelumnya.

Sedangkan Dahnil mencoba untuk membangun narasi bahwa selama ini Jokowi adalah sosok pemimpin yang lahir dari kepura-puraan dan terlalu banyak kepentingan yang mendorong setiap tindakanya selama ini. Sedangkan Prabowo adalah kebalikannya. Ia digambarkan sebagai sesosok pemimpin yang jujur dan memiliki karakter asli tanpa ada kepura-puraan.

Namun, baik pernyataan Budiman maupun Dhanil kesemuanya adalah pertarungan wacana dalam politik. Untuk mencapai kekuasaan, seorang pemimpin memang dituntut untuk memiliki keahlian dalam mengkonstruksi narasi dalam membentuk identitasnya yang mungkin akan membantunya dalam memperoleh legitimasi kekuasaan.

Alexander Wendt dalam teori konstruktivisme sosialnya menekankan prinsip penting dalam pembentukan identitas sosial, yakni adanya ideasional. Ideasional berarti menempatkan identitas yang terbentuk dari kesamaan nilai, ideologi dan norma yang membentuk perasaan “kekitaan” dan pada akhirnya menciptakan apa yang disebut “kepentingan bersama”.

Konstruktivis ala Wendt juga melihat kekuasaan atau teknik menguasai berkenaan dengan kemampuan untuk memproduksi dan mereproduksi makna. Hal ini selaras dengan pandangan kaum posmodernis katakanlah para pengikut Foucault, yang berpendapat bahwa kekuatan itu bersifat produktif, bukan koersif.

Dengan demikian, penyampaian narasi otentik Prabowo atau pencitraan Jokowi melalui juru bicara tim kampanyenya dapat dianggap sebagai cara untuk memproduksi citra diri (image building) sekaligus sebagai cara kedua kubu mendefinisikannya(image labelling).

Dalam kontestasi menuju 2019, narasi otentik dan pencitraan ini diposisikan sebagai sebuah ideasional seperti yang diungkapkan Wendt dan juga menjadi strategi politik Prabowo-Sandi maupun Jokowi-Ma’ruf Amin dalam memaksimalkan suara.

Narasi otentik yang disampaikan oleh Dahnil sebagai tim kampanye Prabowo adalah ideasional baru tentang bagaimana citra seorang pemimpin yang seharusnya, yaitu menolak model pencitraan petahana. Ia juga mendasarkan ideasional tersebut berdasarkan nilai dan norma yang ia yakini dengan tujuan membentuk konstruksi “kekitaan” terhadap pemilih.

Dalam kondisi tertentu, bisa jadi narasi otentik Prabowo ini juga akan membahayakan petahana. Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai shared understanding di mana hasil akhir dari konstruksi sosial – dalam konteks ini konstruksi narasi otentik yang dibangun kubu Prabowo – menguatkan sentiment bahwa pencitraan itu buruk dan seseorang yang hanya bisa pencitraan tidak pantas untuk kembali memimpin.

Sehingga, Budiman akhirnya berupaya untuk mereproduksi ideasional tentang pencitraan  dengan mengglorifikasi pentingnya pencitraan bagi seorang pemimpin serta menggeneralisasikannya sebagai hal yang intrinsik dalam politik. Hal tersebut juga sebagai sebuah upaya counter attack yang dilakukan untuk melawan narasi oposisi tentang “pencitraan itu buruk”.

Dalam konteks pertarungan citra dan tanda dalam politik Indonesia, lantas manakah yang akan berhasil mengkonstruksi preferensi pemilih? Politik otentik atau politik pencitraan? Menarik untuk ditunggu. (M39)

 

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]