Politik Kuliner Rocky Gerung

Politik Kuliner Rocky Gerung
Rocky Gerung (Foto: Harian Singgalang)
2 minute read

“Berpolitik tidak kapok karena harus ada wadah perjuangan, cuma memasukkan orang partai dalam pengurus PA 212, saya pribadi kapok.” – Novel Bamukmin, Juru Bicara PA 212


PinterPolitik.com

Dua bulan digantung, kayaknya Front Pembela Islam (FPI) masih harus lebih sabar dalam menanti izin SKT ormas dari Mendagri. Bahkan kayaknya ada kemungkinan kalau SKT ormas FPI terancam nggak bakal diterbitkan loh.

Apalagi katanya di AD/ART FPI itu ada kata-kata khilafah, makanya keluar deh wacana yang bilang kalau izin SKT FPI nggak akan dikeluarin. 

Digantung si doi seminggu aja udah bikin menderita setengah mati, apalagi ini yang udah digantung hampir dua bulan, terus terancam putus pula. Hehehe.

Nah, omongin izin SKT ormas FPI jadi teringat juga juga nih sama acara Indonesia Lawyers Club (ILC) hari Selasa lalu. Itu loh waktu Karni Ilyas bawa topik tentang ke mana arah politik PA 212, gerakan yang juga identik dengan FPI di dalamnya.


Ibaratnya kayak kamu lagi bertamu, terus disuruh pilih untuk makan siang pake nasi goreng atau pake nasi kebuli, kira-kira yang mana nih yang kamu pilih? Mungkin itu juga kali ya pertanyaan spekulatifnya Karni Ilyas tentang posisi PA 212 ke para politisi di ILC itu.

Menariknya tuh, pengamat politik paling hits, Rocky Gerung bilang kalau PA 212 itu bukan sekadar permainan politiknya Prabowo aja, tapi merupakan teks sosial masyarakat.

Meskipun aing juga nggak ngerti apa maksudnya teks sosial masyarakat, tapi karena keluar dari mulut Bung Rocky, jadinya “wow” aja dulu deh. Hehehe.

Nah, kalau melihat suasana PDIP dan Nasdem yang kayaknya sih masih perang dingin, lalu juga adanya Ijtima Ulama IV yang baru aja dilaksanakan oleh PA 212, GNPF, FPI dan ormas lainnya, kira-kira siapa nih yang bakal duluan nawarin makanan ke mereka?

Mungkinkah mereka akan disodorin nasi goreng-nya Mega-Prabowo duluan atau mereka akan disodorin nasi kebuli-nya Surya Paloh-Anies Baswedan duluan? Hehehe.

Hmm. Tapi, jangan-jangan mereka malah nggak mau pilih dua-duanya karena mau bikin partai sendiri nih. Apa pun pilihannya, tetap Pancasila lah ya ideologinya. Upss. (R50)

Mau tulisanmu terbit di rubrik Ruang Publik kami? Klik di http://bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]