PKS-Gerindra Bukan Sahabat Kepompong?

pks gerindra
Sohibul Iman dan Prabowo Subianto. (Foto: PKS.id)
2 minute read

“Bagaimana bisa menyatu jika hati saling silang sengketa.” ~Moammar Emka


PinterPolitik.com

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Johnny G Plate menyindir sikap Gerindra dan PKS yang masih berputar-putar di bawah pusaran polemik jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang ditinggalkan Sandiaga Uno.

Ya, namanya juga jabatan penting, kan rebutannya nggak segampang rebutan mainan. Lagian Pak Johnny ini jangan ngeledek terus dong. Mereka ini lagi baper-baperan loh. Bahkan ada kabar PKS akan mematikan mesin partainya jika Prabowo Subianto tidak menepati janjinya untuk menyerahkan kursi DKI 2 kepada PKS. Rumit say

Johnny memprediksi kedua partai itu tak akan bisa memecahkan berbagai permasalahan bangsa secara cepat di level nasional apabila memenangi Pilpres, karena sudah terlihat tak kompak di level lokal. Misalnya saja urusan wagub, bertele-tele, dan susah mengambil keputusan.

Weleh, ini mah belum tentu bisa dibilang nggak kompak. Biasalah, dalam tiap hubungan pasti suka muncul gesekan-gesekan. Malah katanya, setelah gesekan, hubungan bisa jadi makin dekat. Siapa tahu hukum tersebut berlaku untuk PKS dan Gerindra. Siapa tahu loh ya…

PKS dan Gerindra katanya sahabat kepongpong, kok urusan kursi Wagub DKI terus-terusan jadi rebutan. Semoga kesabaran selalu menyertai Anies Baswedan... Click To Tweet

Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta sebelumnya mengatakan hampir seluruh kader, terutama kader muda PKS DKI Jakarta mengancam mematikan mesin partai di pemilihan presiden 2019. Sedangkan Gerindra sudah menyerahkan pengisian kursi Wagub DKI Jakarta kepada Ketua DPD Gerindra Jakarta M. Taufik. PKS pun keberatan, karena merasa kursi wagub merupakan hak PKS untuk menentukan.

Wah, permasalahannya makin berlarut-larut aja nih. Sudah, sudah jangan berteman. Ehh, jangan berselisih. Ini cuma persoalan kursi wagub loh. Belum mulai juga pemilunya, masih mau dibilang nggak kompak?

Perasaan dulu waktu Jokowi meninggalkan kursi Gubernur DKI dan diganti Basuki Tjahaja Purnama, kursi Wagub DKI tidak jadi kosong berkepanjangan seperti sekarang deh.

Jakarta itu punya masalah yang sangat bejibun loh. Janganlah karena urusan internal partai, banyak persoalan di DKI jadi terbengkalai. Ingat kan Gubernur Anies Baswedan saja sudah pernah curhat kalau dirinya mulai merasa kelelahan. Itu dulu ya, waktu baru-baru ditinggal Sandiaga. Apa lagi sekarang? Ayoo kompak, dong! Katanya sahabat kepompong? (E36)