PKS Ditinggal Kumbo, PKS Untung?

PKS Ditinggal Kumbo PKS Untung
Petinggi-petinggi PKS bersama Prabowo Subianto mengumumkan pasangan calon gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. (Foto: PKS)
6 minute read

Upaya “kumpul kebo” (kumbo) yang tengah dilakukan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto membuat PKS terancam ditinggal oleh teman satu koalisinya, Gerindra. Lalu, bagaimanakah nasib PKS ke depannya?


PinterPolitik.com

“Friends can break your heart, too” – Gnash, penyanyi rap asal Amerika Serikat

Bagaikan sahabat, Gerindra dan PKS selalu tampak kompak dalam berbagai kesempatan. Sering kali sehati, kedua partai ini terlihat sering kali berjalan bersama dalam berbagai pemilihan semenjak Pilkada DKI Jakarta 2017.

Namun, kini tampaknya Gerindra menemukan teman baru. Beberapa dalam kesempatan, Ketum Gerindra Prabowo Subianto menunjukkan kedekatannya dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kehadiran teman baru ini tentunya membuat teman-teman lama Gerindra merasa kecewa. Sulit dibendung kembali, kekecewaan ini semakin meluap dan ditunjukkan oleh teman-teman lamanya.

Persaudaraan Alumni (PA) 212 misalnya, dengan tegas mencabut dukungannya terhadap Prabowo dalam Pilpres 2019. Selain PA 212, sebagian kelompok emakemak juga meluapkan kekecewaan mereka terhadap mantan Danjen Kopassus tersebut dengan melakukan demonstrasi di kediaman Prabowo.

Berbeda dengan teman-teman lainnya, PKS sebagai sahabat meyakini bahwa Gerindra akan tetap berada di sisi yang sama dengannya. Bahkan, PKS menyebutkan bahwa mereka akan menyatakan siap bila ditinggal oleh Gerindra yang dikabarkan akan merapat ke pemerintahan Jokowi 2.0.

Dari gerak-gerik Gerindra tersebut, beberapa pertanyaan pun timbul. Mengapa teman-teman lama dan pendukung Prabowo dapat merasa kecewa? Lalu, bagaimana dengan perasaan PKS bila ditinggal Gerindra? Bagaimana nasib partai tersebut ke depannya?

Kekecewaan Pendukung

Pertemuan Jokowi dan Prabowo beberapa waktu lalu menimbulkan kekecewaan tersendiri bagi para pendukung Prabowo-Sandiaga Uno. Perasaan kecewa serupa bisa jadi mendorong kelompok-kelompok tersebut mencari pembawa ekspektasi politik lain.

Perasaan kecewa dari kelompok-kelompok pendukung Prabowo-Sandiaga ini merupakan hal yang wajar. Perasaan tersebut muncul dari ekspektasi politik yang tidak terpenuhi.

Ben Seyd dari University of Kent dalam tulisannya yang berjudul Exploring Political Disappointment menjelaskan bahwa perasaan kecewa semacam ini akan semakin meluap apabila harapan yang dicetuskan oleh suatu aktor politik tidak dipenuhi oleh aktor itu sendiri. Biasanya, ekspektasi politik ini datang dari dua hal, yakni keyakinan bahwa suatu aktor akan mewujudkan ekspektasi (antisipatoris) dan keyakinan bahwa hasil tertentu seharusnya terwujud (normatif).

Baca juga :
Tsamara Singkirkan Susi Pudjiasuti?

Seyd juga menyebutkan beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan kekecewaan politik. Salah satu faktor tersebut adalah keberpihakan politik (partisanship) – di mana pendukung pemerintah petahana akan cenderung melihat kinerja dan kebijakan pemerintah dengan penilaian positif.

Bila kita tilik pada kekecewaan kelompok pendukung Prabowo, apa yang dijelaskan oleh Seyd bisa saja turut menggambarkan perasaan tersebut. Pasalnya, ekspektasi kelompok-kelompok ini turut terdongkrak dengan narasi-narasi yang dikeluarkan oleh kubu Prabowo-Sandiaga, seperti kecurangan kubu Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 yang disebut-sebut terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).

Berdasarkan tuntutan-tuntutan terkait kecurangan TSM, sebagian besar kelompok pendukung Prabowo-Sandiaga berekspektasi agar hasil Pemilu 2019 yang memenangkan Jokowi-Ma’ruf dapat dianulir. Ekspektasi serupa tetap digulirkan oleh beberapa pihak setelah Mahkamah Konstitusi (MK) merilis putusannya, seperti dengan wacana untuk membawa persoalan Pemilu ke Mahkamah Internasional.

Perasaan kecewa akan semakin meluap apabila harapan yang dicetuskan oleh suatu aktor politik tidak dipenuhi oleh aktor itu sendiri. Click To Tweet

Putusan MK yang menjadikan Jokowi-Ma’ruf sebagai pemenang sah Pilpres 2019 sendiri bisa jadi telah menjatuhkan ekspektasi normatif para pendukung Prabowo-Sandiaga – seperti yang dijelaskan oleh Seyd, di mana harapan seperti diskualifikasi paslon nomor urut 01 tidak terpenuhi.

Para pendukung bisa dibilang semakin merasa kecewa setelah Prabowo memutuskan untuk bertemu dengan Jokowi beberapa waktu lalu. Sontak, pertemuan tersebut membuat beberapa kelompok pendukung Prabowo-Sandiaga merasa mantan Danjen Kopassus telah gagal menyalurkan harapan mereka.

Dalam hal ini, Prabowo boleh jadi gagal memenuhi harapan antisipatoris, di mana aktor yang diharapkan untuk menyalurkan harapan untuk menolak rekonsiliasi telah dianggap gagal. Di sisi lain, kedekatan Prabowo dengan Megawati yang banyak terlihat di media turut menambahkan perasaan kecewa kelompok-kelompok pendukung tersebut.

Baca juga :
Kebakaran Hutan, Jokowi Salah Semprot?

Adanya politik “kumpul kebo” (kumbo) di antara Jokowi, Prabowo, dan Megawati ini bisa jadi berkaitan juga dengan kekecewaan yang dirasakan para pendukung Ketum Gerindra tersebut. Pasalnya, Prabowo disebut-sebut akan mendapatkan posisi-posisi strategis dalam pemerintahan periode kedua Jokowi.

Dengan adanya kumbo tersebut, penjelasan Matt Sleat dalam tulisannya yang berjudul Hope and Disappointment in Politics bisa jadi benar. Faktor kepentingan agen politik turut mendorong adanya kekecewaan politik. Biasanya, dalam sistem partai, aktor politik akan melakukan manuver-manuver politik demi mewujudkan kepentingannya.

Strategi PKS

Kekecewaan yang dirasakan oleh para pendukung Prabowo-Sandiaga tersebut bisa saja menjadi keuntungan bagi aktor politik lain. Dalam hal ini, PKS yang disebut-sebut menjadi partai oposisi satu-satunya boleh jadi dapat diuntungkan dengan adanya politik kumbo Jokowi-Prabowo.

PKS sendiri merupakan partai politik yang memiliki pandangan Islamis yang kuat. Terinspirasi oleh gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, PKS menjadi salah satu partai politik yang mengedepankan pandangan syariah dalam berpolitik.

Angel Rabasa dan tim penulisnya dalam buku yang berjudul The Muslim World After 9/11 menjelaskan bahwa PKS merupakan partai politik yang memiliki pandangan modernis Islam. Kelompok modernis Islam ini mengadvokasikan pemerintahan berbasis syariah.

Sunny Tanuwidjaja dalam tulisannya yang berjudul PKS in post-Reformasi Indonesia menjelaskan bahwa salah satu contoh tindakan politik PKS yang mendorong pandangan Islamis adalah dukungannya terhadap UU Anti-Pornografi.

Dari sini, bisa dibilang bahwa PKS memiliki kemiripan ideologis dengan sebagian kelompok pendukung Prabowo, seperti PA 212, Front Pembela Islam (FPI), dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) – sejumlah figurnya yang secara terbuka mendukung Prabowo.

Namun, PKS memiliki perbedaan pandangan dengan FPI dan HTI. Bila FPI kerap menggunakan cara-cara militan seperti penggrebekan, PKS dan HTI cenderung tidak mendukung penggunaan kekerasan.

PKS sendiri juga kerap memiliki pendapat yang berbeda dengan HTI, seperti dalam penegakan khilafah yang didorong oleh gerakan Hizb. Dua pihak ini juga sama-sama menjaring anggota di perguruan tinggi Indonesia.

Meskipun begitu, perbedaan pandangan ini bisa saja tidak menjadi penghalang bagi PKS untuk menjadi pembawa ekspektasi eks-pendukung Prabowo. Pasalnya, PKS sendiri juga memiliki sifat inklusif dalam sejarahnya.

Yon Machmudi dalam bukunya yang berjudul Islamising Indonesia menjelaskan bahwa gerakan Tarbiyah – gerakan Islam tulang punggung bagi PKS– memiliki sifat inklusif. Terinspirasi dari Hasan al-Banna, gerakan ini biasanya mengakomodasi individu-individu yang memiliki latar belakang kelompok Islam yang berbeda.

Sifat inklusif ini juga dibawa oleh PKS dalam melakukan manuver-manuver politiknya. Tanuwidjaja menjelaskan – dengan teori moderasi – bahwa PKS melakukan strategi moderasi. Strategi ini dilakukan dengan meluruhkan posisi ekstremnya guna menjembatani dirinya dengan pemilih-pemilih umum.

Dengan pengalaman dan sejarah PKS ini, bukan tidak mungkin teman-teman lama dan eks-pendukung Prabowo tersebut akan mengalihkan ekspektasinya kepada partai tersebut. Dengan begitu, PKS sebagai oposisi – meskipun hanya sendiri – bisa saja memperoleh kekuatan yang lebih besar akibat upaya kumbo yang terjadi.

Namun, kemungkinan akan beralihnya kelompok-kelompok tersebut ke PKS ini belum dapat dipastikan akan terjadi. Yang jelas, kekecewaan kepada Prabowo benar-benar dirasakan oleh kelompok-kelompok tersebut.

Mungkin, benar apa yang diungkapkan oleh penyanyi Gnash di awal tulisan. Teman sendiri pun dapat menyakiti hati kita, apalagi politisi. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Mari lawan polusi udara Jakarta melalui tulisanmu. Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.