Pilpres Rasa Drama Sinetron

Pilpres Rasa Drama Sinetron
Foto : Istimewa
2 minute read

“Susah jadi manusia yang manusia. Sepertinya menjadi manusia adalah masalah buat manusia.” ~ Ikhsan Skuter


PinterPolitikcom

Pakar psikologi politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menganalisis kampanye Pilpres 2019 yang sudah berlangsung sejak Oktober lalu. Ia menilai kampanye saat ini tak bergairah karena politikus malah meramaikannya dengan sensasi ketimbang substansi.

Hadeh bang-bang, yakin nih Pilpres kali ini aja yang tidak bermutu? Bukannya emang dari dulu para politisi kita nggak bermutu ya? Buktinya apa?  Tuh buktinya impor melulu, enggak bisa apa negara kita ekspor barang yang sedikit bermutu? Pusing lah bang kalau negara sudah jadi negara kapitalis dan bukan Pancasilais. Mending kapitalis tapi jadi produsennya, lah ini jadi konsumen mulu. Ehehehe.

Menurut Hamdi, tidak ada alternatif kebijakan yang ditawarkan masing-masing pasangan calon. Misalnya, kubu petahana Jokowi-Ma’ruf, tidak ada gagasan atau program alternatif yang akan dilakukan lima tahun ke depan. Lalu di kubu Prabowo-Sandi, menurut dia, kritik yang dilakukan harus berdasarkan data dan fakta. Hal ini membuat kedua kubu seolah-olah tidak ada bedanya.

Yailah bang, udah apa, jangan melulu kritik para elite politik, bosen kali dengarnya. Lagian Pilpres kali ini yang abang bilang enggak bermutu bukan salah elite politik aja kok. Bisa jadi kan ini semua karena salah kita semua yang kualitasnya rendah dan enggak begitu mau peduli sama kemajuan negara. Jadi mau enggak mau deh para elite menggunakan strategi gaya telenovela yang penuh dengan drama!

Kalau kalian sendiri gimana nih cuy, politisi banyak drama itu salah siapa? Salah kita yang kurang peduli terhadap kemajuan bangsa atau salah elite politik yang emang hakekatnya tidak punya niat untuk bangun Indonesia jadi negara maju?

Balik lagi ya gengs, menurut Hamdi, para elite politik kurang paham bagaimana adab untuk mendelegitimasi lawan adalah tentang kebijakannya. Sampai hari ini kedua kubu belum mengeluarkan argumen untuk mendelegitimasi melalui visi, misi, dan gagasan.

Sebab, kedua kubu hanya fokus delegitimasi yang berasal dari data yang hoaks, lalu menyerang karakter orang dengan data hoaks itu, seperti tuduhan PKI dan lain sebagainya. Weleh-weleh. Sayangnya lagi gengs, para pemilih seperti kita-kita ini malah menikmati dan terhanyut dalam drama yang tidak bermutu. Ckckck. (G35)