Pilkada dan Terbelahnya Alumni 212

Massa aksi 212 (Foto: Viva)
6 minute read

“Saya sebagai penasihat 212 mengatakan tidak ada istilah ‘pecah’, cuma kita akan lebih intens menasihati partai yang kita anggap koalisi umat. Koalisi umat itu Gerindra, PKS, PAN.” ~ Eggi Sudjana, Penasihat Presidium Alumni 212


PinterPolitik.com

Sungguh disayangkan, umat yang sudah bersatu padu di bawah payung 212 kini mulai terlihat terpencar. Ini nampak dari dinamika para alumnusnya jelang Pilkada Serentak 2018. Terlihat bahwa ada indikasi ketidakkompakan dari para alumnus aksi fenomenal tersebut.

Saat kasus mahar politik La Nyalla Mattalitti menyeruak, nama Garda 212 juga tiba-tiba muncul ke permukaan. Menarik, karena wadah baru alumnus 212 ini dideklarasikan berdekatan waktunya dengan pernyataan La Nyalla soal mahar politik. Ansufri Idrus Sambo sebagai Ketua Umum mengaku jika pembentukan garda ini memang terkait dengan rasa geram alumnus 212 pada pernyataan La Nyalla.

Selain menolak pernyataan La Nyalla, Garda 212 juga menyebut diri mereka sebagai wadah bagi alumni 212 yang ingin melaju ke dunia politik. Kelompok ini menyatakan dapat membantu menyalurkan para alumni ke partai-partai yang dekat dengan gerakan mereka tersebut.

Di lain pihak, keberadaan Garda 212 ini justru tidak diakui wadah alumni 212 yang muncul lebih dahulu yaitu Presidium Alumni 212. Menurut mereka, Garda 212 bukan bagian dari mereka. Presidium juga menyebut bahwa Alumni 212 sama sekali tidak terlibat aktivitas politik praktis.

Mengapa gerakan yang mengklaim mewakili umat Islam ini bisa berbeda pendapat? Padahal, selama ini gerakan mereka dianggap mampu menyatukan umat dari berbagai ormas dan golongan. Mengapa Pilkada membuat para alumni terlihat terpecah?

Beda Pendapat Soal Pilkada

Pasca aksi fenomenal 212, alumni dari gerakan ini sempat tersebar ke dalam beberapa bentuk. Ada beberapa kelompok yang ingin menyentuh kekuasaan politik secara lebih jauh dan ada juga kelompok yang tidak begitu merisaukan persoalan kekuasaan politik serta konsisten pada isu sosial-keagamaan.

Beberapa wadah sempat terbentuk bagi aksi yang mengklaim menghadirkan 7 juta orang tersebut. Di ranah politik, sempat dideklarasikan Partai Syariah 212. Selain itu, belakangan muncul Garda 212 yang dibentuk oleh Sambo dan kawan-kawan. Meski demikian, kemunculan garda nampaknya tidak disetujui oleh Presidium Alumni 212.

Jejak perbedaan pendapat antara Presidium Alumni 212 dengan Sambo sudah terlacak sejak lama. Jauh sebelum Garda 212 terbentuk, Sambo adalah Ketua Presidum Alumni 212 saat pertama kali didirikan. Meski begitu, posisinya tersebut tidak bertahan lama.

Pilkada dan Terbelahnya Alumni 212
Ansufri Idrus Sambo dan Garda 212 (Foto: Tribun)

Presidium Alumni 212 memilih ketua baru, yaitu Slamet Maarif menggantikan posisi Sambo. Langkah ini diambil setelah Sambo memimpin alumni 212 untuk melakukan aksi mendukung Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo.

Perbedaan sikap kemudian nampak kembali pada kasus mahar politik yang diungkap La Nyalla. Pada saat jumpa pers pertama kali, salah satu pentolan utama aksi 212, Muhammad Al Khaththath ikut hadir. Ia mengungkap bahwa ulama presidium telah sepakat memberikan dukungan pada La Nyalla.

Mengatasnamakan alumni 212, Al Khaththath mengaku kecewa dengan sikap Prabowo dan Partai Gerindra yang tidak mengusung nama La Nyalla. Disebutkan bahwa ada surat dari Presidium Alumni 212 yang dibawa Al Khaththath agar La Nyalla dapat diusung Gerindra. Tetapi surat tersebut ternyata tidak digubris Gerindra.

Belakangan, Presidium Alumni 212 secara resmi menepis pernyataan yang disebutkan oleh Al Khaththath. Meskipun demikian, Slamet Maarif selaku ketua tidak menampik bahwa ada tokoh-tokoh di dalam presidium yang memberikan dukungan kepada La Nyalla Mattalitti.

Pilkada dan Terbelahnya Alumni 212

Merespons hal tersebut, Sambo dan Garda 212 muncul dan melakukan pembelaan terhadap Prabowo. Ia menyebut bahwa La Nyalla sebaiknya tidak perlu membawa-bawa nama 212 pada isu tersebut. selain itu ia juga membantah bahwa Prabowo meminta mahar politik.

Menurut Sambo, Prabowo hanya menanyakan kesiapan kandidat dari segi dana. Kesiapan dari segi dana disebut sebagai salah satu syarat bagi alumni 212 untuk melaju ke dunia politik. Ini disebabkan oleh kondisi politik saat ini yang menguras biaya.

Sambo juga menambahkan bahwa ia juga kerap berperan untuk menghubungkan beberapa nama alumni ke partai-partai seperti Gerindra, PKS, dan PAN untuk diusung pada Pilkada. Ia juga menyebut bahwa Garda 212 yang dideklarasikan akan berperan untuk menyalurkan para alumni 212 untuk menjadi calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019 mendatang.

Keberadaan Garda 212 ini kemudian memunculkan sikap dari Presidium Alumni 212. Mereka menyebut bahwa kelompok tersebut bukanlah bagian dari mereka. Mereka juga menyebut bahwa Presidium Alumni 212 belum memiliki sikap apapun terkait politik praktis khususnya Pilkada 2018.

Sambo dan Prabowo

Jika dilihat dari gerakannya, Garda 212 memang bersikap lebih politis ketimbang wadah-wadah alumni 212 lainnya. Secara khusus mereka menyebut akan menyalurkan simpatisan 212 yang ingin menjadi caleg ke partai-partai pendukung aksi yaitu Gerindra, PKS, PAN, dan PBB.

Melihat riwayatnya, Sambo sebagai ketua Garda 212 memang memiliki rekam jejak yang lebih politis ketimbang kebanyakan alumni 212 lainnya. Ia pernah mendeklarasikan diri ingin melaju menjadi calon presiden. Lebih dari itu, ia memiliki riwayat dengan salah satu tokoh politik terkemuka.

Sambo yang dikenal sebagai pegiat sholat khusyuk ini diketahui adalah guru agama bagi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Ia disebut-sebut sudah mengenal Prabowo saat di Yordania. Beberapa yang lain menyebut kedekatan Sambo dan Prabowo terjalin jauh sejak masih menjadi Danjen Kopassus.

Jika melihat riwayat ini, bisa saja publik menyimpulkan bahwa Sambo pasang badan untuk Prabowo dan Gerindra. Sambo dan Garda yang ia deklarasikan muncul untuk membela Prabowo dari tudingan La Nyalla dan alumni 212 yang lain yaitu Al Khaththath.

Aksi pasang badan Sambo bagi Prabowo ini bisa saja menjadi penanda bahwa orang-orang yang semula menjadi sponsor 212 mulai terpecah. Hal ini terutama berlaku bagi sponsor-sponsor yang berasal dari partai politik.

Gerindra -bersama PKS dan PAN- yang kerap berada satu panggung dengan pembesar-pembesar gerakan 212, nampak enggan mengusung nama yang diusulkan oleh Presidium Alumni 212. Padahal sebelumnya mereka tampak cukup mesra pada gelaran Pilkada DKI.

Bisa dilihat bahwa kepentingan Gerindra kepada kelompok 212 hanya terbatas pada kepentingan elektoral belaka. Merapatnya partai ini kepada para alumni 212 dapat diartikan hanya mengejar kemenangan pada Pilkada saja.

Hal ini dapat dilihat pada pilihan Gerindra yang memilih bersekutu dengan PDIP pada Pilgub Jatim. Padahal, PDIP adalah musuh bebuyutan bagi para peserta aksi besar. Partai berlogo banteng tersebut kerap disebut sebagai partai pendukung penista agama.

Prabowo bisa saja ingin memberikan pernyataan bahwa dirinya tidak dapat didikte oleh kekuatan manapun dalam pemilihan calon untuk Pilkada. Hal ini berlaku juga para alumni 212 yang selama ini dekat dengannya.

Meski memilih calon yang berseberangan dengan Presidium Alumni 212, Prabowo dan Gerindra nampaknya sulit melepaskan diri dari kebutuhan massa aksi ini. Siapapun pasti akan tergoda dengan kemampuan para alumni dalam mengumpulkan dan memobilisasi massa.

Melihat kondisi itu, kemunculan Garda 212 yang membela Prabowo dapat dikatakan wajar. Prabowo dan Gerindra ingin tetap memperoleh dukungan dari para alumni 212 meski menolak mendukung calon yang disodorkan oleh kelompok alumni lain. (H33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here