Perang Santet di 2019

Perang Santet di 2019
Ilustrasi Santet. (Foto: Istimewa)
6 minute read

Ancaman seorang paranormal berjulukan “Harimau Jawa” untuk menyantet Prabowo Subianto, membuka perdebatan tentang hubungan antara dunia klenik dengan politik. Akankah terjadi pertarungan paranormal pada Pilpres 2019 nanti?


PinterPolitik.com

“But I do believe in the paranormal, that there are things our brains just can’t understand.”

– Art Bell, penyiar –

Awal minggu ini publik dikejutkan dengan beredarnya video dari seorang pria berjulukan “Harimau Jawa”. Pria yang diketahui berprofesi sebagai paranormal tersebut menyebut dirinya kecewa dengan pernyataan Prabowo Subianto yang meramalkan Indonesia akan hancur pada tahun 2030. Sebelumnya, dalam sebuah pidato politik, Prabowo sempat meramalkan bahwa sebagai sebuah negara, Indonesia akan hancur pada 2030.

Akibatnya sang Harimau Jawa menyebut akan menyantet Prabowo dan membuat mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus itu menderita. Bahkan ia menyebut sakit stroke yang menimpa Prabowo adalah akibat perbuatan dirinya.

Belakangan, pria tersebut diketahui bernama asli Ario Candra Ari Wibowo dan memang merupakan seorang paranormal di Kediri, Jawa Timur.

Akibat pernyataannya tersebut, reaksi bermunculan dari banyak pihak, terutama dari para pendukung Prabowo. Banyak dari antaranya yang mengancam balik Ario Candra, termasuk membenturkannya dengan ajaran agama – kembali membuka benturan politik dengan basis agama lagi.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR sekaligus juga Wakil Ketua Partai Gerindra, Fadli Zon, menduga aksi Harimau Jawa terjadi karena disuruh oleh orang, bahkan sangat mungkin dilakukan oleh lawan politik Prabowo. Menurutnya tidak mungkin orang tersebut mengeluarkan pernyataan yang demikian atas kehendaknya sendiri.

Terlepas dari kontroversi pernyataan Ario, nyatanya kasus ini kemudian memunculkan perdebatan tentang kiprah paranormal dalam politik. Apakah memang dengan sebegitu rasionalnya dunia politik, hal-hal klenik masih memiliki peran yang besar? Mungkinkah pertarungan politik di 2019 nanti juga akan melibatkan paranormal dan hal-hal berbau klenik?

Klenik dan Politik

Tidak ada yang meragukan bahwa politik adalah dunia yang rasional. Rasionalitas itu misalnya tergambar dalam pendekatan macam rational choice yang biasanya dipakai untuk menganalisis perilaku politik entitas tertentu.

Namun, pada titik tertentu, ketika berhadapan dengan cara-cara untuk mencapai kekuasaan, politik sangat mungkin keluar dari gagasan rasional, dan beralih pada hal-hal yang cenderung metafisik. Bahkan tidak jarang berujung pada sesuatu yang mistis atau klenik. Hal-hal tersebut sekalipun tidak rasional – tidak mampu dijangkau akal sehat – tetapi tetap dijalankan asalkan kekuasaan dapat diraih.

Perang Santet di 2019

Faktanya, politik dan dunia klenik atau paranormal atau bahkan perdukunan punya hubungan yang kuat sepanjang sejarah manusia. Di negara-negara yang memandang rasionalitas  dalam kerangka berpikir filsuf macam Rene Descartes (1596-1950) dengan ungkapannya yang terkenal “cogito ergo sum” – artinya ‘saya berpikir maka saya ada’ – hal-hal klenik dan mistis pada titik tertentu masih punya tempat tersendiri.

Bahkan, banyak di antaranya yang justru mempengaruhi tokoh-tokoh politik dan pemimpin besar sepanjang sejarah atau mereka-mereka yang dianggap paling rasional.

Presiden ke-16 Amerika Serikat (AS), Abraham Lincoln misalnya, merupakan salah satu pemimpin yang percaya bahwa hal-hal supernatural punya hubungan dengan kekuasaan politik seseorang. Kisah tentang perempuan muda bernama Nettie Colburn yang disebut sebagai medium komunikasi Lincoln dengan dunia lain masih menjadi perbincangan hangat hingga hari ini.

Hal serupa juga dipercaya terjadi pada beberapa Presiden AS setelahnya. Presiden Ronald Reagan misalnya, disebut mengadopsi pemikiran tentang mistisisme dari buku “The Secret Teachings of All Ages” yang ditulis oleh ahli ilmu gaib Manly P. Hall ketika mengambil kebijakan politik.

Di belahan bumi lain, diktator besar sekelas Adolf Hitler pun disebut menaruh kepercayaan terhadap peran paranormal dalam melanggengkan kekuasaannya. Hitler menggunakan jasa cenayang bernama Erik Jan Hanussen sebagai salah satu penasehat kebijakan-kebijakannya. Erik disebut-sebut selalu hadir ketika Hitler membuat kebijakan politik tertentu.

Menariknya, Erik adalah cenayang berdarah Yahudi – etnis yang oleh Hitler direpresi habis-habisan di Jerman. Hitler nyatanya sangat percaya pada hal-hal klenik, termasuk dengan mengoleksi pusaka tertentu.

Hal serupa juga terjadi pada Kaisar terakhir Rusia, Tsar Nicholas II yang menjadi salah satu pemimpin besar yang begitu mempercayai paranormal. Sebagai penasehat Tsar Nicholas II, Gregori Rasputin mungkin menjadi salah satu cenayang paling terkenal dalam dunia politik. Ia menjadi orang yang ikut menentukan kebijakan politik sang Kaisar.

Menariknya, pasca Revolusi Bolshevik yang menurunkan Tsar Nicholas II, posisi paranormal dalam politik masih terus kukuh di kepemimpinan-kepemimpinan selanjutnya di Uni Soviet. Joseph Stalin misalnya dikenal mempercayai nasehat-nasehat dari seorang paranormal bernama Wolf Messing. Messing dijuluki sebagai “penyihir” pada zaman itu, bahkan juga ditakuti oleh Hitler, dan nasehat-nasehatnya sangat diperhatikan oleh Stalin.

Masih banyak daftar pemimpin dunia yang mempercayai hal-hal klenik. Bahkan di era saat ini, tokoh macam mantan Presiden Korea Selatan Park Geun-hye disebut-sebut punya paranormal bernama Choi Soon-sil yang menjadi penasehatnya. Nama terakhir disebut-sebut sebagai penyebab Park terkena skandal korupsi yang mengakhiri masa jabatannya.

Pada Pemilu AS 2016 lalu pun, peran paranormal juga disebut-sebut ikut andil, setidaknya menurut beberapa pihak. Penasehat politik Presiden Donald Trump, Steve Bannon disebut-sebut sebagai orang yang sangat percaya pada hal-hal mistis dan klenik.

Fakta ini jelas menunjukkan bahwa di negara demokrasi modern macam AS pun, hal-hal klenik dan mistis – yang seringkali tidak rasional – masih dianggap punya dampak yang besar terhadap politik.

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Nyatanya, Presiden yang paling lama berkuasa di negeri ini, Soeharto, adalah orang yang sangat percaya pada peran paranormal atau hal-hal yang berbau mistis.

Saat berkuasa, Soeharto menggunakan jasa Sudjono Humardani dan sekitar 200-an paranormal sebagai penasehat politiknya. Bahkan, saat itu muncul istilah “menteri mistis” yang disematkan pada Sudjono. Soeharto juga mempunyai koleksi 2000 lebih pusaka – hal yang lagi-lagi menunjukkan bahwa mistisisme benar-benar mewarnai 32 tahun kekusaan sang presiden.

Dengan banyaknya pemimpin yang masih menaruh kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat klenik dan mistis, jelas menunjukkan bahwa politik – bahkan bagi yang beragama sekalipun – masih menganggap kekuatan lain di luar kampanye program kerja atau strategi politik menggaet pemilih misalnya, sebagai hal yang punya pengaruh besar terhadap probabilitas kemenangan dalam Pemilu atau eksistensi tokoh berkuasa.

Hal ini menarik karena melahirkani benturan dengan makin kuatnya strategi politik yang berbasis pendekatan ilmiah, katakanlah yang dilakukan oleh konsultan-konsultan politik. Pertanyaannya adalah metode mana yang akan menang?

Perang Paranormal di 2019?

Munculnya pria berjuluk Harimau Jawa memang menimbulkan spekulasi, akankah pertarungan politik di 2019 juga akan menjadi ajang “pertarungan” kehebatan paranormal. Yang jelas, jika berkaca pada Pemilu 2014 lalu, nyatanya jasa paranormal laris manis menjelang gelaran politik tersebut.

Paranormal macam Ki Joko Bodo misalnya, mendapatkan begitu banyak klien politisi yang resah dan memohon petunjuk atau strategi pemenangan darinya. Sebagian besar merasa kurang percaya diri dengan kapasitas politiknya, sehingga mengalihkan pandangan pada dukungan paranormal, ketimbang menggunakan jasa konsultan politik.

Menariknya, belakangan ini politik yang makin rasional – katakanlah dengan hadirnya makin banyak lembaga konsultan politik – tetap tidak menyurutkan posisi paranormal. Politisi umumnya tidak percaya diri jika belum datang meminta nasehat dari seorang paranormal, demikian yang pernah disampaikan oleh mantan politisi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul.

Artinya, strategi kampanye untuk Pilpres 2019 pun akan ikut terpengaruh. Tinggal menunggu kubu mana yang paranormalnya paling kuat dan jampi-jampinya paling sakti. Publik akan menyaksikan bagaimana metode Ki Joko Bodo misalnya akan berhadapan dengan strategi berbasis survei politik ala konsultan macam Eep Saefulloh. Menarik untuk ditunggu hasilnya. (S13)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here