Perang Puisi Fadli vs Irma

puisi fadli zon
Fadli Zon. (Foto: Sumber)
2 minute read

“Semua bahasa bersifat retoris, dan bahkan rasa adalah syair.” ~George Santayana


PinterPolitik.com

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon itu sebenarnya penyair atau politikus sih? Atau dua-duanya? Kok ya sering banget main sindir-sindiran dalam syair. Sungguh komunikasi politik yang amat nyeni sekali ya. Wkwkwkwk.

Ngomong-ngomong kalian sudah baca belum gaes, puisi Fadli Zon yang berjudul ‘Ada Genderuwo di Istana’? Iya, katanya genderuwonya berewokan gitu. Kalau genderuwo berewokannya  kaya Adam Levine mah aku suka. Tapi sebenarnya doi lagi nyindir siapa sih? Wkwkwk.

Konon, puisi tersebut dibuat Fadli Zon atas permintaan para followernya pasca mendengar istilah genderuwo dari presiden Joko Widodo yang kala itu sedang membagikan sertifikat tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Genderuwo tersebut merupakan sindiran Jokowi untuk politisi yang dinilai suka menakut-nakuti rakyat.

Nah, menariknya, puisi politikus Gerindra tersebut dijawab dengan puisi juga oleh politikus Partai NasDem dengan judul ‘Ada Kacung Jadi Ratu’. Ededehh, seru amat ini pada perang puisi. Kira-kira puisinya boleh masuk di soal bahasa Indonesia Ujian Nasional tahun depan nggak? Wkwkwkwk.

Ternyata yang namanya debat politik, mau pakai sair tetap pedas di telinga ya. Boro-boro indah... Click To Tweet

Ketua DPP Partai NasDem Irma Suryani Chaniago, menulis puisi terebut dengan menyebutkan ada kacung jadi ratu, kacung yang chubby dan suka berpuisi. Wededewww… ngeri bo’. Ini yang lagi disindir politisi atau penggemar berat Cherrybelle ya? Ehh, itu mah chibi chibi chibi ha ha haakkk..

Hmmm…. Krik krik krik……

Ya, siapakah orang yang ia sindir, Irma nggak mau menyebutkan secara gamblang. Kalau kalian kepo, katanya suruh tanya rumput yang bergoyang aja. Lah, itu rumput apa penyanyi dangdut? Ehhhh…

Kalau Fadli Zon sih katanya nggak merasa tersindir. Doi cuma menegaskan kalau dirinya bukan kacung, tapi salah satu pimpinan di partainya. Fadli malah mengira kalau Irma sedang membicarakan dirinya sendiri.

Dibanding menebak-nebak siapa sosok ‘kacung chubby‘ yang dimaksud dalam puisi tersebut, Fadli lebih tertarik untuk mengingatkan Irma agar lebih giat belajar membuat puisi dengan baik dan benar.

Beuuuhh, gini nih kalau keponakannya penyair terkenal Taufik Ismail perang membuat puisi. Lawannya suruh belajar lagi. Wkwkwk… Eh, tapi bolehlah diajarin dulu mbaknya. Biar perangnya makin berseni gitu. (E36)